Dari Seminar eHealthcare di JIH (Sesi 2)
Posted: April 21, 2008 at 09:45:23 by Dani Iswara. Words count: 1316.
Last updated: August 7, 2010 at 21:32:25.
Anis Fuad, DEA
(Dosen Minat SIMKES UGM) Mengantarkan topik Adopsi Teknologi Informasi dalam Pelayanan Kesehatan: Mengapa Gagal? Mengapa Berhasil?, beliau memulai dengan pengenalan beberapa istilah terkait. Ada 'e-gov', 'e-health(care)' ('e-health' lebih luas dibanding 'e-healthcare'), 'e-hospital', 'e-prescribing', 'e-consultation', 'm-learning', 'm-health(care)', dimana e='electronic', m='mobile' dan ada juga yang menyebutkan dengan awalan u='ubiquitous'. Berikutnya disampaikan makin banyaknya puskesmas yang telah menerapkan sistem informasi berbasis komputer, baik standalone, terhubung dengan local area network maupun wide area network. Secara elektronik pula, rekam medis (RM) mendapat tambahan perlindungan hukum dengan disahkannya Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Adopsi TI dalam pelayanan kesehatan merupakan suatu inovasi. Dalam perluasan dan penerapannya tetap mengikuti prinsip / fase difusi informasi (individu dan organisasi). Adopsi pada individu, dikenal adanya fase pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi dan konfirmasi. Disampaikan juga mengenai Hype Cycle menurut Gartner. Ada fase awal yang menimbulkan ketertarikan terhadap suatu teknologi (technology trigger), diikuti fase puncak (peak of inflated expectations) dimana muncul pengharapan berlebihan. Jika menghasilkan kegagalan, teknologi itu akan ditinggalkan dengan cepat (through of disillusionment). Tetapi para peneliti tetap berusaha mencari strategi lain terkait teknologi tersebut (slope of enlightenment). Pada fase kemapanan teknologi, banyak kalangan telah menerimanya. Berlanjut ke generasi kedua / ketiga, dan seterusnya hingga target pasar tertentu (plateau of productivity). Kegagalan adopsi TI bisa terkait dengan produknya sendiri yang dianggap gagal. Bisa juga karena kegagalan sistem. Beberapa contoh di lapangan, misalnya komputer yang seharusnya diperuntukkan sebagai penunjang sistem informasi digunakan untuk permainan komputer, digunakan bukan oleh petugas terkait, ada satu operator harus bekerja dengan 2 unit komputer yang masing-masing memiliki 2 aplikasi (sistem informasi) berbeda (termasuk belum terintegrasinya peranti lunak Askes dan sistem informasi keuangan institusi pelayanan kesehatan). Ada juga yang telah memiliki aplikasi sistem keuangan, tetapi ternyata tidak memenuhi kebutuhan RS. Hingga Pak Anis memunculkan istilah elekdr. Gogot Suyitno, Sp.Rad., Sp.KN
(Tim TI RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta) Beliau sebagai salah satu bagian dari tim TI RS Dr. Sardjito yang terlibat langsung, menceritakan Pengalaman Penerapan Teknologi Informasi di RSUP Dr. Sardjito (RSDS). Menyadari kondisi pra-SIMRS (Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit) berbasis TI dan kelemahan sistem manual, RSDS mulai mengembangkan (swakelola) SIM (1994). Berbagai kegagalan menghampiri. Bertahap, RSDS menyusun landasan dan restrukturisasi kebijakan. Hingga menetapkan tujuan pengembangan SIM di RSDS yaitu "Pengembangan menuju Integrated Computerized HIS dengan Fiber Optic Backbone Infrastructure". Proses pengembangan pun bersifat 'cyclic', senantiasa dievaluasi dan disesuaikan. Dalam perspektif organisasi (RS), SIMRS merupakan:- sumber daya sekaligus beban biaya,
- salah satu penentu efisiensi dan produktivitas,
- sumber informasi utama untuk mendukung pengambilan keputusan,
- sumber informasi penting dalam pengembangan produk layanan.
- RS tetap fokus pada bisnis inti pelayanan kesehatan
- SIMRS termasuk investasi berisiko tinggi (terutama swakelola)
- jika gagal, modal tidak membebani RS
- dengan KSO, alokasi biaya dapat dialokasikan pada bisnis inti lainnya
- dependency merupakan tantangan
Bambang Pediantoro, SE, MM
(Senior Manajer Umum & Keuangan Jogja International Hospital [JIH]) Selaku tuan rumah, beliau menyampaikan tentang Implementasi Teknologi Informasi di JIH + Demo. JIH berada di bawah PT Unisia Medika Farma yang 100% sahamnya dimiliki oleh Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Menerapkan konsep manajemen syariah. Saat ini telah diterapkan antrian pasien elektronik, SIMRS, terkoneksi Internet dengan kabel maupun nirkabel. Dalam pengembangannya, JIH mengadopsi sistem pembayaran / keuangan dari RS OMC (Omni Medical Centre) Jakarta yang dikembangkan menjadi berbasis rekam medis. Dilakukan juga swakelola berbasis rekam medis meniru sistem di RSPJ (RS Pertamina Jaya) Jakarta. Bagian utama SIM JIH meliputi rawat jalan, rawat inap, penunjang medis, farmasi & gudang umum, keuangan. Saat awal implementasi, belum semua dokter (mau; sanggup) menggunakan SI yang tersedia, sehingga berlangsung sistem manual dan elektronik berbarengan. Penerapan TI difokuskan pada penyelenggaraan farmasi dan pembayaran. Untuk menerapkan TI menyeluruh pada tiap layanan di JIH, diterapkan juga pola "dokter entry". Walaupun diakui, pola ini kadang berubah menjadi "perawat entry". :) Disebutkan bahwa tidak semua dokter menyadari betapa pentingnya fungsi dokter dalam pelaksanaan sistem TI di JIH. Sistem yang diadopsi dari RS lain dikembangkan oleh Tim TI JIH secara bertahap sesuai kebutuhan RS. Implementasi masih gabungan elektronik dan cara manual (sebagai cadangan). Nantinya cara manual akan dikurangi bertahap sejalan dengan meningkatnya komitmen operator. Hingga sekarang, perawat sekaligus sebagai operator dalam memasukkan data medis. Telah terjadi integrasi bagian depan dengan bagian pelayanan di masing-masing unit. Diharapkan sistem TI di unit rekam medis mengarah pada Decision Support System, integrasi perangkat penunjang diagnostik, kontrol jarak jauh atau dukungan pada pengambilan keputusan tanpa berada di RS serta pemeliharaan jaringan yang lebih optimal.Diskusi Sesi 2
Diskusi menyinggung penggunaan standar ICD-10 dalam prosedur medis seperti yang digunakan pula oleh INA-DRG. Terkait "perawat entry" dan isu medical error, disampaikan bahwa dokter yang bertugas tetap memegang tanggung jawab terhadap segala keterangan medis yang dimasukkan oleh perawat (sebagai operator). Pada prinsipnya, tiap dokter memiliki kode akses / sandi lewat tersendiri. Hal ini tentu akan menjadi perhatian tersendiri dimana UU ITE telah disahkan. Terkait dengan akses informasi kesehatan dan kedokteran yang ubiquitous (dikaitkan juga dengan sesi 1; e-commerce, rekam medis elektronik, hasil lab elektronik, jaringan terkoneksi [online]), ada pertanyaan yang saya sampaikan pada sesi diskusi (saat itu mungkin ada yang kurang jelas pada pertanyaan saya, maklum jam rawan...). :) Misal seorang pasien (sebagian adalah kisah nyata) memiliki riwayat sakit yang agak panjang. Sudah pindah-pindah berobat karena lokasi tempat tinggal dan proses terapi. Susah juga jika dia harus "memutar kasetnya kembali" tiap konsultasi dan berobat. Sambil menunggu single ID number, chip ID, dia (membayangkan) mengakali dengan merekam atau mencatat keluhan dan riwayat sakitnya, alerginya (obat dan makanan), di telepon seluler, PDA (personal digital assistant) dan buku saku kecilnya. Juga menyimpan berkas rekam medisnya di flashdisk dan berkas tercetak."Dok, boleh saya salin RM saya ke flashdisk?" "Dok, boleh saya salin RM saya ke telepon seluler (kartu memori) saya?"Tentu melalui prosedur tertentu sesuai kebijakan penyedia layanan kesehatan (mengingat isi rekam medis adalah milik pasien; fisik rekam medis milik pemberi layanan kesehatan). Jadi dokter pelayanan kesehatan yang memiliki komputer tapi belum terkoneksi dengan layanan kesehatan tempatnya berobat dapat membaca "RM elektronik"-nya. Lebih enak lagi jika memang transfer data RM menggunakan format standar (cukup plain text seperti SMS Gateway atau bahkan XML). Semudah backup blog dengan XML. :) Seminar ditutup dengan penyampaian simpulan oleh Prof. Hari Kusnanto. Seminar ini diselenggarakan oleh SIMKES UGM bekerja sama dengan Jogja International Hospital dan didukung oleh : Selamat Ulang Tahun yang pertama (20 Maret 2008) untuk Jogja International Hospital. Dani Iswara, mail me: [myfirstnamelastname]@gmail.com.
Comment by anis on April 23, 2008 at 11:42:29
using Firefox 2.0.0.14 on Windows Vista
KSO bukannya kerjasama operasi?
Coba liat Pemilihan SIMRS.
Nanti resumenya dimuat di buletin SIMKES lagi ya Dan...
Comment by Dani Iswara on April 23, 2008 at 12:35:05
using Firefox 2.0.0.14 on GNU/Linux
Pak Anis:
nuwun pak, updated.. :)
manut pak..
Comment by okanegara on April 23, 2008 at 21:36:43
using Opera 9.25 on Windows XP
bagus sekali info nya. upadate terus dokter dani.kita butuh yang begini buat masa depan..
Comment by Fadli Wilihandarwo on April 25, 2008 at 09:45:55
using Firefox 3.0b4 on Windows XP
Alo om dokter…
Pengen ngasih info nih… Saya baru aja buat blog khusus anak FK. Mohon saran dan kritiknya yah…
Yah, blog ini sebagai tempat kumpulnya para mahasiswa kedokteran. Masih belum ada apa-apanya sih. Entar 2 atau 3 minggu lagi baru bener-bener jadi dengan desain sendiri dan berbagai fasilitas lainnya.
Langsung aja ke http://www.anakFK.com
Fadli Wilihandarwos last blog post..Mau Fasilitas Apa ?
Comment by Benny Damarhadi on May 25, 2008 at 17:11:33
using Opera Mini 4.1.11320 on J2ME/MIDP Device
Salam kenal Pak Dani. Trims atas wacana yang anda sampaikan, saya sedang membangun aplikasi rekam medis untuk dokter praktek, apakah ada standar khusus mengenai rekam medis untuk dokter praktek? Dimana saya bs mendapatkannya? Untuk sistem farmasi Alhamdulillah sudah diaplikasikan di bbrp apotek dan PBF di region Purwokerto dst. Trims.
Comment by Dani Iswara on May 25, 2008 at 19:17:27
using Firefox 2.0.0.14 on GNU/Linux
Benny Damarhadi:
Salam kenal juga Pak Benny.
Sependek yang saya tahu, standar diagnosis menggunakan ICD-10.
Coba ke situs dosen saya ranocenter.net
sepertinya disana beliau sudah mengunggahnya
semoga membantu dan sukses selalu utk timnya.. :)