Inovasi Internet dan Diseminasi Informasi Kedokteran

June 8, 2008 – 12:46 by Dani Iswara. Words count: 630.
Last updated: Monday, April 20, 2009 at 1:02.

Catatan ini terkait dengan upaya penerbit Elsevier dalam rangka diseminasi (menyebarkan) hasil penelitian ilmiah dan kedokteran terkini pada pengguna secara lebih luas termasuk melalui inovasi Internet. Tulisan Internet dengan huruf ‘I’ besar mengacu pada jejaring yang bersifat internasional, bukan sekadar internet atau intranet. Tulisan aslinya bisa dibaca di ‘Internet Innovations‘ (Toni Bellanca, “Internet Innovations”, Elsevier Editors’ Update, Issue 22, May 2008). Penulis blog Dani Iswara .Net tidak tekait upaya promosi apapun pada tulisan ini.

Diakui bahwa Internet dianggap memegang peranan penting bagi pencari informasi. Bukan hanya oleh para peneliti dan dokter. Orang tua dan keluarganya pun menelusuri web untuk mencari informasi tertentu. Dari salah satu situsnya yang meneliti kebiasaan pasien menelusuri informasi kesehatan-kedokteran, Elsevier menemukan bahwa penggunanya mengharapkan mereka dapat membaca sumber-sumber kedokteran terpercaya seperti yang dibaca oleh dokter mereka. Situs tersebut berusaha merespon minat pengguna yang ingin mengetahui lebih dalam tentang suatu penyakit yang diderita anggota keluarganya. Pengguna, dalam hal ini orang tua dan keluarganya, menjadi ‘ahli’ tentang kasus penyakit tertentu. Mereka menjadi lebih tahu secara mendalam.

Seiring dengan kepopuleran Wiki, Elsevier ternyata juga memiliki WiserWiki (masih versi beta). Serupa dengan AskDrWiki — pernah tertulis di Ask Dr Wiki, Wikinya Kedokteran. WiserWiki juga memuat seputar informasi ilmiah dan kedokteran saja. Hanya dapat diedit oleh dokter yang berlisensi. Informasi akan menjadi lebih akurat dan terpercaya. Situs-situs tersebut dianggap akan mampu memudahkan pengguna untuk menemukan informasi penyakit dan lebih aksesibel.

Berikut ini pendapat saya atas berita di atas. Dengan akses informasi yang makin terbuka, di satu sisi akan bermanfat bagi pengguna. Bagai belati bermata dua. Pasien dan keluarganya juga berisiko untuk cenderung ’self-diagnosis’. Melabeli diri dengan suatu penyakit tertentu hanya berdasarkan kecocokan keluhan dan gejala penyakit dari suatu sumber informasi di Internet. Tanpa konsultasi dan pemeriksaan nyata dari dokter. Memungkinkan juga untuk terjadinya ‘Medical Googler vs Medical Blogger‘.

Situs kesehatan-kedokteran (formal, institusi, kelompok) juga biasanya dibuat menyesuaikan dengan konsep aksesibilitas. Pengaksesnya pun bukan hanya pengguna biasa. Kaum ‘difabel’ (‘differently able’) pun memiliki hak akses yang sama. Akses universal untuk desain yang universal. Tulisan titipan sponsor dan editorial akan diberi label tersendiri. Seharusnya tidak ada intrik-intrik terselubung (sekadar hanya untuk uang) di dalamnya. :)
Entah apakah sudah ada situs kesehatan-kedokteran di Indonesia yang memenuhi kriteria tersebut dan dapat kita jadikan acuan bersama selain Wikipedia.

Pembentukan situs khusus bidang tertentu akan sangat bermanfaat bagi pengguna yang membutuhkan informasi spesifik. Dibanding sekadar memanfaatkan Google. Apalagi dengan kombinasi kata kunci seadanya. Selama ini hasil pencarian Google masih bisa ‘diakali’ dengan teknik SEO (‘Search Engine Optimization’), terutama ‘black hat SEO’. Pengguna mungkin tidak puas seperti kondisi di bawah. Muncul beberapa pertanyaan dari pengguna awam seperti saya:

  1. Apakah pengguna tidak akan kecewa dengan hasil pencarian?
    • Hasil pencarian ternyata hanya mengacu pada taut feed yang dipasang di situs web / blog tertentu
    • Hanya berupa ‘bookmark’ dari media ’social bookmarking’
    • Penelusuran memunculkan pesan ‘404 not found’ yang tidak komunikatif
    • Sekadar hasil salin tempel tanpa memberi taut sumber.
  2. Salahkah Google (yang mengijinkan kondisi di atas dalam halaman pertama hasil pencariannya)?
  3. Haruskah pengelola situs web / blog melakukan pengoptimalan mesin pencari tanpa memperhatikan kualitas informasi dan desain situsnya?
  4. Apa jadinya jika Google tidak mengembangkan algoritma hasil pencariannya?
  5. Salahkah praktisi SEO?

Wajar jika para pencari informasi kesehatan-kedokteran (‘health information seeker’) dianjurkan untuk memperhatikan, antara lain:

  • sumber terkait tulisan dimaksud,
  • waktu pemutakhiran.

Panduan rekomendasi ‘HONcode conduct’ dapat dijadikan salah satu acuan.

Lebih baik mencari informasi kesehatan-kedokteran di direktori khusus kedokteran yang terpercaya. Atau situs web yang memiliki editor dari kalangan kedokteran. Jangan mudah mempercayai tulisan di Internet. Termasuk tulisan-tulisan di blog Dani Iswara .Net ini. Terutama tulisan di luar bidang yang saya tekuni. :)
Mungkin itu pula yang menyebabkan sebagian dokter masih kurang mempercayai sumber informasi di Internet dan manfaat Internet itu sendiri. Internet itu sampah. Internet itu juga gudang ilmu.

Just unessential weblog
Dani Iswara, mail me: [myfirstnamelastname]@gmail.com or use contact form.

You are free to share (copy, distribute, transmit) & adapt this blog post under the similar license (Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported; CCA-NC-SA 3.0 Unported). Please put these links on your copy:
Taken from: Inovasi Internet dan Diseminasi Informasi Kedokteran by Dani Iswara.

Unimportant Related/Random Posts

You may also read list of most popular posts and most popular tags of Dani Iswara .Net.

12 Responses to post titled: Inovasi Internet dan Diseminasi Informasi Kedokteran

  1. Comment by Deddy Andaka on June 8, 2008 at 18:39:27
    using Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Windows XP

    So, ada baiknya bila kita mencantumkan sumber resmi dari jurnal yang besangkutan sebagai sumber referensi. Memang sekarang siapa saja bisa mengakses jurnal kedokteran dengan mudah, namun banyaknya istilah2 yang terlalu asing, teknis dan perlu penjelasan lebih lanjut bisa merepotkan pembaca yang bukan dari kalangan medis (malah dari kalangan medis saja bisa bingung). Dan hal ini bisa menjadi masalah bila ada salah interpretasi.

    Solusinya…mungkin bisa dengan mengalihbahasakan dari bahasa kedokteran menjadi bahasa umum agar siapa saja yang membacanya menjadi lebih mudah dimengerti. Lagi pula, di jurnal jurnal kedokteran banyak metode2 penelitian yang bikin puyeng… hahaha…

    Hmm… komen ini kepanjangan ya, dok?

  2. Comment by Fajarqimi on June 8, 2008 at 21:14:44
    using Mozilla Firefox 2.0.0.12 on Windows XP

    memang serba dilematis ya Mas? Nulis atau tidak ya……….

  3. Comment by Bambosi on June 9, 2008 at 20:14:44
    using Mozilla Firefox 2.0.0.1 on Windows XP

    waduh, mmmmm great article

  4. Comment by arizane on June 10, 2008 at 00:46:36
    using Mozilla Firefox 2.0.0.8 on Windows XP

    info yang berguna…

    setidaknya masyarakat bisa tahu ttg kedokteran lewat internet..

  5. Comment by dani on June 10, 2008 at 04:26:10
    using Mozilla Firefox 2.0.0.14 on GNU/Linux

    - Deddy Andaka:
    mending nyantumin sumber utk pembaca yg pingin klarifikasi keabsahan tulisan..sekalian utk koreksi..secara bloger jg bisa ’salah kutip’ :)
    sekali2 panjang gpp kok Ded..

    - Fajarqimi:
    tetep nulis aja mas..ngga dilarang kok.. :)

    - Bambosi:
    halah..lg ngelepas crawler komen ya bos..

    - arizane:
    silakan dimanfaatin mas.. :)

  6. Comment by artana on June 10, 2008 at 07:39:06
    using Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Windows XP

    Elsevier juga jadi sumber referensi saya di bidang teknik karena banyak jurnal gratisnya…

  7. Comment by Erik Prabowo on June 10, 2008 at 09:37:47
    using Mozilla Firefox 2.0.0.4 on Windows XP

    Iya Elsevier memang banyak sekali memberikan manfaat.

    Masalah Medical Blog: dengar2 ada dokter yang dituntut gara2 memberikan saran via blog dan diikuti seseorang akhirnya merugikan orang tersebut (kata temen, gak tahu pasti juga). Yang jelas yang menjadi pembelajaran disini adalah apa yang tertulis di Internet, Blog adalah untuk kepentingan informasi dan edukasi semata, bagi yang ingin mendapatkan solusi atas masalah medisnya, tentunya kunjungi dokter anda ( biar dokter tetap laku … he…he… :D , tapi ini saran yang benar Lho.. )

  8. Comment by dani on June 10, 2008 at 13:59:44
    using Mozilla Firefox 2.0.0.14 on GNU/Linux

    - artana:
    walau gratisan kadang dianggap kurang berbobot..idup gratisan..seandainya juga makin banyak open access journal ya bli.. :)

    - Erik Prabowo:
    di Indonesia siapa yg menyusul bikin wiki kedokteran ya..
    baiknya memang nyantumin di disclaimer ya, dok erik..disebut di honcode juga..

  9. Comment by fxekobudi on June 10, 2008 at 15:28:53
    using Mozilla Firefox 3.0 on GNU/Linux

    Kalau saya, percaya sama tulisan-tulisan Mas Dani tentang bidang yang Mas Dani tekuni kok.. :D Beberapa saat yang lalu teman saya menderita penyakit GBS, dan ternyata dengan Googling banyak sekali informasi yang membantu dan bermanfaat untuk proses penyembuhannya.

  10. Comment by dani on June 10, 2008 at 15:56:38
    using Mozilla Firefox 2.0.0.14 on GNU/Linux

    - fxekobudi:
    makasi mas guru eko.. :) mohon dikoreksi jg kl ada yg nyelip ya..

    enaknya Internet jika bs dimanfaatin maksimal..asal kebenaran informasi jg tetap ditelaah dulu..

  11. Comment by hermin on June 12, 2008 at 07:48:25
    using Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Windows XP

    Dari sudut pandang pasien seperti saya, media internet cukup berperan sebagai media informasi kesehatan. Setidaknya, tiga hal utama yang melatarbelakangi tujuan aktifitas pencarian informasi kesehatan oleh pasien:
    - Merunut (dari beberapa informasi), ke dokter spesialis apa pasien musti berkunjung. Pasien (awam) kadang tidak tahu, kalau ada keluhan di bagian tubuh tertentu terkait dengan penyakit apa? Penyakit dalam kah ? syaraf kah ? atau apa. Berkunjung ke dokter umum dirasa kurang mantap, takutnya nanti di”lempar-lempar” (dirujuk berulang kali ke dokter lain). Mengingat biaya priksa ke dokter tidak murah lagi, padahal belum pemeriksaan lab. dan obat2nya.
    - Mencari second opinion, mengingat dokter sekarang tidak banyak bisa punya waktu berbincang dengan pasien, entah karena terlalu banyaknya jumlah pasien atau karena menganggap ini bukan hal yang penting lagi. Sehingga pasien pun memiliki rasa “enggan”/ “sungkan” jika banyak bertanya, “kenapa dok?”, “bagaimana dok”, “apa maksudnya dok?”, dsb
    - Untuk permasalahan yang terkait dengan kecantikan, penyakit kulit dan kelamin, mencari informasi di internet harapannya akan mendapatkan jalan, langkah apa yang harus ditempuh, jika ke dokter harus menyatakan keluhan apa, ke dokter mana. Karena mencari tahu informasi ini ke kerabat cukup riskan juga bagi privacy mereka, mau datang ke dokter sembarang (tanpa adanya rekomendasi), ragu juga..”jangan-jangan…”.

    Setidaknya, media internet merupakan jembatan informasi bagi para pasien, bukan solusi akhir. Ini yang saya temukan dari hasil riset saya awal tahun kemarin

  12. Comment by Dani Iswara on June 12, 2008 at 11:55:32
    using Mozilla Firefox 2.0.0.14 on GNU/Linux

    - hermin:
    eh iya..saya sempat baca itu.. :)
    menarik juga
    kita harapkan pembatas dunia kesehatan-kedokteran antara pasien-dokter via Internet tdk sedalam di dunia nyata :D

Sorry, for some reasons (sometimes due to sp*ms attack), the comment form is closed at this time. If You have any suggestions, please contact me. Thank you.

Dani Iswara .Net

Return to TOP
›› Older entries: Belajar SEO dan Aksesibilitas Web
‹‹ Newer entries: Pemakaian Istilah Bahasa Indonesia