Dari Seminar eHealthcare di JIH (Sesi 1)
Posted: April 20, 2008 at 15:59:14 by Dani Iswara. Words count: 827.
Last updated: July 10, 2010 at 00:59:32.
Prof. dr. Hari Kusnanto, DrPH
(Ketua Minat SIMKES UGM dan Direktur Program Studi S2 IKM UGM) Prof. Hari Kusnanto membawakan topik berjudul e-Healthcare : Mengadopsi Teknologi Informasi dalam Pelayanan Kesehatan. Beliau menekankan bahwa 'e-health' (sering juga ditulis 'ehealth', 'eHealth' atau 'e-Health') sebaiknya dipandang sebagai suatu pola pikir, sikap dan komitmen dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Bukan sekadar komputer dan jaringannya, halaman web atau hanya sebatas infrastruktur komunikasinya saja. E-health didorong oleh faktor penghematan (efisiensi biaya pelayanan kesehatan yang makin meningkat), tuntutan keselamatan pasien, harapan kualitas, perlunya pendukung keputusan klinis (di tengah pola penyakit yang semakin kompleks), serta adanya peluang pengembangan berbasis TIK. Di era pelayanan kesehatan berbasis informasi ini, digambarkan dengan penyedia layanan yang aktif mempromosikan kesehatan, bukan sekadar mengelola penyakit. Tenaga profesional mendukung upaya mandiri masyarakat mewujudkan kesehatannya. Tetapi bukan berarti mendiagnosis diri sendiri (self diagnosis). E-health mencakup Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS), berbagai teleheath, telecare, telemedicine, sistem pendukung keputusan klinis, surveilans kesehatan dan pembelajaran elektronik (e-learning) dalam rangka pendidikan kedokteran berkelanjutan (medical continuing education) atau pengembangan keahlian berkelanjutan (continuing professional development). Tantangan E-health diantaranya : etika (bentuk hubungan baru pasien-dokter), legalitas, keamanan, keakuratan informasi, kesenjangan digital (akses, kemampuan pakai, dukungan teknis, keragaman penerima informasi), sumber daya manusia, infrastruktur, finansial, kelangsungan kegiatan, dukungan pimpinan, partisipasi yang berkepentingan dan penerimaan e-health itu sendiri. Rekomendasi yang dianjurkan yaitu:- Ambisius tetapi praktis (think globally, act locally).
- Mengutamakan pertukaran informasi, bukan sekadar adopsi.
- Memanfaatkan yang sudah ada secara optimal. Kustomisasi sesuai kebutuhan diikuti pengembangan sumber daya manusia.
- Mengutamakan kebutuhan pengguna dan pola kerja mereka.
- Identifikasi hambatan adopsi dan pertukaran informasi.
Prof. dr. Ali Gufron Mukti, MSc, PhD
(Direktur GMC Health Center) Topik tentang Computerized Physician Order Entry (CPOE) di GMC diawali dengan pemutaran multimedia yang mengenalkan kondisi GMC dan menggambarkan suasana penerapan Sistem Informasi Klinik (SI Klinik) yang membantu meningkatkan kecepatan dan kemudahan dalam memberikan pelayanan di GMC. Dengan CPOE, petugas administrasi medis, dokter dan apoteker tinggal memasukkan data-data pasien ke dalam sistem dengan tampilan antarmuka yang akrab pengguna. Dokter pun dapat memilih keluhan pasien pada menu yang ada, hingga dituntun pada diagnosis banding, pemilihan obat, sesuai basis data pada SI Klinik. SI Klinik GMC yang dikembangkan oleh Gama Techno ini telah diadaptasi pula oleh beberapa pusat pelayanan kesehatan primer di kota lain.dr. Gideon Hartono
(Direktur Utama Apotek K-24 dan Hi-Lab Diagnostic Center) Dr. Gideon Hartono membagi pengalaman beliau mengenai Peran SMS dan Internet dalam Pelayanan Laboratorium Klinik Mandiri. Jiwa entrepreneurship yang kental telah membawa kesuksesan pada beliau dan jaringan usahanya. Idenya berawal dari asumsi beliau bahwa sebagian besar masyarakat memiliki telepon seluler. Lima tahun lagi mungkin terjadi buta komputer = buta huruf. Dikembangkanlah pemeriksaan laboratorium dengan memadukan teknologi barcode untuk label tabung pemeriksaan, SMS gateway untuk pelaporan hasil, antarmuka berbasis web dan server web yang mampu mengelola serta menyimpan banyak data terkoneksi (online). Peran teknologi tersebut yaitu:- Sebagai media penghantar hasil pemeriksaan laboratorium.
- Pengarsipan yang ringkas. Hasil laboratorium dapat diakses kapan saja (24 jam), dimana saja, tercetak atau elektronik dan mudah diakses oleh dokter maupun pasien (ubiquitous medical information).
- Mempermudah identifikasi forensik. Hasil pencitraan radiologi tersedia via Internet, dapat diakses oleh yang berkeperluan berdasarkan kode akses.
Comment by ghozan on April 21, 2008 at 08:28:47
using Firefox 2.0.0.13 on Windows XP
hmmm kok gak ada seminar2 kayak gto di denpasar yah? mang bali lom melek IT yah?
Comment by Ady on April 21, 2008 at 08:53:14
using Internet Explorer 7.0 on Windows XP
Bisa diakses oleh publik juga?? Ada concern tentang ethical atau privacy issue??
Comment by Dani Iswara on April 21, 2008 at 10:02:45
using Firefox 2.0.0.14 on GNU/Linux
ghozan:
ada kok..ato krn dosennya ngulik warnet ama blog kali.. :)
Ady:
ada kode akses / sandi lewat..data disimpan 3 tahun di peladen (server),
tp yg namanya sistem tentu tdk ada yg 100% aman :)
Comment by FajarQimi on June 14, 2008 at 21:48:33
using Firefox 2.0.0.12 on Windows XP
Inilah Dokter yang menjadi pelopor yg melaporkan hasil seminar lengkap dan dalam.....
two thumbs up
Comment by Dani Iswara on June 14, 2008 at 22:03:41
using Firefox 2.0.0.14 on GNU/Linux
- FajarQimi:
anu..itu sekalian dipake utk buletin kampus mas dok.. :)
tq mohon bimbingannya nulis yg baik..
Comment by mr on February 5, 2009 at 04:39:36
using Firefox 3.0.5 on Windows XP
Aduuuuhhh,, seru ya.. seminarnya??
kapan di medan ya??
kasih infonya donk...??
thanks
Comment by Dani Iswara on February 5, 2009 at 04:46:23
using Firefox 3.0.5 on Gentoo
- mr:
scr pembicaranya berpengalaman, seru pastinya :)