Dari Seminar eHealthcare di JIH (Sesi 2)
April 21, 2008 – 9:45 am by Dani IswaraTulisan sesi 2 ini kelanjutan dari tulisan sebelumnya, Dari Seminar eHealthcare di JIH (Sesi 1) dalam rangka Hari Ulang Tahun JIH yang pertama.
Jika anda baru pertama kali mengunjungi halaman ini, silakan menelusuri tulisan pertama tersebut.
Sesi kedua dimoderatori oleh dr. Ronny Novianto, M.Kes.
Anis Fuad, DEA
(Dosen Minat SIMKES UGM)
Mengantarkan topik Adopsi Teknologi Informasi dalam Pelayanan Kesehatan: Mengapa Gagal? Mengapa Berhasil?, beliau memulai dengan pengenalan beberapa istilah terkait. Ada ‘e-gov’, ‘e-health(care)’ (’e-health’ lebih luas dibanding ‘e-healthcare’), ‘e-hospital’, ‘e-prescribing’, ‘e-consultation’, ‘m-learning’, ‘m-health(care)’, dimana e=’electronic’, m=’mobile’ dan ada juga yang menyebutkan dengan awalan u=’ubiquitous’.
Berikutnya disampaikan makin banyaknya puskesmas yang telah menerapkan sistem informasi berbasis komputer, baik standalone, terhubung dengan local area network maupun wide area network.
Secara elektronik pula, rekam medis (RM) mendapat tambahan perlindungan hukum dengan disahkannya Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
Adopsi TI dalam pelayanan kesehatan merupakan suatu inovasi. Dalam perluasan dan penerapannya tetap mengikuti prinsip / fase difusi informasi (individu dan organisasi). Adopsi pada individu, dikenal adanya fase pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi dan konfirmasi.
Disampaikan juga mengenai Hype Cycle menurut Gartner. Ada fase awal yang menimbulkan ketertarikan terhadap suatu teknologi (technology trigger), diikuti fase puncak (peak of inflated expectations) dimana muncul pengharapan berlebihan. Jika menghasilkan kegagalan, teknologi itu akan ditinggalkan dengan cepat (through of disillusionment). Tetapi para peneliti tetap berusaha mencari strategi lain terkait teknologi tersebut (slope of enlightenment). Pada fase kemapanan teknologi, banyak kalangan telah menerimanya. Berlanjut ke generasi kedua / ketiga, dan seterusnya hingga target pasar tertentu (plateau of productivity).
Kegagalan adopsi TI bisa terkait dengan produknya sendiri yang dianggap gagal. Bisa juga karena kegagalan sistem. Beberapa contoh di lapangan, misalnya komputer yang seharusnya diperuntukkan sebagai penunjang sistem informasi digunakan untuk permainan komputer, digunakan bukan oleh petugas terkait, ada satu operator harus bekerja dengan 2 unit komputer yang masing-masing memiliki 2 aplikasi (sistem informasi) berbeda (termasuk belum terintegrasinya peranti lunak Askes dan sistem informasi keuangan institusi pelayanan kesehatan). Ada juga yang telah memiliki aplikasi sistem keuangan, tetapi ternyata tidak memenuhi kebutuhan RS.
Hingga Pak Anis memunculkan istilah elekctronic Healthcare.
Ukuran kegagalan / keberhasilan dapat meliputi administratif, teknis, pengguna, fungsi, dampak. Lebih banyak tergantung pada aspek organisasional. Kegagalan dapat bersifat alamiah sebagai bagian dari sistem yang mengalami penuaan. Adopsi TI terkait juga dengan aspek validasi, seleksi dan implementasi.
Kemampuan adaptasi, aspek politis, maturitas teknologi dan taktik manajemen sangat dibutuhkan sebagai strategi implementasi untuk mencapai keberhasilan. Walaupun tetap ada risiko kegagalan.
dr. Gogot Suyitno, Sp.Rad., Sp.KN
(Tim TI RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta)
Beliau sebagai salah satu bagian dari tim TI RS Dr. Sardjito yang terlibat langsung, menceritakan Pengalaman Penerapan Teknologi Informasi di RSUP Dr. Sardjito (RSDS).
Menyadari kondisi pra-SIMRS (Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit) berbasis TI dan kelemahan sistem manual, RSDS mulai mengembangkan (swakelola) SIM (1994). Berbagai kegagalan menghampiri. Bertahap, RSDS menyusun landasan dan restrukturisasi kebijakan. Hingga menetapkan tujuan pengembangan SIM di RSDS yaitu “Pengembangan menuju Integrated Computerized HIS dengan Fiber Optic Backbone Infrastructure“.
Proses pengembangan pun bersifat ‘cyclic’, senantiasa dievaluasi dan disesuaikan.
Dalam perspektif organisasi (RS), SIMRS merupakan:
- sumber daya sekaligus beban biaya,
- salah satu penentu efisiensi dan produktivitas,
- sumber informasi utama untuk mendukung pengambilan keputusan,
- sumber informasi penting dalam pengembangan produk layanan.
Alternatif pengembangan yang dicoba meliputi mengembangkan sendiri (in house development; swakelola), knowledge service outsourcing kerjasama operasional (KSO), atau membeli paket jadi. Masing-masing alternatif dipertimbangkan keuntungan dan kerugiannya.
Sumber daya yang dibutuhkan diantaranya desainer, integrator dan analis sistem, analis program atau pengembang, administrator basis data (basisdata) serta administrator jaringan dan sistem dengan spesifikasi tertentu.
Infrastruktur disiapkan, kebutuhan pengembangan pun dianalisis sesuai tren yang ada.
Akhirnya ditetapkan untuk bermitra melalui KSO yang melibatkan tenaga ahli (non dokter) dari luar RS. Alasannya, lebih dapat dipercaya / diandalkan (reliable), risiko kegagalan operasional dan investasi rendah. Bukan sekadar tailor made dari tempat lain yang sudah mengimplementasikan, tetapi hendaknya yang mendukung kustomisasi.
KSO model sewa pakai dipakai dengan dasar:
- RS tetap fokus pada bisnis inti pelayanan kesehatan
- SIMRS termasuk investasi berisiko tinggi (terutama swakelola)
- jika gagal, modal tidak membebani RS
- dengan KSO, alokasi biaya dapat dialokasikan pada bisnis inti lainnya
- dependency merupakan tantangan
Instrumen pengendalian pengembangan SIMRS disiapkan, baik berupa dokumen kontrak, rencana pengembangan, kebijakan dan peraturan terkait.
Bagaimana memilih mitra KSO yang “ideal”? RSDS lebih memilih badan usaha dengan bisnis inti SIMRS yang sanggup memberi komitmen pelayanan jangka panjang, memahami proses bisnis RS dan memiliki pengalaman serta penampilan yang telah teruji di RS setara.
SIMRS hendaknya mampu memperlancar proses bisnis RS, mendukung manajemen, fleksibel menghadapi perkembangan bisnis RS. Pelanggan pun akan menerima pelayanan kesehatan yang lebih akurat, cepat, transaksi internal yang praktis dan aman.
Bambang Pediantoro, SE, MM
(Senior Manajer Umum & Keuangan Jogja International Hospital [JIH])
Selaku tuan rumah, beliau menyampaikan tentang Implementasi Teknologi Informasi di JIH + Demo. JIH berada di bawah PT Unisia Medika Farma yang 100% sahamnya dimiliki oleh Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Menerapkan konsep manajemen syariah.
Saat ini telah diterapkan antrian pasien elektronik, SIMRS, terkoneksi Internet dengan kabel maupun nirkabel.
Dalam pengembangannya, JIH mengadopsi sistem pembayaran / keuangan dari RS OMC (Omni Medical Centre) Jakarta yang dikembangkan menjadi berbasis rekam medis. Dilakukan juga swakelola berbasis rekam medis meniru sistem di RSPJ (RS Pertamina Jaya) Jakarta.
Bagian utama SIM JIH meliputi rawat jalan, rawat inap, penunjang medis, farmasi & gudang umum, keuangan.
Saat awal implementasi, belum semua dokter (mau; sanggup) menggunakan SI yang tersedia, sehingga berlangsung sistem manual dan elektronik berbarengan. Penerapan TI difokuskan pada penyelenggaraan farmasi dan pembayaran.
Untuk menerapkan TI menyeluruh pada tiap layanan di JIH, diterapkan juga pola “dokter entry”. Walaupun diakui, pola ini kadang berubah menjadi “perawat entry”. ![]()
Disebutkan bahwa tidak semua dokter menyadari betapa pentingnya fungsi dokter dalam pelaksanaan sistem TI di JIH.
Sistem yang diadopsi dari RS lain dikembangkan oleh Tim TI JIH secara bertahap sesuai kebutuhan RS.
Implementasi masih gabungan elektronik dan cara manual (sebagai cadangan). Nantinya cara manual akan dikurangi bertahap sejalan dengan meningkatnya komitmen operator.
Hingga sekarang, perawat sekaligus sebagai operator dalam memasukkan data medis. Telah terjadi integrasi bagian depan dengan bagian pelayanan di masing-masing unit. Diharapkan sistem TI di unit rekam medis mengarah pada Decision Support System, integrasi perangkat penunjang diagnostik, kontrol jarak jauh atau dukungan pada pengambilan keputusan tanpa berada di RS serta pemeliharaan jaringan yang lebih optimal.
Diskusi Sesi 2
Diskusi menyinggung penggunaan standar ICD-10 dalam prosedur medis seperti yang digunakan pula oleh INA-DRG.
Terkait “perawat entry” dan isu medical error, disampaikan bahwa dokter yang bertugas tetap memegang tanggung jawab terhadap segala keterangan medis yang dimasukkan oleh perawat (sebagai operator). Pada prinsipnya, tiap dokter memiliki kode akses / sandi lewat tersendiri. Hal ini tentu akan menjadi perhatian tersendiri dimana UU ITE telah disahkan.
Terkait dengan akses informasi kesehatan dan kedokteran yang ubiquitous (dikaitkan juga dengan sesi 1; e-commerce, rekam medis elektronik, hasil lab elektronik, jaringan terkoneksi [online]), ada pertanyaan yang saya sampaikan pada sesi diskusi (saat itu mungkin ada yang kurang jelas pada pertanyaan saya, maklum jam rawan…).
Misal seorang pasien (sebagian adalah kisah nyata) memiliki riwayat sakit yang agak panjang. Sudah pindah-pindah berobat karena lokasi tempat tinggal dan proses terapi. Susah juga jika dia harus “memutar kasetnya kembali” tiap konsultasi dan berobat.
Sambil menunggu single ID number, chip ID, dia (membayangkan) mengakali dengan merekam atau mencatat keluhan dan riwayat sakitnya, alerginya (obat dan makanan), di telepon seluler, PDA (personal digital assistant) dan buku saku kecilnya. Juga menyimpan berkas rekam medisnya di flashdisk dan berkas tercetak.
“Dok, boleh saya salin RM saya ke flashdisk?”
“Dok, boleh saya salin RM saya ke telepon seluler (kartu memori) saya?”
Tentu melalui prosedur tertentu sesuai kebijakan penyedia layanan kesehatan (mengingat isi rekam medis adalah milik pasien; fisik rekam medis milik pemberi layanan kesehatan).
Jadi dokter pelayanan kesehatan yang memiliki komputer tapi belum terkoneksi dengan layanan kesehatan tempatnya berobat dapat membaca “RM elektronik”-nya.
Lebih enak lagi jika memang transfer data RM menggunakan format standar (cukup plain text seperti SMS Gateway atau bahkan XML). Semudah backup blog dengan XML.
Seminar ditutup dengan penyampaian kesimpulan oleh Prof. Hari Kusnanto.
Seminar ini diselenggarakan oleh SIMKES UGM bekerja sama dengan Jogja International Hospital dan didukung oleh :
Selamat Ulang Tahun yang pertama (20 Maret 2008) untuk Jogja International Hospital.
Last updated: Wednesday, April 23, 2008 at 12:32 pm
Taken from: Dari Seminar eHealthcare di JIH (Sesi 2) by Dani Iswara (Dani Iswara .Net).











Using
KSO bukannya kerjasama operasi?
Coba liat Pemilihan SIMRS.
Nanti resumenya dimuat di buletin SIMKES lagi ya Dan…
Using
Pak Anis:
manut pak..
nuwun pak, updated..
Using
bagus sekali info nya. upadate terus dokter dani.kita butuh yang begini buat masa depan..
Using
Alo om dokter…
Pengen ngasih info nih… Saya baru aja buat blog khusus anak FK. Mohon saran dan kritiknya yah…
Yah, blog ini sebagai tempat kumpulnya para mahasiswa kedokteran. Masih belum ada apa-apanya sih. Entar 2 atau 3 minggu lagi baru bener-bener jadi dengan desain sendiri dan berbagai fasilitas lainnya.
Langsung aja ke http://www.anakFK.com
Fadli Wilihandarwos last blog post..Mau Fasilitas Apa ?
Using
Salam kenal Pak Dani. Trims atas wacana yang anda sampaikan, saya sedang membangun aplikasi rekam medis untuk dokter praktek, apakah ada standar khusus mengenai rekam medis untuk dokter praktek? Dimana saya bs mendapatkannya? Untuk sistem farmasi Alhamdulillah sudah diaplikasikan di bbrp apotek dan PBF di region Purwokerto dst. Trims.
Using
Benny Damarhadi:
Salam kenal juga Pak Benny.
Sependek yang saya tahu, standar diagnosis menggunakan ICD-10.
Coba ke situs dosen saya ranocenter.net
sepertinya disana beliau sudah mengunggahnya
semoga membantu dan sukses selalu utk timnya..