Memahami Web Standards Excuse
May 6, 2008 – 8:12 pm by Dani IswaraDari taut Web Standards for Skeptics - Refresh Miami (16 Mei 2007), saya menemukan tentang web standards excuses ini. Sedikit banyak kita dapat memahami pro kontra seputar standar web.
Sejalan dengan berbagai tanggapan dari tulisan Penilaian Lomba Blog Kesehatan - Kedokteran. Seperti saya duga sebelumnya bahwa tulisan itu akan dianggap terlalu teknis…apalagi bagi pemula (’always newbie’) seperti saya…hehehe…
Aslinya dimuat dalam bentuk tanya jawab.
Komentar saya menyertai tiap kuotasi.
Teknik standar web tidaklah sesulit yang kita bayangkan, justru sangat mengusung kesederhanan. ![]()
Misalnya Belajar SEO, Web Standards and Usability-based Techniques yang lebih mengutamakan pengguna.
Who Are You?
“I love web standards”
“What are web standards?”
“I hate web standards”“I don’t care about web standards.
I care about Readers, Revenue, Profit, ROI, SEO, Fast pages, Customers, Costs, Maintenance, Development, Scalability, Flexibility, Liability”
Sepertinya saya lebih memilih yang pertama.
Berikutnya, tulisan aslinya benar-benar dikemas dalam tanya jawab..
(aka “Objections & Excuses”)
“Web Standards are too much work”
* Begin small.
Setuju, mulai yang sederhana dulu. Dengan blog gratisan juga sudah bisa dilakukan. Misalnya:
- memanfaatkan
tagatributaltyang deskriptif pada gambar - keterangan teks (’anchor text’) yang deskriptif pada taut (bukan sekadar ‘klik disana’), jika perlu tambahkan menjadi seperti
<a href="..." title="...">anchor text</a> - memilih tema (’theme’) yang sesuai (rekomendasi standar web W3C)
“Too many existing pages”
* You’re already maintaining too many pages.
Maksudnya apa ya.. ![]()
Jadi karena sudah banyak yang dikelola, maka dengan standar web, pemeliharaan dan pengembangan jadi relatif lebih mudah..tolong dikoreksi ya..
“It works in browsers”
* Mobile devices? Small screens?
Di Indonesia kita tercinta mungkin belum seberapa…
“It works in IE”
* Would you tell 15% of customers to go elsewhere?
Ya, tidak juga..paling-paling pengguna dimintai tolong untuk membukanya dengan peramban selain Firefox, Opera, Camino, Safari (pokoknya selain yang sudah standar web) saja..
“Search engines don’t care”
* Yes, they do.
Untuk hasil pencarian sepertinya begitu. Mereka punya algoritma tertentu. Sayangnya, mesin pencari tidak peduli web itu memenuhi standar web atau tidak.
Tetapi, beberapa prinsip standar web juga sangat dianjurkan oleh Google WebMaster.
“Search engines don’t validate”
* They don’t care about their own SEO.
Tidak juga. Beberapa mesin pencari sudah mulai menerapkan. Misalnya (justru) MSN / MS Live.com yang valid X/HTML, CSS dan lolos tes aksesibilitas (lengkapnya ada di We don’t Need a Web Standard). Google juga mulai mengembangkan aksesibilitasnya (Aksesibilitas Mesin Pencari Google).
“…so they can’t hold it against me”
* Yes, they can.
Yang ini saya tidak mengerti. Dituntut karena situsnya diskriminasi dan tidak aksesibel? Kecuali di Amerika Serikat yang memang punya aturan aksesibilitas Section 508 untuk situs-situs pemerintahnya.
Berikut kutipannya (pendahuluan):
Section 508 refers to a statutory section in the Rehabilitation Act of 1973 (found at 29 U.S.C. 794d). Congress significantly strengthened section 508 in the Workforce Investment Act of 1998. Its primary purpose is to provide access to and use of Federal executive agencies’ electronic and information technology (EIT) by individuals with disabilities. The statutory language of section 508 can be found at www.section508.gov.
Section 508 requirements are separate from, but complementary to, requirements in sections 501 and 504 of the Rehabilitation Act that require, among other things, that agencies provide reasonable accommodations for employees with disabilities, provide program access to members of the public with disabilities, and take other actions necessary to prevent discrimination on the basis of disability in their programs.
“They’re boxy and ugly”
* Not any more.
Ya, konsep kesederhanaan standar web memang tidak selalu berupa tampilan situs web yang benar-benar polos. Ada beberapa seperti pada daftar Situs Indonesia Penganut Standar Web yang memiliki tampilan menarik (dan tidak membosankan seperti blog Dani Iswara .Net).
“Too many standards”
* Choose.
Sesuaikan dengan kebutuhan penyajian web. Dengan DOCTYPE HTML atau DOCTYPE XHTML 1.0 Transitional pun sudah baik (Memilih HTML dibandingkan XHTML).
“They are a moving target”
* Choose your target.
Ini lagi, maksudnya apa ya..
“I don’t get it”
* Hire someone who does.
Ya. Konsultasikan pada pakar yang sebenarnya. Tidak harus kita yang mengerjakan semuanya.
“Accessibility? We have no disabled users”
* Search engines are blind.
Setuju. Kasusnya serupa. Mesin pencari (sayangnya) hanya membaca (terutama) teks. Walau kini Google bisa menampilkan hasil pencarian multimedia (gambar, foto, video, animasi, suara) juga. Pasti ada pengguna ‘difabel’ yang memanfaatkan web (mis. Rama saja bisa).
“My SEO guy says”
* No comment.
Biasanya pakar-pakar aksesibilitas dan standar web paling malas jika ditanyakan masalah seputar SEO dan iklan.
“But it’s a web application”
* Hire a real programmer.
Cari pemrogram handal sekalian yang memahami standar web.
“The ads don’t validate”
* So?
Khas jawaban para pakar standar web. ![]()
Iklan Google AdSense misalnya, biasanya tidak tampil pada situs web yang diantarkan berupa application/xhtml+xml (pada peramban modern yang mengadopsi standar web), tapi tetap muncul pada peramban yang membacanya sebagai text/html (misal pada peramban MS IE).
“What’s ’semantic markup’?”
* Meaningful content.
Coba tampilkan web tanpa CSS atau sekalian lihat dengan peramban berbasis teks seperti peramban Lynx, Links atau ‘Search Engine Viewer online’. Seperti yang selama ini mesin pencari baca saat mengunjungi situs web dan blog kita.
Some Principles of Web Standards
- Separate:
- Content
- Presentation
- Behavior
- Valid code
- Meaningful markup
Setelah perambannya berlomba-lomba mengadopsi standar web versi peramban (’acidtest3′), kenapa tidak situs web dan blog menyusul?
Some Benefits of Web Standards
(Remember the blockquote at the beginning?)
- I care about:
- Readers, Revenue, Profit, ROI, SEO, Fast pages, Customers, Costs, Maintenance, Development, Scalability, Flexibility, Liability
Nampaknya tidak ada salahnya jika diterapkan.
Berikut ini teknik inti standar web yang dapat diaplikasikan.
What’s next?
- Baby Steps:
- Doctype
- Validate
- CSS for Typography
- CSS for colors & backgrounds
- Avoid meaningless
div&spanelements- Meaningful markup
Sebelum mengarah pada validasi dan seterusnya, proyek-proyek situs-situs web resmi milik pemerintah Indonesia masih banyak yang dibuat tanpa DOCTYPE.
Untuk lingkungan pendidikan sekilas nampak lebih baik.
Ada pertanyaan saya yang belum terjawab.
Mengapa (hanya) situs web sekelas ITB (yang) menerapkan standar web (panduan web resminya pernah saya kutip)?
Last updated: Tuesday, June 24, 2008 at 1:33 pm
Taken from: Memahami Web Standards Excuse by Dani Iswara (Dani Iswara .Net).











4 Trackback(s)
Top
Previous: Penilaian Lomba Blog Kesehatan-Kedokteran
Next: Istilah Blogger, Bloger, Peblog, Pemblog, Pengeblog