Puyer, Polifarmasi, Pengobatan Tidak Rasional
May 9, 2008 – 8:10 am by Dani IswaraPuyer sebagai polifarmasi dianggap sebagai pengobatan yang tidak rasional. Dokter Purnamawati S. Pujiarto, SpA(K), MMPed telah memuatnya dalam blog beliau dengan judul tulisan Berita Pers : Pengobatan Irasional Marak di Indonesia. Pada tulisan sebelumnya, Menggugat Puyer tidak Rasional, diinformasikan bahwa sejawat FKUI akan mengadakan seminar “Puyer: Quo Vadis?”.
Tulisan dr. Purnamawati tersebut menceritakan materi yang dibahas dalam seminar.
Beberapa hal yang menarik saya rangkum di tulisan ini.
Butir-butir utama tersebut diantaranya:
- pemberian sekian macam obat bersamaan pada kondisi yang tidak benar-benar dibutuhkan termasuk dalam pengobatan tidak rasional (polifarmasi)
- puyer ada yang termasuk polifarmasi
- dari 53% polifarmasi, 12% menimbulkan interaksi obat yang tidak diinginkan (Jakarta Selatan; 2005; Media Penelitian dan pengembangan Departemen Kesehatan)
- di Indonesia, 47% antibiotika dalam peresepan sebenarnya tidak dibutuhkan (survei Yayasan Orang Tua Peduli)
- peresepan puyer di luar negeri hanya sekitar 1%
- kontrol kualitas dan stabilitas obat puyer sulit dijaga, toksisitasnya pun dapat meningkat
- dibutuhkan audit profesi dan kerasionalan peresepan obat
- pemutakhiran obat dan farmakoterapi di sisi ilmiah masih kurang
- informasi obat dan farmakoterapi justru banyak diterima dari kalangan duta farmasi yang cenderung bersifat komersial.
Kesimpulan saya, sebagai dokter sebaiknya tetap mengedepankan indikasi pemberian obat.
Sebagai pasien juga lebih baik ikut menyadari bahwa tidak semua penyakit membutuhkan obat, apalagi antibiotika. Percayakan kepada dokter yang merawat. Diskusikan dengan dokter kepercayaan anda dan keluarga.
Selengkapnya silakan kunjungi taut-taut di atas.
Last updated: Sunday, May 11, 2008 at 8:05 am
Taken from: Puyer, Polifarmasi, Pengobatan Tidak Rasional by Dani Iswara (Dani Iswara .Net).











Using
Ini ngomongin apa dok? Puyer untuk sakit kepala?
sing ngerti…
Using
imsuryawan:
pasti abis minum puyer itu ya bli..
yg ini lbh ke racikan macem2 obat yg digerus utk anak2 itu..
Using
wah ponakan saya sering sakit2an dia banyak makan puyer racikan dari dokternya, aduh itu teh bahaya ato gimana?
ndak mudheng
last blog post: Duit Klik saya donk!
Using
LieZMaya:
kl emang perlu ya gpp kan mbak..silakan mencoba opini 2nd, 3rd, 4th jika belum memuaskan..tp bukan berarti harus gonta-ganti dokter, gonta-ganti obat..moga ponakannya cepet sehat lg ya
Using
Aku bukan dokter umum, so gak tau masalah ini. Tapi dulu dapet kuliah farmako juga ada peresepan untuk puyer gini. Katanya sih diberi dalam sediaan puyer agar mudah dikonsumsi oleh anak. Soalnya anak kecil kan blom bisa telan obat tablet apalagi kapsul. So, biasanya sirup ato puyer.
Bener gak?
Kalo soal antibiotik itu emang banyak dokter2 yg pengen dianggap pinter, sehingga laris, dengan jalan memberikan antibiotik dosis tinggi.
Ada pula yg memberikan hanya untuk sugesti. Dokter gigipun banyak yg seperti itu. Pasien cabut diberi obat. Padahal dalam kasus normal gak perlu.
last blog post: Ketagihan Game (bagian-1)
Using
Rosyidi:
yup..sirup, tetes, ato terpaksa puyer..kl emang bener2 perlu obat
semoga bener2 atas indikasi, bukan sekadar pesen sponsor
Using
Puyer hanya ada di Indonesia, negara lain udah meninggalkan puyer sejak dulu. Kalo emang diajarkan saat sekolah….ya kayaknya itu ilmu lama yang masih dipertahankan para dosen. Paradigma baru emang belum diterima banyak orang tapi kalo gak mulai sekarang……….kapan lagi ???
last blog post: Puyer pasti berlalu
Using
Ijang:
sambil menunggu sediaan khusus anak2 lbh lengkap tersedia di lapangan..sambil mengurangi resep obat yg irasional..biar akur ya om dok