Press Release PB IDI tentang Pengobatan tidak Ilmiah

February 18, 2009 – 00:18 by Dani Iswara. Words count: 388.

Maraknya pengobatan dan penyembuhan non medis yang ditawarkan, akhirnya memaksa PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia) mengeluarkan press release (siaran pers). Pengobatan dan penyembuhan tersebut belum dapat diterima dalam dunia kedokteran. Dengan alasan belum/tidak cukup bukti ilmiah yang mendukung.

Beberapa layanan penyembuhan non medis malah merenggut korban nyawa. Bukan saat proses pengobatan, tapi justru karena padatnya antrian. Minat masyarakat terhadap penyembuhan non medis nampak cukup besar. Harga relatif lebih murah, mudah, terbukti secara nyata (empiris), dan dikatakan non kimiawi.

Apakah sedemikian rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap pengobatan modern ala kedokteran barat? Karena pengobatan dokter jauh lebih mahal? Kultur masyarakat terhadap unsur klenik?

Beberapa metode kedokteran timur (sering disebut penyembuhan/pengobatan alternatif atau kesehatan tradisional timur) juga banyak diminati pasien. Misalnya akupunktur (tusuk jarum) dan beberapa racikan herbal (berunsur tanaman). Memang ada pengobatan tradisional yang sudah terbukti secara ilmiah. Bukan tidak mungkin, kombinasi kedokteran barat dan timur yang disebut 3rd medicine berbasis bukti (evidence based medicine) akan lebih dinikmati oleh masyarakat luas secara aman (patient safety).

Terkait polemik yang ada, agar masyarakat tidak diresahkan oleh berbagai tawaran penyembuhan dan pengobatan non medis tersebut, PB IDI menyatakan:

  1. Meminta semua pihak khususnya media masa untuk menghentikan pemberitaan/tayangan yang bersifat penyebarluasan segala cara pengobatan yang tidak sesuai dengan kaidah ilmu kedokteran.
  2. Menginstruksikan kepada semua Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk tidak membantu, memfasilitasi segala cara pengobatan yang belum terbukti secara ilmiah (belum terdapat bukti ilmiah yang cukup kuat dari sudut pandang ilmu kedokteran)
  3. Meminta pemerintah c.q. Departemen Kesehatan Republik Indonesia untuk menertibkan semua cara pengobatan yang tidak sesuai dengan kaidah ilmu kedokteran sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  4. Meminta kepada semua pihak untuk memanfaatkan sebaik-baiknya fasilitas kesehatan yang telah tersedia di seluruh Indonesia berupa: Balai Pengobatan, Puskesmas, Praktik Dokter Swasta, Rumah Sakit Negeri maupun Swasta.
  5. Meminta kepada seluruh masyarakat untuk waspada dan tidak mudah terbujuk dengan berbagai pengobatan yang irasional, takhyul, coba-coba, memberi harapan/mukjizat palsu dan meminta petunjuk/nasihat kepada dokter terdekat atau petugas kesehatan resmi (Puskesmas, Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten/Propinsi) bilamana menemui hal-hal di atas.

Sumber kuotasi dan informasi selengkapnya: Press Release PB IDI tentang pengobatan yang belum/tidak ilmiah. Pada press release PB IDI versi PDF, pernyataan tersebut ditandatangani tanggal 16 Februari 2009 oleh Dr. dr. Fachmi Idris, MKes, selaku Ketua Umum PB IDI.

Untuk polemik puyer (Dani Iswara .Net), IDI sepertinya perlu membuat pernyataan/press release serupa. Seperti yang sering dilakukan oleh Badan POM (Pengawas Obat dan Makanan). :)

Just unessential weblog
Dani Iswara, mail me: [myfirstnamelastname]@gmail.com or use contact form.

Last updated: Monday, April 20, 2009 at 0:56

You are free to share (copy, distribute, transmit) & adapt this blog post under the similar license (Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported; CCA-NC-SA 3.0 Unported). Please put these links on your copy:
Taken from: Press Release PB IDI tentang Pengobatan tidak Ilmiah by Dani Iswara.

Unimportant Related/Random Posts

You may also read list of most popular posts and most popular tags of Dani Iswara .Net.

20 Responses to post titled: Press Release PB IDI tentang Pengobatan tidak Ilmiah

  1. Comment by Rizhal on February 18, 2009 at 12:29:20
    using Mozilla Firefox 3.0.5 on Windows XP

    Antara budaya kita sebagai warga Indonesia yang masih percaya dengan hal-hal yang bersifat mistis dan pelayanan kesehatan yang menurut pengakuan sebagian besar masyarakat Indonesia dirasa kurang…
    Apakah Indonesia akan terus”an seperti ini?

  2. Comment by uwiuw on February 18, 2009 at 23:05:15
    using Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Windows XP

    wah tulisan yg menarik…fenomena ponari kadang bikin khawatir yah. Setidaknya bayangan sy kalau indonesia itu bukan negara terbelakang sudah buyar dgn cepat. hehehe

    btw, kemarin link dicopot dulu karena lagi pada ngetes plugin…sori yah sekarnag udah dipasang lagi… :D

  3. Comment by imcw on February 19, 2009 at 08:43:10
    using Flock 2.0.3 on Windows Vista

    Cuekin saja, nanti kalau terbukti tidak menyembuhkan masyarakat akan bosan juga.

  4. Comment by Dani Iswara on February 19, 2009 at 10:13:32
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Gentoo Linux

    Rizhal,
    kalo krn kebudayaan, kembali ke rasionalitas masing2 dah, pak :)

    uwiuw,
    tp kalo efek penyembuhannya nyata, gemana mas aulia?
    pilih yg mana..
    hanya saja org2 cerdas itu blm ada yg bisa menjelaskannya/menerimanya scr ilmiah..kekuatan Tuhan

    imcw,
    kl malah terbukti sembuh beneran (tanpa perlu tahu gemana proses sembuhnya), gemana.. :)

  5. Comment by Fadly Muin on February 19, 2009 at 16:07:29
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Windows XP

    Terima kasih Pak Dani atas pemberitahuannya atas gagalnya submit komentar

    mengulang komentar tidak masalah buat saya, hitung2 latihan daya ingat.. he he he

    menurut saya fenomena ponari bukanlah sesuatu yang baru dalam budaya ketimuran kita. nilai2 mistik dan masalah kesaktian telah lama eksis sebelum kita lahir..

    hanya kenapa menjadi begitu populer, itu karena ada pihak2 lain yang mencoba mengkritisi. Baik itu dari perspektif kesehatan, budaya, sosial maupun politik.

    menurut saya ada 3 elemen yg perlu disikapi dari fenomena ponari ini:
    1. dunia kesehatan
    2. pemerintahan
    3. masyarakat itu sendiri

    dan ini menjadi PR kita bersama untuk mensinergikan elemen tersebut, agar kedepannya lebih baik.

    Salam SUkses selalu

  6. Comment by Dani Iswara on February 19, 2009 at 16:37:22
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Gentoo Linux

    Fadly Muin,
    Maaf ya Pak Fadly..soalnya abis kebanjiran spam belakangan ini.. :(

    saya biasanya pake clipboard manager (linux) utk nyimpen komentar2 saya

    kl ngga ada korban jg lancar2 aja pak ya.. :)
    yah namanya jg sebatas himbauan,
    kembali ke masyarakat, hak memilih pengobatan
    risiko masing-masing lah

  7. Comment by Artha on February 19, 2009 at 17:07:43
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Windows XP

    Makasi Pak dokter informasi yang menarik untuk di bahas dan di telaah lebih dalam

  8. Comment by Wawan Purnama on February 19, 2009 at 17:58:02
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Windows XP

    IDI angkat bicara ketika hal pengobatan irasional marak terjadi., coba adakan penelitian secara random dilingkungan masyarakat menengah kebawah.. Kenapa orang pergi ke pengebatan sejenis itu? jawabannya Ongkos Rumah Sakit MAHAL. Tidak ada perrmakluman untuk mereka. Belum lagi perlakuan rumah sakit…
    Inilah penyebabnya Mas..
    Ketegasan pemerintah terhadap lembaga pengobatan tentang pelayanan kesehatan sebatas slogan..
    Saya salut dengan dokter2 yang berani membuka praktik dikampung2 kecil dengan memungut biaya hanya di bawah lima puluh ribu. Kehadiran mereka lumayan. Cukup untuk mengobati kerinduan murahnya biaya berobat.

    Tapi dokter tersebut memiliki batasan penanganan penyakit ketika menghadapi masalah yang hanya bisa ditangani oleh RS besar..
    Pantaslah masyarakan mudah terpengaruh ditengah himpitan ekonomi dan masalah yang dihadapi.

    Untuk tetap bertahan hidup, ya harus berusaha. Walaupun saya juga tidak setuju dengan praktik “Ponari” misalnya. Tapi bersyukur juga ada orang seperti dia..yang mau dengan tulus melayani puluhan ribu pasiennya dengan ongkos 10rban..
    Maaf Mas kalau menyinggung, ini uneg2 saya untuk semua orang yang terkait, mungkin juga termasuk saya.

    Masyarakat butuh bukti, bukan seminar dan janji yang keluar ruangan sudah lupa semuanya..

    Salam kenal..
    Wawan Purnama
    Http://wawanpurnama.com
    Makmurlah Indonesia..

  9. Comment by ARIEF MAULANA on February 20, 2009 at 05:06:18
    using Mozilla Firefox 3.0 on Windows Vista

    Bicara soal pengobatan alternatif sebenarnya lebih dipicu oleh emosional belaka. Kenapa saya bilang seperti itu?

    Karena orang kalau sudah bicara soal uang, emosinya yg berbicara. Saya yakin dari sekian banyak yg berobat untuk mendapatkan minuman “PONARI SWEAT”, lebih dikarenakan biaya pengobatan yg lebih murah.

    Misalkan biaya pengobatan rumah sakit umum lebih murah dari pengobatan alternatif, mungkin masyarakat kita akan lebih rasional dalam berpikir dan memutuskan kemana harus berobat.

    Just my opinion.

    Salam Sukses,
    BLOG MOTIVASI ARIEF – Support Your Success for a Better Life

  10. Comment by Dani Iswara on February 20, 2009 at 06:27:09
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Gentoo Linux

    Wawan Purnama,
    utk komponen biaya per diagnosis sedang disiasati dengan sistem Indonesia Diagnosis Related Groups (Ina-DRG), jd dengan pelayanan kedokteran yg terstandardisasi di beberapa rumah sakit, komponen biaya yang dikenakan pun sama antar rumah sakit. :)

    utk dokter2 di area terpencil dan pelosok, tunggu saja nanti putra2 daerah yg dibiayai pemerintahnya, kembali mengabdi bagi daerahnya, sambil dilengkapi oleh sejawat luar pulau yg siap mengabdi…

    ARIEF MAULANA,
    jika ada yg lbh murah, kenapa pilih yg mahal? :)
    sptnya bagi pasien, tiap peluang kesembuhan akan dicoba, jika sesuai dengan agama dan kepercayaannya

  11. Comment by Rully Nugraha on February 20, 2009 at 13:51:23
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Windows XP

    Salam kenal mas. Kasus pengobatan ala ponari dan saingan-saingannya semakin membuat kita “melek” bahwa kebanyakan rakyat bangsa ini semakin lama semakin tidak rasional. Semua ini dikarenakan biaya pengobatan yang tidak terjangkau, celakanya lagi kepercayaan terhadap pengobatan dokter mulai pudar

  12. Comment by Dani Iswara on February 20, 2009 at 14:08:35
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Gentoo Linux

    Rully Nugraha,
    berarti jg budaya pengobatan tradisional masih mendapat tempat di masyarakat, walau dianggap irasional oleh masyarakat lainnya
    sekali lg, lepas dari faktor agama
    salam kembali :)

  13. Comment by sof on February 21, 2009 at 09:53:08
    using Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Windows XP

    memang beberapa pengobatan tradisonal ada yang masih bisa dinalar, tetapi banyak yang irasional…
    Masalahnya memang biaya pengobatan di indonesia sangat mahal dan sosialisasinya kurang shg bnyak orang melirik praktek alternatif. Namun saya sih mendukung usaha IDI

  14. Comment by Dani Iswara on February 21, 2009 at 10:26:00
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Gentoo Linux

    sof,
    mas sofyan, walau jalurnya irasional, yg penting sembuh kan, paling rugi antri aja :)

  15. Comment by norjik on February 22, 2009 at 18:02:04
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Windows XP

    Kl saya melihat, ini smua hanya karena di perbedaan biaya yg signifikan pak. Dan masyarakat akhir2 ini lbh bnyk melihat simple dan bukti aja walau jelas2 kadang bukti itu susah sekali di hubungkan dg logika apalagi di hubungkan dg ilmu kedokteran. Tau2 sembuh aja !

    OOT : Pengalaman kmrn anak saya, tumbuh bintik2 banyak pada dada dan leher. Dari puskesmas diberi obat oles dan di tamnbah bedak. Sminggu gk ada hasilnya mlh semakin banyak aja. Dan kmudian saya bawa ke dokter praktek, saya kaget bgtu beliau blg justru di larang memakai bedak ? lha pdhl dari dokter puskesmas di beri bedak ?

    Inilah yg kadang membuat bingung masyarakat e pak. Pdhl di puskesmas itu khan dokter juga ?

  16. Comment by Dani Iswara on February 22, 2009 at 18:24:28
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Gentoo Linux

    norjik,
    kl digratiskan oleh pemerintah, apa bakal milih dokter, pak ya? :)

    [OOT] utk kasus itu, logikanya, beda waktu, beda perkembangan perjalanan sakit, beda penanganan mungkin, pak.
    sehingga sering dianjurkan sekian hari berikutnya untuk kontrol kembali.
    semoga lekas sembuh

  17. Comment by Cahya on June 6, 2009 at 07:11:46
    using Mozilla Firefox 3.0.10 on Windows Vista

    Saya masih ingat dulu di bangku kuliah, di saat sebuah kesempatan di mana kali itu tak tertidur :D

    Pendidik kami menyampaikan, segala pengetahuan dan keterampilan yang ditujukan bagi kesehatan dan keselamatan manusia selayaknya kita hargai bersama dalam kesamaan derajat.

    Ilmu kedokteran modern saat ini baru berusia beberapa ratus tahun dan memang mengalami kemajuan yang luar biasa pesat, namun beda jalan beda pemandangan dan pandangan, jika tidak memahami jalur pandang yang lain, adakah kemanusiaan di dalam diri kita jika kita menghakimi, menyalahkan bahkan merendahkan metode atau jalan-jalan lain yang diberikan, berbeda dengan jalan modern kita (lha toh buat apa kemudian semboyan Bhineka Tunggal Ika).

    Memang, banyak praktik alternatif yang tidak bisa dinalar secara ilmiah, namun apa berarti salah? Atau banyak praktik bahkan yang bertentangan dengan kaidah ilmiah, apa itu berarti sia-sia? Kita belajar, masyarakat belajar, tanpa ada kesalahan tidak akan ada yang dapat diperbaiki dan diperbaharui untuk menjadi lebih baik.

    Menurut saya masyarakat perlu dilindungi dari berbagai tindakan yang tidak sehat, dari praktik-praktik yang hanya berorientasi pada benifit satu pihak saja. Namun pertanyaannya, apakah selalu ini terjadi pada pengobatan tradisional dan/atau alternatif saja? Itulah yang mungkin justru akan menggelitik kita :)

  18. Comment by Dani Iswara on June 6, 2009 at 08:52:08
    using Mozilla Firefox 3.0.10 on Gentoo Linux

    kalo niatnya cari untung, jualan obat farmasi juga bisa kan.. :D ngga selalu lewat alternatif. yang salut diantaranya usaha untuk mengangkat terapi alternatif menjadi lebih rasional lagi melalui pelbagai riset. nyatanya sebagian terapi itu mulai mendapat dukungan ilmiah saat ini.

  19. Comment by Cahya on June 6, 2009 at 09:13:30
    using Mozilla Firefox 3.0.10 on Windows Vista

    Itu juga bisa membantu kita yang menggunakan based evidence medicine dan pengobatan dengan clinical reasoning…

    Mana tahu di pedalaman yang minim obat diuretik, namun bertebaran daun tempuyung, yah…, lumayan kan :D (ilmiah ga sih)

  20. Comment by Dani Iswara on June 6, 2009 at 09:59:12
    using Mozilla Firefox 3.0.10 on Gentoo Linux

    manusia ilmiah saja yang mungkin belum menemukan alasan rasionalnya :)

Sorry, for some reasons (sometimes due to sp*ms attack), the comment form is closed at this time. If You have any suggestions, please contact me. Thank you.

Dani Iswara .Net

Return to TOP
›› Older entries: Kebergunaan (Usability) Hasil Pencarian Blog di Mesin Pencari Internet
‹‹ Newer entries: Promosi Standar Web Indonesia