Menggugat Puyer tidak Rasional

May 4, 2008 – 10:29 by Dani Iswara. Words count: 407.
Last updated: Friday, February 20, 2009 at 11:19.

Puyer dinyatakan termasuk penggunaan obat yang tidak rasional. Tidak sesuai dengan RUD (rational use of drugs). Kumpulan taut tulisan sejawat berikut mencoba menggugah pembaca dan ‘menggugat’ puyer.

Puyer biasanya berupa obat tunggal atau kombinasi berbentuk serbuk / bubuk yang diracik pihak apoteker atas resep dokter. Obat puyer dimasukkan dalam lipatan kertas pembungkus, kapsul, bahkan dicampur dalam sirup!

Prinsipnya, sebagian ahli kedokteran menyatakan puyer bertentangan dengan cara pembuatan obat dan peresepan obat yang standar.

Pertanyaan dan komentar seputar puyer

  • Anak anda sering diberikan obat berbentuk puyer?
  • Mengapa puyer masih digunakan di Indonesia?
  • Apakah selama ini memang ada kedokteran berbasis bukti evidence based medicine mengenai penggunaan puyer?
  • Bukankah bentuk obat tertentu (mis. tablet salut selaput) sengaja dibuat sedemikian rupa sesuai kestabilan penyerapannya?
  • Benarkah takarannya ditimbang dan dibagi dengan setepatnya (sehingga memang lama menunggu obatnya diracik dulu)?
  • Bagaimana dengan kebersihan? Sisa obat yang tercampur di mortir / blender penggerusnya?
  • Harganya tetap (malah menjadi lebih) mahal?
  • Campuran obatnya kok tidak masuk akal?

Untuk lebih jelasnya menyikapi hal di atas, silakan telusuri:

  • Gunakan Obat secara Bijak.
    Memuat wawancara Wimar Witoelar (Perspektif Baru edisi 483, 9 Juni 2005) dengan dr. Purnamawati S. Pujiarto, SpA(K), MMPaed.
    Dokter Purnamawati aktif juga di Website resmi Grup Sehat. Yang ingin bergabung silakan mengirim surat elektronik ke: sehat@yahoogroups.com.
  • Tradisi Menulis Resep Obat Perlu Dikoreksi.
    Dibawakan pada acara pengukuhan Prof. dr. Iwan Dwiprahasto, MMedSc, PhD dalam pidato berjudul “Farmakoterapi Berbasis Bukti: Antara Teori dan Kenyataan”.

Tulisan sejawat peblog bloger seputar puyer

  • Salahnya Puyer.
    Ditulis oleh dr. Arifianto. Tulisan yang sama ada juga di Multiply beliau.
    Untuk kemudahan komentar, saya tampilkan yang di blogspot saja.
  • Puyer pasti berlalu.
    Ditulis oleh dokter anak M. Rizal Altway (terima kasih dok).

Pencarian puyer tidak rasional

Atau lakukan pencarian seperti di bawah ini.
Salin tempel (‘copy-paste’) di kolom pencarian (bukan kolom alamat) Google:

  • puyer tidak rasional site:sehatgroup.web.id
  • puyer tidak rasional site:iwandarmansjah.web.id
  • puyer tidak rasional site:google.co.id

Mungkin sudah bertambah banyak juga penyedia layanan kesehatan yang berusaha mengurangi pemberian puyer.

Beberapa alasan pemberian puyer

‘Pembenaran’ berikut menyebabkan masih diresepkannya obat berbentuk puyer:

  • Untuk obat-obatan yang memang belum tersedia dalam dosis anak-anak
  • Kesulitan meminum obat sediaan (tablet, kaplet) yang ada
  • Harga obat (kombinasi) yang diharapkan bisa ditekan

Awal Mei 2008 ini sepertinya ada acara Diskusi Terbuka: “Puyer, Quo Vadis?” di FKUI. Kita tunggu beritanya dari dokter Purnamawati dan sejawat lainnya. :)

Semoga makin banyak lagi sejawat kesehatan-kedokteran yang berbagi informasi dan edukasi via Internet seperti di daftar berikut, Indonesia Health-related Blog. Dan sekarang Bloglines Kesehatan dikelola Kolektif juga.

Simak juga saat puyer meresahkan kembali (Dani Iswara .Net).

Just unessential weblog
Dani Iswara, mail me: [myfirstnamelastname]@gmail.com or use contact form.

You are free to share (copy, distribute, transmit) & adapt this blog post under the similar license (Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported; CCA-NC-SA 3.0 Unported). Please put these links on your copy:
Taken from: Menggugat Puyer tidak Rasional by Dani Iswara.

Unimportant Related/Random Posts

You may also read list of most popular posts and most popular tags of Dani Iswara .Net.

39 Responses to post titled: Menggugat Puyer tidak Rasional

  1. Comment by realylife on May 4, 2008 at 12:00:38
    using Mozilla Firefox 1.5 on Windows XP

    Alhamdulillah , semakin banyak yang berbagi , akan menjadikan negeri ini punya generasi yang sehat secara fisik dan rohani

    last blog post: Sekedar melepas lelah

  2. Comment by Dani Iswara on May 4, 2008 at 14:44:37
    using Mozilla Firefox 2.0.0.14 on GNU/Linux

    realylife:
    halo mas..selamat bagi2 foto jg.. :)

  3. Comment by Deddy on May 4, 2008 at 15:38:33
    using Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Windows XP

    selama alasan2 memberikan puyer di atas masih masuk akal… kenapa ngga?
    btw, join mail list dan forum di mana sih dok?

    last blog post: Fenomena Alexa dan Page Rank Google

  4. Comment by Dani Iswara on May 4, 2008 at 16:16:05
    using Mozilla Firefox 2.0.0.14 on GNU/Linux

    Deddy:
    mungkin hrs diakui bahwa bbrp praktik dokter Indonesia lbh ke empiris?

    kayaknya dl ada subscribe bbrp tp gak aktif lg..nonton aja..sori cock, dkk :D

  5. Comment by arif on May 4, 2008 at 17:20:46
    using Blackberry 8707

    Puyer ternyata bukan praktek bagus ya? Padahal, nggak di Sleman nggak di Tangerang, puyer masih diberikan.

    last blog post: SBY Datang GPRS Hilang

  6. Comment by Ady on May 4, 2008 at 19:29:21
    using Internet Explorer 7.0 on Windows XP

    Setuju… apalagi yang dimasukan ke kapsul misterius sekali hehe..
    Yang dimasukkin ke syrup itu memang sangat tidak dianjurkan.. Ada regulasinya ga ya??

    last blog post: Everybody makes mistakes

  7. Comment by dani on May 4, 2008 at 19:44:14
    using Mozilla Firefox 2.0.0.14 on GNU/Linux

    arif:
    ktnya bbrp rumah sakit di jkt dah mulai ngurangin kang..

    Ady:
    kurikulumnya ada :)

  8. Comment by devari on May 5, 2008 at 01:07:45
    using Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Windows XP

    contoh obat puyer apa pak dok?
    jadi teringat iklan radio zamn dulu:
    nyake puder, nyake puyer, nyake serbuk, patuuh deen
    (biar powder, biar puyer, atau serbuk, sama saja) :)

    last blog post: 5 Tips Memilih Tempat Hosting

  9. Comment by Dani Iswara on May 5, 2008 at 02:46:22
    using Mozilla Firefox 2.0.0.14 on GNU/Linux

    devari:
    anu bli, mis. resep dokter → antibiotika+penurun panas+batuk+pilek yg digerus jd satu..biasanya buat anak2.. :)
    bukan yg dijual bebas itu..

  10. Comment by devari on May 5, 2008 at 04:39:42
    using Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Windows XP

    dani, agh I see. mungkin mirip rakitan ya kalau di dunia komputer :)

    last blog post: 5 Tips Memilih Tempat Hosting

  11. Comment by ghozan on May 5, 2008 at 09:12:01
    using Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Windows Server 2003

    wah untung gak pernah ngasih anak2ku puyer neh… btw kalo neuralgin tu sebenernya menyembuhkan apa sih pak dokter…

    last blog post: Bad Experience At KFC

  12. Comment by raka on May 5, 2008 at 13:52:15
    using Mozilla Firefox 3.0b1 on Windows XP

    tapi puyer itu -kalo dari logika awam tentang kedokteran- gampang mengkonsumsinya kan? lagian serbuk kan lebih cepat larut dibanding pil :)

  13. Comment by Ijang on May 5, 2008 at 17:40:44
    using Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Windows Vista

    Horeee makin rame………ngrubah pandangan masyarakat agar mau berobat secara benar itu juga sulit. Maunya pokoknya dateng minta obat….habis perkara. Dokternya nurut juga….. informasi jadi bukan hal yg utama lagi…………

    last blog post: Puyer pasti berlalu

  14. Comment by Dani Iswara on May 6, 2008 at 09:41:19
    using Mozilla Firefox 2.0.0.14 on GNU/Linux

    » devari:
    :) begitulah bli..

    ghozan:
    obat itu utk pereda nyeri, Gus :)

    raka:
    sirup, yg dihirup, infus jg bs lbh cepat :)
    ada bbrp obat (tablet; enteric coated tablet) yg memang dibuat sedemikian rupa agar berfungsi lbh efektif di saluran cerna tertentu
    (jd obat2 tsb tdk boleh digerus, dikunyah, dibelah)

    Ijang:
    mslh puyer lbh ke cara pembuatan dan dosis kan, dok..
    kl semua memaklumi kondisi puyer
    • kebutuhan obat berdasar berat badan si anak
    • proses pembuatan yang baik / legal /standar [?] :)
    • risiko interaksi obat..

  15. Comment by Aprilia Gayatri on May 6, 2008 at 15:31:48
    using Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Windows XP

    HOOO emang nyebelin banget dulu waktu kecil kalau ke dokter.. obatnya pasti puyer…
    untunglah saya cepat bisa minum obat jenis lainnya tablet, kaplet dll.. jadi slamat tinggal puyer

    tapi.. kalau buat anak kecil dikasih obatnya gimana dok?
    kan mereka pasti blum bisa minum obat bentuk yg lain..heeehee :roll:

    last blog post: Biaya Hidup(ku) di Bandung

  16. Comment by Dani Iswara on May 6, 2008 at 19:15:17
    using Mozilla Firefox 2.0.0.14 on GNU/Linux

    Aprilia Gayatri:
    biasanya dikasi sediaan tetes, itupun kl bener2 perlu.. :)

  17. Comment by Andi Sugiarto on May 8, 2008 at 20:57:42
    using Mozilla Firefox 1.0.6 on Windows Vista

    Yah.. memang ada tiga tipe orang yang datang ke dokter:
    1. Pingin instant, tidak percaya jamu
    2. Takut bahan kimia, pokoke “yang alami berarti aman”
    3. Takut bahan kimia, tapi pingin instant sembuh (ini yang paling merepotkan)

    Yah.. gitu lah… friends… tantangan global kita… pandai2lah membawa diri…

    Andi.

  18. Comment by Dani Iswara on May 8, 2008 at 21:38:51
    using Mozilla Firefox 2.0.0.14 on GNU/Linux

    Andi Sugiarto:
    mungkin jg ada yg pilih sembuh dgn disentuh aja, dok :D
    semoga kita semua diberi kesehatan..

  19. Comment by Dayu on February 11, 2009 at 07:10:36
    using Internet Explorer 6.0 on Windows XP

    setuju sekali puyer memang harus ditinggalkan…mulailah dari keluarga kita…lalu kampanyekan ke orang2 disekeliling kita, jangan cuman caleg ajah yang kampanye…:-p
    soal kesehatan juga tanggung jawab kita semua…

  20. Comment by Dani Iswara on February 11, 2009 at 08:04:16
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Gentoo Linux

    - Dayu:
    sama-2 lah pokoknya..pasien juga jangan minta puyer :)
    krn sudah terlanjur membudaya dan masih ‘dibenarkan’ pd bbrp situasi

  21. Comment by dr. Servulus on February 13, 2009 at 22:06:42
    using Opera 9.51 on Windows XP

    Bukankah istilah rasional itu mengacu pada dokumen WHO “A Guide to Good Prescribing”
    Jika rasional itu diartikan sebagai profil obat ditinjau dari efficacy, safety, suitability, dan cost, masih mungkin puyer itu rasional dan obat paten itu tidak rasional
    Harus didefinisikan apa yang dimaksud dengan rasionalitas yang dipolemikkan sekarang ini.

  22. Comment by dani on February 14, 2009 at 02:34:51
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Gentoo Linux

    dr. Servulus,
    jika saya bahasakan dgn bahasa saya sendiri, sejauh mana art, science, evidence, common sense, dan rasionalitas drugs of choice itu sendiri, ya dok..

  23. Comment by r2H3R on February 15, 2009 at 21:14:43
    using Mozilla Firefox 2.0.0.18 on Windows XP

    terlepas dari masalah2 diatas sebenernya saya SANGAT setuju agar puyer segera di hentikan karena sebagai Asisten Apoteker, kerja saya jadi lebih cepat dan praktis tanpa harus numbuk2 dan bungkus lagi jadi bisa lebih cepat. jadi gak ada lagi pasien komplain gara2 kelamaan nunggu obat racikan yang harus ngitung dulu trus digerus sampe homogen dulu trus puyer di bagi2 dulu sampe rata,belum lagi kalo harus bersihin peralatannya dulu.

  24. Comment by Dani Iswara on February 15, 2009 at 22:36:28
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Gentoo Linux

    r2H3R,
    ntah lah jika seandainya tidak ada jenis sirup/drop tertentu utk anak :(

  25. Comment by mr poe on February 17, 2009 at 23:07:32
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Windows XP

    saya seorang farmasi, mungkin benar kalau pembuatan obat bentuk puyer itu dinilai tak setandar dengan CPOB, tapi harus diakui juga bahwa persediaan obat bentuk sirup atau tablet belum semua memenuhi kebutuhan obat seorang px atas diagnosa dokter misal seorang px harus diberi antibiotik dan obat yang lain yang dosisnya kecil, kalau pakai sirup apa si px bisa pas waktu menakar sendiri sirup tersebut misal 2/3sendok atau 3/4sendok, kalau pakai puyer px tinggal tuang obat dari bungkusnya langsung diminumkan dg catatan pembuatan puyer di apotek harus sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku difarmasi. dari segi harga juga beda sekali, kalau bentuk sirup mesti lebih mahal, & sirup antibiotika kan haru habis diminum max 7hari dari pencampuran dari sirup kering ke siap pakai, kalau dosis yg diberikan kecil dan standar sirup itu 60ml per botol, apa ngak banyak sisa sirup yang kebuang.

  26. Comment by Dani Iswara on February 18, 2009 at 02:47:44
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Gentoo Linux

    mr poe,
    terima kasih pemikirannya :)
    juga kepada sejawat farmasi dan apoteker lainnya

    jd kembali pada rasionalitas pilihan obat di resep dokter (interaksi, bentuk sediaan), higienitas peracikan atas pengawasan apoteker, jg komunikasi apoteker-dokter terhadap interaksi obat

    saya pikir maksud kedua kubu pro dan kontra (puyer; juga kapsul, sirup) sama baiknya, demi patient safety, mengingat kenyataan yg ada di lapangan saat ini ♥

  27. Comment by opoysuropoy on February 20, 2009 at 10:50:42
    using Internet Explorer 6.0 on Windows XP

    obat-obatan dalam bentuk sirup sediaanya harus di perlengkap jadi supaya tidak ada alasan bagi dokter untuk memberi puyer, masalahnya bagi orang kaya harga tidak masalah tapi bagi orang miskin? daerah terpencil?orang di pedalaman? makanya jangan ngomong doang, cari solusinya, contoh obat anti biotik sirup cefixime sirup generik harga sekitar Rp.40.000 isi 30 ml , bila dengan punyer cefixeme capsul kita pisahkan hanya butuh 6 capsul dengan hargasekitar Rp.7.500, coba kita bandingkan dengan obat paten/bermerk sedian Cefixime sirup bisa Rp90.000-100.000, itu baru antibiotiknya saja, belum yang lain…

  28. Comment by Dani Iswara on February 20, 2009 at 11:12:37
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Gentoo Linux

    opoysuropoy,
    tujuan mulia pemberian puyer dan sediaan obat compounding lain, salah satunya memang masih seputar harga..
    tp cara peracikannya itu saja yg blm bs diterima secara ilmiah selama ini, terutama oleh yg kontra puyer..

  29. Comment by Zyuth on February 24, 2009 at 19:58:35
    using Opera 9.63 on Windows XP

    Seperti yg kita tahu polemik puyer ini, ditimbulkan oleh salah satu tv swasta, yaitu RCTI. Semakin booming polemik puter ini, maka semakin dibahas oleh RCTI, yang mana hal ini akan MENINGKATKAN RATING RCTI saja.

    Jika RCTI ingin menjadi BERANI dalam membuat berita, ulaslah KEKAYAAN SOEHARTO, KORUPSI, LAPINDO!!! Beranikah RCTI!!!

    RCTI saat ini sedang gencar meningkatkan ratingnya, lihat saja bagaimana RCTI meng-IKLAN-kan para anchor (penyiar) nya. Padahal berita itu yang dilihat bukan para penyiarnya, tapi MUTU DARI BERITA itu.

    Masa hari ini saya melihat sekilas info di RCTI, hanya menampilkan info tentang PONARI. Itukah kelas RCTI?

    Sudahlah kita jangan terjebak dalam POLEMIK RATING RCTI!

    Puyer itu obat rakyat, harga murah, dapat disesuaikan dengan berat badan pasien, diresepkan oleh DOKTER yang sekolahnya di KEDOKTERAN, bukan oleh MEDIA yang NON-MEDIS.

    Sudahlah RCTI, cari bahan lain untuk meningkatkan rating! Jangan menyulitkan rakyat!

  30. Comment by Dani Iswara on February 24, 2009 at 21:03:32
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Gentoo Linux

    Zyuth,
    kebetulan saja tv tersebut pas mengangkatnya :)
    krn di bbrp surat kabar dan milis sudah sering disinggung masalah puyer ini

  31. Comment by Stephanie, calon apt on March 5, 2009 at 09:51:47
    using Mozilla Firefox 3.1b2 on Windows XP

    hmmmmm..
    sebenarnya setiap sediaan obat sudah sangat diperhitungkan n diteliti dg baik sebelum diedarkan

    puyer merupakan racikan dr seorang apoteker \
    puyer mempunyai keuntugan seperti tepat dosis.
    berbeda dg sediaan lain yg dosisnya mengikut dosis lazim

    seharusnya puyer tidak ditarik..
    Kalo ditarik, apa peran apoteker??
    ??????? mana art of compounding?
    akhirnya terjadi hal yg tidaj diinginkan bila suatu penyakit harus membutuhkan dosis yg sgt tepat dan kecil indeks terapinya. begitu lo…

  32. Comment by dani on March 5, 2009 at 12:53:48
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Gentoo Linux

    Stephanie, calon apt,

    puyer mempunyai keuntugan seperti tepat dosis

    ya, jika memang ditimbang dan dibagi per dosisnya secara tepat :) , bukan kira-kira, spt di tv itu..

    ??????? mana art of compounding?

    kadang art of common sense tdk dibarengi kedokteran yg berbasis bukti, kan.. :)

  33. Comment by akoe calon farmasis on March 29, 2009 at 21:04:44
    using Mozilla Firefox 2.0.0.20 on Windows XP

    mengapa puyer masih di Indonesia??? kita tanyakan pada dunia industri farmasi Indonesia kenapa mereka belum siap padahal di India n di AS puyer sudah dilarang penggunaannya.
    apakah puyer rasional?? tergantung sih. selama ini ketika saya baca artikel-artikel atau berita-berita selalu aja yang disalahin apoteker yang bla bla bla banyaklah. dan kenapa para apoteker diam aja mungkin mereka sadar karena seandainya mereka rajin ke apotek hal tersebut nggak bakal terjadi. karena memang tugas seorang apoteker untuk mengawasi kegiatan diapotek terutama peracikan puyer tersebut. tetapi meskipun ada apotekernya ketika mereka bener-bener memeriksa kerasionalan sebuah resep kita kembali kedokter apakah ketika seorang apoteker mengkonfirmasikan hal tersebut si dokter bakal menerima n mengubah resep begitu aja??? padahal seorang apoteker ga boleh ganti obat tanpa persetujuan dokter. yah memang pada dasarnya sistem kesehatan di Indonesia sudah salah kaprah ni semua tinggal tergantung ketegasan pemerintah dalam menyikapi dan mengambil suatu kebijakan.

  34. Comment by Dani Iswara on March 30, 2009 at 07:34:10
    using Mozilla Firefox 3.0.8 on Gentoo Linux

    akoe calon farmasis,

    mengapa puyer masih di Indonesia??? kita tanyakan pada dunia industri farmasi Indonesia kenapa mereka belum siap padahal di India n di AS puyer sudah dilarang penggunaannya.

    kenapa hayooo.. :)

    jika memang bermitra, idealnya sih akur aja, kan..

  35. Comment by riesurya on October 2, 2009 at 15:13:38
    using Opera 10.00 on Windows XP

    alo mas Dani, lama gak komen disini :D
    secara pribadi dan bukan lantaran tidak praktek sebagai apoteker di apotik, kurang setuju dengan penggunaan / presepan puyer.

    memang bila dengan peresepan puyer, harga penebusan obat bisa ditekan.
    sisi lain, tingkat kedisplinan di lingkungan apotik sendiri sejujurnya masih harus dipertanyakan lagi.

    sisi higienis, misalnya.
    seingat dulu saat praktikum preskripsi (belajar racik puyer juga), semua alat (entah itu mortir, stamper dll) kudu dibersihkan dulu dari residu sebelumnya. kenyataannya?
    apa lantaran dalih menghemat waktu? (asal jangan menghemat waktu hidup pasien aja).

    pembagian dosis:
    pembagian dosis pada tiap puyer menggunakan perasaan (rasionalitasnya?),dengan asumsi bahwa semua bahan (aktif dan tambahan) sudah homogen. ada yang bisa jamin?

    pencampuran antara bahan aktif dan tambahan:
    disini perlunya apoteker jaga (fungsi kontrolnya jalan, dan bukan apotekernya jalan-jalan :P ).
    dulu pernah batal nebus obat lantaran yang jadi asisten apotekernya bukan asisten apoteker (asal ada aja). nah kalo gini siapa bisa jamin kalo art of compoundingnya dijalankan.
    salah-salah obat model asetosal digerus sampe keluar acetate-nya, dan akibatnya ya mas Dani tahu sendiri lah (serem)

    regulasi obat-obatan dosis tertentu:
    kan ada banyak macam sediaan farmasi, sebagai alternatif puyer.
    bagaimana dengan sirup tetes?
    harga menjadi mahal? jelas.disinilah peran pemerintah selaku regulator dan organisasi profesi terkait untuk berperan.
    sejauh ini yang saya tangkap (mudah2an salah), organisasi profesi farmasi cenderung bermain aman tanpa ambil resiko(apa karena sisi marketing obat? atau kompetensinya ?) dan kurang aktif (aktif sebatas wacana ?).

    berharap regulator, organisasi profesi (farmasi dan dokter), juga pihak industri, praktisi dan akademisi kumpul jadi jadi, bahas rame2. tuang semua kondisi rasionalitas puyer (juga yang lain?) dalam satu meja.
    dan yang penting sih upaya dan tindakan nyata, bukan sebatas wacana dan press release tanpa hasil (yang ujung-2nya cuma jadi bahan gosip dan kalo dicetak cuma jadi bungkus cabe dipasar :D )

    maaf kalo kepanjangan dan banyak omong ya mas Dani :)

  36. Comment by Dani Iswara on October 2, 2009 at 15:43:25
    using Mozilla Firefox 3.5.3 on openSUSE Linux

    riesurya,
    beberapa menganggap bisa penekanan harga, tapi nyatanya malah bisa jadi mahal juga.

    ya, higienis dan rasional itu sebenarnya yang ‘kembali’ dipertanyakan.

    maksudnya demi praktis, tapi ya itu…

    temen-temen situ suka jalan-jalan ya.. :)

    jadi, kalo puyer lanjut, ayo yang mana aja yang boleh dan memungkinkan. kalo perlu bahan dan produk resmi berupa puyer dari pabrik. dan obat sediaan tertentu juga disediakan. jika harus puyer, caranya ditertibkan.

    kalo ngga, ya kembali ke no puyer. tapi sediaan obat lebih lengkap. gitu ya, pak anrie..

  37. Comment by riesurya on October 4, 2009 at 02:20:00
    using Mozilla Firefox 3.0.14 on Windows XP

    kalo suka jalan2 sih, saya juga suka. :D

    hanya penegasan bahwa harus ada apoteker jaga (tidak harus APA) tampaknya masih harus ditekankan lagi. sejauh ini yang saya temui disiplin apoteker jaga sudah cukup bagus di apotik milik group BUMN, perusahaan besar, atau apotik milik perguruan tinggi (promo almamater hihihi) dan masih minim di apotik swasta.

  38. Comment by Dani Iswara on October 4, 2009 at 07:40:18
    using Mozilla Firefox 3.5.3 on openSUSE Linux

    riesurya,
    gara-gara kasus itu, sekarang temen-temennya pak rie dah makin rajin ada di tempat kayaknya. :)

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback by Puyer, Polifarmasi, Pengobatan Tidak Rasional - Dani Iswara .Net - Indonesia Physician Weblog on May 9, 2008 at 08:10:14
    using WordPress 2.5.1

    [...] judul tulisan Berita Pers : Pengobatan Irasional Marak di Indonesia. Pada tulisan sebelumnya, Menggugat Puyer tidak Rasional, diinformasikan bahwa sejawat FKUI akan mengadakan seminar “Puyer: Quo [...]

Sorry, for some reasons (sometimes due to sp*ms attack), the comment form is closed at this time. If You have any suggestions, please contact me. Thank you.

Dani Iswara .Net

Return to TOP
›› Older entries: Web Problem by People with Disabilities
‹‹ Newer entries: Penilaian Lomba Blog Kesehatan-Kedokteran