Suka Duka Pengguna Internet Berbasis Volume
June 16, 2008 – 5:32 pm by Dani IswaraBerlangganan Internet (dengan huruf ‘I’ besar) berbasis volume (’volume-based’) memiliki suka duka tersendiri. Pada situasi tertentu, pilihan harus dijatuhkan. Walau mungkin berakhir pada pilihan ‘terburuk’ sekalipun (mis. relatif mahal dari sisi harga). Demi menginginkan akses Internet 24 jam, bergerak / ‘mobile’ antar pulau (tanpa prosedur registrasi lain), tidak lambat, cakupan sinyal cukup luas, tanpa harus membeli (karena statusnya sewa kontrak) perangkat tambahan seperti modem eksternal atau perangkat genggam / ‘handphone’ 3G, tanpa membayar biaya pendaftaran (cukup verifikasi kartu kredit), akhirnya pilihan jatuh pada akses Internet berbasis volume. Itupun dibarengi dengan kesadaran bahwa umumnya sesuatu yang ‘unlimited’ memiliki ‘batas’ tertentu. Begitu pula akses yang dibatasi volume akan rentan melebihi kuota.
Sukanya tentu kepraktisan. Dukanya, terkait dengan berbagai upaya penghematan. Upaya penghematan dapat dilakukan dari sisi peladen / ’server’, desain web / blog, peramban & sistem operasi serta pengguna. Selengkapnya di Kecepatan Blog & Menghemat Bandwidth. Dari sisi peramban, beberapa cara yang bisa dicoba:
- Menonaktifkan fungsi penampil gambar.
Dapat dilakukan dengan mengubah pengaturan di peramban, memanfaatkan fitur ‘disabled image’ Opera (terintegrasi) atau memasang ekstensi ‘ImgLikeOpera’ (Firefox). - Memblokir flash
Mis. dengan ekstensi ‘Flashblock’ (Firefox). - Memblokir iklan
Mis. dengan ekstensi ‘AdBlock Plus’ (’Fx rules..’). - Memblokir ’script’ tertentu (javascript; ’snap preview’, ’shoutbox’, ’slideshow’)
Mis. dengan ekstensi ‘NoScript’ (Fx juga). - Menonaktifkan ‘auto update’ versi peramban dan pengaya (’add-ons’).
- Memanfaatkan fitur ‘cache’ jika sering mengunjungi halaman web yang sama berulang kali.
Beban biaya koneksi mungkin akan berkurang sedikit. Tapi jika dihitung dari banyaknya halaman web yang diakses, akan terasa signifikan. Kecepatan akses pun cukup terbantukan. Dengan berbagai upaya pemblokiran konten web di atas, ternyata menimbulkan sejumlah risiko. Ada informasi yang mungkin terlewat atau menjadi tidak terbaca. Beberapa kejadian duka termuat seperti ilustrasi di tulisan ini.
Ilustrasi menggunakan contoh blog Dani Iswara .Net. Perlu diingat bahwa tulisan ini hanyalah pengalaman pribadi, bukan ‘best practices’. Sebagian keluhan sempat terungkap di catatan sebelumnya yang berjudul Belajar SEO dan Aksesibilitas Web. Berikut ini beberapa kejadian dukanya:
Ukuran Laman Web (’web homepage’)
Gambar 1. Ukuran berkas yang terbaca di hasil pencarian Google.
Jika pengunjung datang dari mesin pencari web, tentu dapat diketahui berapa ukuran berkas halaman web tersebut (Gambar 1). Hati-hati, kadang yang tercantum masih berupa data halaman ‘cache’.
Judul dan Navigasi Blog
Gambar 2. Judul web / blog yang hanya nampak saat kursor diarahkan di atasnya.
Ada juga judul web / blog (tag h1) yang berbasis gambar saja. Sehingga judul tidak nampak saat gambar dinonaktifkan. Atau hanya nampak saat di-hover (Gambar 2). Terlebih lagi taut menuju halaman awal (’home’) menjadi tidak aksesibel. Biasanya terjadi juga pada menu navigasi yang hanya berbasis gambar atau ‘javascript’. Selain terkait semantik web dan aksesibilitas, hal ini ternyata berhubungan pula dengan SEO.
Warna Teks dan Latar
Gambar di bawah ini menunjukkan warna teks dan latar yang sama, sehingga teks menjadi tidak terbaca.
Gambar 3. Konten tidak terbaca
Sebenarnya masih terbaca jika disorot (’select’). Sering terjadi pada halaman situs dengan latar berbasis gambar dan melupakan kontras warna saat gambar dinonaktifkan (Gambar 3).
Teks Alternatif
Gambar 4. Teks alternatif saat gambar tidak tampil
Teks alternatif untuk berkas gambar tidak hanya dengan memanfaatkan atribut alt. Tapi dapat berupa teks penjelasan seperti ini. Terutama saat berhubungan dengan berkas audio, video dan animasi (multimedia). Saat pengunjung situs tidak menampilkan gambar, sedikit banyaknya informasi masih tersaji secara deskriptif (Gambar 4).
Tombol Submit
Gambar 5. Tombol ’submit’-nya mana ya..
Yang juga sering terlupakan adalah tombol ’submit’ (Gambar 5). Terutama tombol yang hanya berbasis gambar. Kadang tombol tidak nampak, tapi masih bisa ‘diraba-raba’ untuk kemudian diklik. Jika mengalami kejadian serupa, coba arahkan kursor di area bawah kiri, tengah atau kanan kotak komentar. ![]()
Jika tetap tidak berhasil, aktifkan tampilan seluruh gambar untuk halaman tersebut.
Untuk mengubah tampilan tombol agar lebih aksesibel, cukup dengan kode (XHTML) seperti di bawah (hanya contoh):
<input type="submit" id="submitbutton" tabindex="5" value="Submit Comment" />
Pengaturan CSS untuk #submitbutton silakan disesuaikan. Jika perlu, bedakan warna tombol dan teks saat kursor melintasi tombol.
Sebagai pembelajaran bersama bahwa hal-hal tersebut bisa saja terjadi di blog Dani Iswara .Net ini (paling tidak pernah terjadi). Sering juga dijumpai di situs-situs pemerintah, web dan blog eLearning (yang kita harapkan dapat menjadi panutan). Bahkan juga di situs-situs yang lolos validasi XHTML dan CSS, tetapi mengabaikan aksesibilitas dan ‘usability’. Catatan yang lalu seputar Semantik X/HTML, Aksesibilitas, SEO mungkin akan membantu. Catatan tersebut juga memuat beberapa perangkat evaluasi yang bisa digunakan untuk pengelolaan desain web / blog. Jika perlu, beberapa perangkat dapat ditambahkan ke ekstensi ‘Web Developer’ peramban Firefox, seperti pada tulisan Adding Tools into Web Developer.
Tulisan ini dibuat dari sudut pandang pengguna umumnya yang mengakses Internet menggunakan komputer PC. Bagi pengguna difabel dan gangguan warna, silakan membaca Web Problem by People with Disabilities. Yang berhubungan dengan pengelolaan situs ‘mobile’ silakan kunjungi Mobile Web Best Practices 1.0 dari W3C.
Last updated: Monday, June 23, 2008 at 7:29 am
Taken from: Suka Duka Pengguna Internet Berbasis Volume by Dani Iswara (Dani Iswara .Net).











Using
sdebenarnya saya ngeblog itu sudah sekitar setahunan, Pak Dani, tapi hanya bisa mosting saja, hehehehe
pernah juga sih ngoprek-oprek theme, tapi seringkali justru malah hancur tampilannya, hehehehe
lagian, saya berlangganan broadbandh unlimiitted, jadi berapa pun saya konek net, bayarnya tetep sama per bulan dengan merogoh kocek yang masih bisa terjangkau oleh kantong seorang guru seperti saya, hehehe
ok, makasih tips-nya, Pak Dani.
Using
wah ribet juga ya klo langganan yg volume based itu. dalam artian kita ga bisa menikmati ‘gemerlap’nya web2 yg bertebaran di Internet
Using
pilihan dan solusi bagus. pasti ada hikmahnya, kadang kita “dipaksa” efisien atau efektif berselancar, jadinya bisa kreatif dan taktis
makasih tips_nya.
(maaf, komen baru ter_approve pagi ini, biasanya langsung loh, kenapa ya.. kadang ada yg dianggap spam sama WP)
Using
Afaik,
Layout juga lumayan pengaruh terhadap aksebilitas.
Penempatan enggine / tag tertentu
Using
(sambung: tadi ke enter:D)
Penempatan enggine / tag tertentu yang berhubungan dengan situs laen (seperti googleanalytic). perlu juga di perhatikan.
Using
dulu juga langganan volume based, tapi apa daya, pembayarannya tidak bersahabat
sekarang beralih ke time based, yang billingnya nampaknya lebih bersahabat
Kalau kasusnya kemudian harus akses mobile antar pulau, ini yg belum tau harus bagaimana…

Using
Terus terang saya berlangganan internet berbasis volume 1gb per bulan, dan bagi saya itu masih belum cukup. Dengan tips Pak Dani jadi terbantu deh
Using
- sawali tuhusetya:
didoakan supaya makin fasih ngoprek blognya deh pak sawali..
apalg dah ada dukungan unlimited bandwidth..jangan menyerah..
- devari:
iya nih bli..ternyata ribet jg..
kl mo unduh yg besar2 dan agak ngga perlu mending ke warnet..
- Deni Pradana:
ya ini dijalanin aja dl..jd kadang sayang jg hasil browsing ngga disimpen / dicatat..
- yudha:
maksudnya kang yudha itu..javascript (spt google analytic) — jika memungkinkan mending ditaruh di akhir/di bag bawah layout gitu ya..utk mempercepat loading..
gemana kalo sekalian di-disable pake noscript aja
dan ternyata woopra yg baru itu pake auto-refresh jg ya..
- Pakacil:
iya nih..skrg make yg ada sesuai kebutuhan aja..nanti liat kondisi lagi kl abis kontrak..tp volume-based kayaknya emang ngga banget buat para seniman web design
- amazu:
kl org desain web pasti dah biasa lah ngadepin semaraknya konten web..mana yg bs dihemat..mana yg ngga..
Using
Saya kayaknya harus banyak belajar, saat ini langganan internet memang fixed, dalam sebulan membayar besaran tertentu….cukup mahal apalagi saya mulai pensiun. Tapi disatu sisi, internet memang diperlukan, karena sekarang pekerjaan dikirim lewat email dulu, sebelum nantinya ketemu untuk meeting. Lebih efisien dan efektif, terutama menyiasati jalanan Jakarta yang kemacetannya makin menjadi-jadi.
Using
- edratna:
lumayan menghemat urusan kantor juga ya bu..
sekalian ngga kalah dengan si kecil..
Using
Pakai software DUMeter coba pak .. buat tau berapa traffic yang kita pake .. saya dulu waktu volume based pake itu ..
Using
- Permana Jayanta:
makasi sarannya bli
itu bukan FOSS kan..
di linux ada bbrp yg bagus..akhirnya pake vnstat
atau sekali2 cek bandwidth usage providernya..