Memilih Distro Linux buat Pemula

July 6, 2008 – 12:26 by Dani Iswara. Words count: 1030.
Last updated: Monday, January 4, 2010 at 3:44.

Tulisan ini penggalan dari Generik di Linux dan Kedokteran.
Bagian ini memuat tips, kiat, panduan bagi pemula untuk memilih distro Linux berdasarkan pengalaman saya pribadi.

Mereka yang menggunakan sistem operasi ‘generik’ &, tidak berkeberatan berkutat dengan kode sumber. Tipe ini sepertinya lebih kepada para penghobi. Walaupun tidak menutup kemungkinan untuk digunakan juga pada mesin produktif di lingkungan kerjanya, baik sebagai peladen (’server’) atau ‘desktop’.

Penggunaan keluarga Unix untuk keperluan peladen mungkin sudah biasa. Yang sekarang terlihat adalah perubahan sistem operasi ‘open source’ seperti BSD (‘Berkeley Software Distribution’), GNU/Linux & OpenSolaris mencapai kemudahan komputasi untuk desktop. Terutama dekstop untuk kebutuhan sehari-hari (perkantoran, pelajar, mahasiswa). Bukan khusus permainan/’game’. Untuk ‘game’ silakan mencoba distro, misalnya LinuX-gamers.

Berikut ini pilihan sistem operasi ‘open source’ (GNU/Linux, BSD, OpenSolaris) dengan pendekatan personal & desktop:

BSD

Golongan BSD biasanya dipilih karena kecepatan, efisiensi, optimasi & keamanannya, terutama untuk fungsi peladen. Untuk fungsi desktop disarankan mencoba DesktopBSD (desktop KDE) & PC-BSD. BSD juga bisa diatur agar mampu menerima paket instalasi aplikasi dari Linux.

Gentoo

Linux bercita rasa BSD bisa mencoba distribusi Gentoo. Waktu kompilasi yang lama adalah salah satu faktor yang harus siap diterima. Instalasi paket umumnya dibangun dari kode sumber. Dapat juga menggunakan binari jika tersedia. Apalagi jika dirasa cukup lama kalau memilih kompilasi paket yang dibangun dari kode sumber. Pemasangan OpenOffice.org dari kode sumber memerlukan waktu kurang lebih 8 jam pada mesin PM 1,6GHz 256MB.

Karena dibangun dari kode sumber dan sistem ‘port’ ala BSD, Gentoo diklaim menghasilkan kondisi mesin yang dirasa relatif lebih optimal, efisien & cepat. Serta membuatnya mampu mengikuti pemutakhiran terkini secara berkala (sedikit demi sedikit), on the fly. Sekaligus mengatasi masalah dependensi (ketergantungan suatu paket aplikasi yang membutuhkan dukungan paket lainnya) secara otomatis. Lebih baik lagi jika didukung koneksi Internet yang baik.

Pemutakhiran manual secara ‘offline’ bisa saja dilakukan. Seperti halnya Debian, Gentoo dapat dipasang menggunakan kernel Linux (Gentoo Linux) atau kernel BSD (Gentoo BSD). Versi 2008, Gentoo menyertakan Xfce.

Untuk fungsi desktop, direkomendasikan mencoba Sabayon Linux (DVD; KDE + opsi desktop lain; paling tidak versi 3.5) yang benar-benar berfungsi ‘out of the box’ (multimedia, Bluetooth, ‘card reader’).

Debian

Ingin mencoba Linux yang tersedia untuk bermacam tipe arsitektur (universal) komputer? Disarankan mencoba distro konservatif seperti Debian. Jumlah paket aplikasi termasuk yang terbanyak diantara distro lainnya. Debian menggunakan desktop GNOME. Versi stabilnya tidak harus rilis setiap 6 bulan sekali seperti kebanyakan distro lain. Jangan coba atur alur pengembangan Debian! Selain versi stabil, Debian memiliki versi lainnya dalam satu rilis yang disebut versi ‘testing’ & ‘unstable’.

Turunannya, Ubuntu (berbasis GNOME) — yang dibangun dari kode sumber Debian ‘unstable’, lebih mengedepankan paket-paket terkini. Turunan Ubuntu seperti Kubuntu (berbasis KDE), Xubuntu (Xfce), Linux Mint, Ubuntu Studio & turunan Debian lain seperti MEPIS (berbasis KDE) lebih ditujukan untuk fungsi desktop. Tiga distro turunan terakhir (Linux Mint, Ubuntu Studio, MEPIS) bahkan mengusung fitur multimedia yang langsung berjalan dengan baik (‘out of the box’). Sebagai catatan, Ubuntu juga memiliki edisi khusus peladen (Ubuntu server, Edubuntu server).

Fedora Linux

Fedora mengemuka sebagai pengusung teknologi terkini. Walau kadang teknologi terkini belum tentu stabil. CentOS yang dibangun dari kode sumber RHEL (Red Hat Enterprise Linux; versi komersil Fedora) sering digunakan sebagai peladen. Distro Blag untuk versi desktop. Fedora kini berjuang mengembalikan masa jaya RHEL. Sempat juga dipandang sebelah mata sebagai sekadar produk uji coba bagi RHEL (seperti halnya openSUSE terhadap SUSE Enterprise).

Fitur keamanan SELinux (melengkapi Firewall) & penggunaan aplikasi yang benar-benar ‘open source’ nampak menonjol. Bukan berarti tidak bisa membaca berkas MP3 atau format proprietari/komersil/berbayar lainnya. Tampilan khas desktopnya yang biru selalu enak dilihat (alasan subjektif saya masih tertarik Fedora). :)

OpenSUSE

OpenSUSE (terutama versi 10.3) selama ini saya rasa sebagai distro yang paling ramah untuk komputer jinjing/’notebook’ saya. Tampilan grafis & detail deteksi perangkat keras yang baik (saat instalasi) nampak menonjol. Antarmuka bukan hanya mudah dikelola untuk desktop tapi juga peladen.

Perangkat konfigurasi berantarmuka grafisnya (YaST2), rasanya paling komplit dibanding yang lain. Sejak OpenOffice.org versi 2.4, sudah mampu membuka berkas Office 2007 (mis. .docx, .pptx) dengan baik karena kerjasama Novell (perusahaan di balik openSUSE) & Microsoft. Dukungan lingkungan desktop KDE & GNOME sama-sama mendapat porsi yang seimbang. Belakangan opsi KDE menjadi ‘default’ di setelannya.

Mandriva Linux

Mandriva (berbasis KDE) dan turunannya (PCLinuxOS) sama-sama mudahnya karena cukup akrab bagi pengguna desktop. Tersedia berbagai versi tergantung kelengkapan paket yang ditawarkan. Mengedepankan tampilan antarmuka grafis yang memudahkan pengguna pemula.

Slackware Linux

Slackware masih mampu dipasang pada komputer bermemori 128MB dan spesifikasi lawas lainnya. Dengan catatan aplikasi-aplikasi yang dijalankan juga tidak membutuhkan memori yang besar. Distro tua ini masih mempertahankan tradisi Unix. Kernel & desktop KDE masih murni tanpa polesan. Hampir benar-benar generik.

Slackware berbasis KDE namun menyertakan opsi desktop ringan lainnya (mis. Fluxbox, Xfce). GNOME dapat dipasang sendiri secara manual. Instalasi yang sederhana dan ‘pemaksaan’ (harus rajin membaca panduan, FAQ, Read Me) dimana pengguna harus membaca berbagai manual yang ada cukup membantu untuk mengenal ‘jeroan’ Linux umumnya.

Aplikasi yang membutuhkan banyak dependensi tertentu (mis. Inkscape) akan terasa lebih sulit dipasang manual, walau tersedia pemaketan dari pihak ketiga. Lihat juga Panduan Pemula Linux Slackware (Dani Iswara .Net).

OpenSolaris

Bukan Linux. Sistem operasi ini menggunakan sistem berkas ZFS. Terasa pas digunakan bagi pengembang yang terkait jaringan, pemrograman, JAVA. Saya belum pernah mencobanya langsung di cakram keras/’harddisk’.

Alternatif Pilihan

Apapun sistem operasi & distro anda, pilih & gunakan sesuai kebutuhan dan kemampuan. Kadang ada yang berpendapat memilih distro turunan (bukan ‘generik’) membuat ada kebebasan atau cita rasa yang kurang. :D

Untuk kemudahan pakai & deteksi perangkat keras yang relatif baik, saya merekomendasikan (versi terbaru) dari distro (generik & turunannya):

  • OpenSUSE (berbasis manajemen paket RPM ala Red Hat).
  • Ubuntu (turunan Debian; turunan Ubuntu sendiri seperti: Linux Mint, Blankon, Dewalinux, Kuliax).
  • MEPIS Linux (turunan Debian GNU/Linux).
  • Mandriva Linux (berbasis RPM).
  • PCLinuxOS (turunannya Mandriva Linux).
  • Sabayon Linux (turunan Gentoo Linux).

Untuk pengaturan / konfigurasi sistem (‘control center’) terintegrasi (Linux generik):

  • OpenSUSE.
  • Mandriva Linux.
  • Debian GNU/Linux.
  • Fedora Linux.

Untuk mengenal GNU/Linux lebih dalam (‘ngoprek mode on’), layak mencoba:

  • Linux from Scratch (LFS).
  • Gentoo Linux.
  • Slackware Linux.
  • Debian GNU/Linux.
  • Fedora Linux.

Untuk mendalami sistem operasi ‘open source’ lain:

  • FreeBSD.
  • OpenBSD.
  • NetBSD.
  • OpenSolaris.

Untuk ketersediaan paket aplikasi yang berlimpah (tidak harus distro versi terbaru):

  • Debian GNU/Linux.
  • OpenSUSE.
  • Mandriva Linux.
  • Gentoo Linux.

Kemudahan pengelolaan paket aplikasi (dengan ketersediaan paket repositori dan Internet):

  • Berbasis debian dengan apt-get-nya.
  • Berbasis rpm dengan yum dan zypper.
  • Berbasis kode sumber (tgz; ala Slackware, FreeBSD), instalasi manual, tetapi agak menyusahkan jika memerlukan banyak dependensi (mis. Inkscape).
  • Berbasis kode sumber (ala Gentoo) dengan emerge, bisa dimutakhirkan dengan mencicil.

GNU/Linux adalah pilihan. Bebas memilih. Informasi lainnya silakan mengunjungi situs web, forum & milis masing-masing distro. Beberapa juga sudah tersedia dalam Bahasa Indonesia.

Ada pendapat lainnya? :)

Just unessential weblog
Dani Iswara, mail me: [myfirstnamelastname]@gmail.com or use contact form.

You are free to share (copy, distribute, transmit) & adapt this blog post under the similar license (Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported; CCA-NC-SA 3.0 Unported). Please put these links on your copy:
Taken from: Memilih Distro Linux buat Pemula by Dani Iswara.

Unimportant Related/Random Posts

You may also read list of most popular posts and most popular tags of Dani Iswara .Net.

4 Responses to post titled: Memilih Distro Linux buat Pemula

  1. Comment by Cahya on May 22, 2009 at 12:50:24
    using Mozilla Firefox 3.0.4 on openSUSE Linux

    Hmm…, mencoba jalan-jalan dengan Open Suse dari VirtuaBox… :D

  2. Comment by Cahya on May 22, 2009 at 12:54:23
    using Mozilla Firefox 3.0.4 on openSUSE Linux

    Ha ha…., tampilannya lucu dan imut, sayang karena harus share memory dengan Vista, laptop saya bisa meleleh nih harus buru-buru sign out…

    Nanti bagi tips buat dual boot yang aman ya Bli :D

  3. Comment by Dani Iswara on May 22, 2009 at 14:37:30
    using Mozilla Firefox 3.0.10 on Gentoo Linux

    Cahya, via email itu aja ya..selebihnya dah banyak di situs
    opensuse :)

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback by Distro Linux Versi Baru, Fresh Install atau Upgrade? - Dani Iswara .Net on September 19, 2009 at 17:25:43
    using WordPress abc

    [...] hidup suatu sistem operasi bisa menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi saat memilih distro linux buat pemula (Dani Iswara .Net). Tulisan ini dibuat untuk menyukseskan Lomba Blog Open Source P2I-LIPI dan [...]

Sorry, for some reasons (sometimes due to sp*ms attack), the comment form is closed at this time. If You have any suggestions, please contact me. Thank you.

Dani Iswara .Net

Return to TOP
›› Older entries: Generik di Linux dan Kedokteran
‹‹ Newer entries: Blog Competition, SEO Contest, Physician 2.0 Award