Posted: February 22, 2008 at 23:10:00 by Dani Iswara. Words count: 350.
Last updated: May 22, 2008 at 13:30:41.
Jika belakangan marak pemberitaan Medical Googler vs Medical Doctor, kini saya melihatnya dari sudut pandang Medical Googler vs Medical Blogger. Klasik dan konvensional, bahwa memang tidak semua dokter akrab dengan komputer dan Internet. Tetapi bukan berarti pengetahuan medis kedokteran dan keilmuannya kurang baik. Sekalipun dokter tersebut bertugas di daerah terpencil. Ada banyak jalan untuk memutakhirkan/memperbaharui ilmu. Konsultasi via dokter senior dengan telepon, pengalaman empiris praktik, buku teks yang masih bisa dijadikan acuan, panduan terapi, syukur-syukur jika akses Internet tersedia di pusat kota.
Suatu ketika nampaknya akan terjadi konfrontasi antara pasien pencari informasi kesehatan di Internet, terutama melalui mesin pencari Google (Medical Googler), dengan dokter. Terlebih lagi jika dokternya tidak mengantisipasi perkembangan Internet kedokteran saat ini. Dengan keilmuannya, dokter tentu saja masih akan dapat memperoleh kepercayaan pasien..yaa ngeles dikit-dikit asal masuk akal.. :)
Lalu bagaimana peranan Medical Blogger?
Medical Blogger jika boleh saya sederhanakan, pengelola blog dari kalangan medis kedokteran. Termasuk mahasiswa kedokteran, dokter umum, dokter keluarga, dokter gigi, spesialis. Entah jika nanti berkembang pula istilah lainnya seperti Veterinary Blogger, Public Health Blogger, Nursing Blogger, Nutritionist Blogger, Surgical Blogger, Medical Coder Blogger, dan sebagainya..
Saat informasi kesehatan dan kedokteran makin berlimpah di Internet, Google membuat algoritma (Google PageRankā¢) untuk kepuasan penggunanya. Paling tidak pencari informasi kesehatan di Internet (Internet/online health seeker) seharusnya cukup menelusuri beberapa halaman awal hasil pencarian Google. Atau langsung menuju direktori kesehatan dan memilih situs kesehatan yang sudah dikenal dan dipercayai publik.
Mungkin benar bahwa pengunjung masih malas atau belum memahami pentingnya melihat status atau identitas pengelola suatu situs kesehatan. Jika terbaca ada gejala atau keluhan penyakit serupa seperti yang termuat dalam suatu halaman web, pengunjung lalu cepat percaya. Bahkan makin was-was dengan efek samping pengobatan dan komplikasi penyakit yang dibacanya. Hingga pasien tidak mau diobati dengan obat tertentu. Pasien juga mulai tidak mempercayai nasihat dokternya untuk menjalani perawatan.
"Katanya di Internet, penyakit ini...bla...bla...bla..."
"Dokter anu di blognya bilang obat ini bisa nyebabin...bla...bla...bla..."
Di Indonesia, tidak/belum ada organisasi yang mengesahkan/melegalkan suatu situs kesehatan/kedokteran. Paling tidak serupa dengan
HONcode.
Lalu siapa yang menjembatani Internet health seeker dengan praktisi medis di lapangan?
Ya. Medical Blogger bisa melakukannya [serious mode on]..
Caranya gemana ya..??
Jadi Medical Googler dan Medical Blogger bisa akur.. :)
Share on: Delicious™ | Digg™ | Facebook™ | Twitter™.
Just unessential weblog
Dani Iswara, mail me: [myfirstnamelastname]@gmail.com.
Comment by Deddy on March 15, 2008 at 16:31:35
using Firefox 2.0.0.12 on Windows XP
Wah asik juga nih istilah Medical Googler ;)
Comment by Dani Iswara on March 15, 2008 at 17:55:11
using Firefox 2.0.0.12 on GNU/Linux
Deddy:
di medical banyak istilah ya..2.0 dipake, google iya, medblogger ada, open medicine.. :)
Comment by draguscn on July 22, 2008 at 05:22:38
using Firefox 3.0.1 on Windows Vista
Mungkin emang perlu ada sistem yg bisa menjembatani kesenjangan teknologi yang sekarang terjadi .. misalnya .. setiap seminar, PKB, simposium diwajibkan menyertakan materi teknologi informatika kedokteran ie medical blogging, journal etc ..
Kapan kira-kira ya terwujud .. sekarang aja rasanya udah banyak energi terkuras untuk menumbuhkan simpus. hhhh ..
Comment by dani on July 22, 2008 at 13:24:54
using Firefox 3.0 on Windows XP
- draguscn:
yg simpus, simpus dulu..tgt kebutuhan masing2 kan dok.. :)
sebenarnya sudah ada yg memulai dari masing2 fakultas utk pengenalan materi informatika kedokteran..