Puyer Meresahkan Kembali

February 15, 2009 – 21:03 by Dani Iswara. Words count: 270.

Ternyata pemberitaan di televisi dan media cetak belakangan ini telah membuat puyer menjadi bintang kembali. Bahkan meresahkan beberapa lapisan masyarakat.

Liputan tersebut pun tersalin di beberapa situs web, blog, forum, Facebook, dan lintas email. Kadang tanpa menyebut sumber. Atau taut sumber yang kurang jelas. :( Konsep HONcode bagi situs yang memberitakan kesehatan mungkin perlu diaplikasikan. Copy-paste tanpa etika bisa merugikan pencari informasi yang datang dari mesin pencari.

Pantas saja tulisan lama seputar puyer di blog ini kembali mendapat beberapa komentar kritis.
Simak dulu tulisan berikut di blog Dani Iswara .Net:

  1. Menggugat Puyer tidak Rasional,
  2. Puyer, Polifarmasi, Pengobatan tidak Rasional.

Pada topik kali ini, kata puyer dan bahasannya, sebenarnya dapat diganti dengan beberapa kata lain, misalnya:

  • takaran obat yang kurang tepat,
  • berlebihannya peresepan obat,
  • peracikan obat yang tidak higienis, dan sejenisnya.

Puyer menurut Ahlinya

Lalu telusuri juga tulisan dr. Widodo Judarwanto, SpA (spesialis anak) dengan ulasan yang cukup jelas dan lengkap. Judulnya Sudahi Kontroversi Puyer, Membuat Masyarakat Bingung.

Jika ingin mengetahui pendapat para apoteker, sila menelusuri mesin pencari Internet–Google–dengan kata kunci apoteker puyer. Misalnya tulisan berikut: Apoteker Menjamin Keamanan Puyer oleh Mohamad Dani Pratomo. Harus log masuk untuk berkomentar di blog Apotek Kita tersebut.

Simpulannya, puyer memang masih bisa diberikan pada beberapa situasi sesuai pertimbangan dokter. Apoteker dapat pula memberi pertimbangan pada dokter terhadap rasionalisasi kombinasi dan interaksi obat. Tapi tanggung jawab tetap ada pada dokter sebagai penulis resep.

Tinggal bagaimana peracikan dan hal-hal yang meresahkan lainnya diatasi melalui pemberian resep obat yang rasional dan pengolahan yang higienis.

Mungkin besok-besok dokter dan apoteker harus mulai mengkhawatirkan adanya kamera tersembunyi, kamera telepon seluler, dan perekam suara di ruang kerja atau praktik. :mrgreen:

Just unessential weblog
Dani Iswara, mail me: [myfirstnamelastname]@gmail.com or use contact form.

Last updated: Tuesday, February 24, 2009 at 0:39

You are free to share (copy, distribute, transmit) & adapt this blog post under the similar license (Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported; CCA-NC-SA 3.0 Unported). Please put these links on your copy:
Taken from: Puyer Meresahkan Kembali by Dani Iswara.

Unimportant Related/Random Posts

You may also read list of most popular posts and most popular tags of Dani Iswara .Net.

19 Responses to post titled: Puyer Meresahkan Kembali

  1. Comment by gdenarayana on February 16, 2009 at 23:38:18
    using Mozilla Firefox 3.0.5 on Windows Vista

    hehehe kocak juga pak dokter yang satu ini :mrgreen:

    diruang apoteker ada kamera tersembunyi seperti acara investigasi di televisi itu, untuk kenyamanan publik (publik jadi tau sesuai aturan ndak takarannya :D )

    secara logika setuju dok, karena takaran dan dosis itu bisa saja ngawur karena kesalahan human errornya meskipun sudah ditetapkan atau memang sudah ada takarannya, namanya human kan pasti ada icip – icip kesalahanya :lol:

    sepertinya musti dirembugin bareng tuh dok masalah obat supaya semua merata kesehatannya, seperti postingan pak dokter yang lainnya itu, di ibukota aja msh ada yg jual puyer apalagi di desa :)

    terus terang saya baru malah tahu info klo puyer udah quo vadis :mrgreen:

    maklum bli nak desa soalne :D

    makasih dok infonya, sekalian kan bisa nyebar infonya juga ke temen2 ;)

    suksma :)

  2. Comment by Baka Kelana on February 17, 2009 at 02:33:43
    using Mozilla Firefox 3.0.5 on Windows XP

    Wach…jadi tahu sekarang kalau puyer itu gak bagus, thakns ya Dok atas pencerahannya…salam kenal ya

  3. Comment by imcw on February 17, 2009 at 10:19:14
    using Opera 9.63 on Windows Vista

    Pengalaman saya meresepkan puyer memang lebih nyaman dalam mengatur dosis.

  4. Comment by Origami on February 17, 2009 at 10:38:26
    using Mozilla Firefox 3.0.3 on Ubuntu Linux 8.10

    aduh, maaf, komennya kehapus… maaf… pake hape N73, diinstall opera… hehehehe… maaf ya bli… ada ym?

  5. Comment by septa on February 17, 2009 at 13:04:04
    using Mozilla Firefox 3.0.5 on Windows XP

    guys…ikutan 3rd IBSN Blog award yuk..

    akhir pandaftaran artikel 25 Maret ‘09 jam 23.59 wib..

    IBSN = Berbagi Tak Pernah Rugi ^_^

    http://ibsn.web.id/3rd-ibsn-blog-award

  6. Comment by dani on February 17, 2009 at 14:21:58
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on openSUSE Linux

    gdenarayana,
    sptnya memang blm semua produk obat tersedia dlm bentuk sirup/tetes utk anak
    shg puyer lah pilihannya
    kecuali si anak bs nelen tablet/kaplet dgn sukses
    lepas dari persaingan pabrik obat :)

    Baka Kelana,
    bukan berarti absolut ngga bagus lho ya
    tergantung peresepan, kombinasi, interaksi, peracikan higienis

    imcw,
    kec RS/klinik sudah menyediakan sediaan sirup/tetes yg dibutuhkan :) dan menganjurkan jangan puyer demi menghindari masalah peracikan yg mungkin blm higienis (mis. blm tersedia kertas bungkus puyer khusus)

    Origami,
    [OOT] gak pa pa, bli komang.. YM dll ada di halaman kontak
    tp saya jarang nge-chat, facebook, dll :mrgreen:
    mail mungkin masi sempat saya liat kl koneksi lg ngga merayap

  7. Comment by a! on February 17, 2009 at 15:36:10
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Windows XP

    puyer itu kan indonesia banget. jd ya kenapa mesti ditakutkan. toh buktinya dia lebih manjur.

    kali ini permainan perusahaan farmasi. biar obat sirup dan pil lebih laris.

  8. Comment by Dani Iswara on February 18, 2009 at 09:00:17
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Gentoo Linux

    a!
    saking Indonesianya ampe plg sering dilakuin di negara kita oleh dokter kita
    di bbrp negara lain ktnya ada yg masi make puyer walau jarang

    yg ditakutin itu biasanya seputar masalah takaran dosisnya, kebersihan alat gerus dan penggerus (beda lah dgn standar di pabrik obat), sisa obat yg menempel di mortir, kestabilan obat, interaksi obat yg memang tdk boleh digerus, kombinasi obat berlebihan, dll :)

  9. Comment by hade on February 19, 2009 at 07:29:40
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Windows XP

    Pak Dokter,
    Kalau menurut saya justru jangan khawatir denga kamera tersembunyi kalau memang peracikannya benar (higienis, sesuai takaran dll), jadi pasien nyaman dengan pelayanan apotikernya….

  10. Comment by Dani Iswara on February 19, 2009 at 10:04:53
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Gentoo Linux

    hade,
    biasanya sih, peracikan obat di apotek, oleh asisten & apoteker, kl punya ruangan dan fasilitas khusus, ngga sembarang org bisa masuk/lihat, utk menjaga kebersihan jg (utk itu, pasien nunggunya harus sangat sabar)

    atau mungkin sekalian saja, ruang peracikan resep di apotek dibuat transparan kayak etalase, pak hadi :mrgreen:
    jd masyarakat lbh percaya, bisa langsung lihat aktivitas pas petugasnya nimbang, nakar, gerus, bagi, kemas, bersihin alat, dll :D

  11. Comment by hade on February 19, 2009 at 11:27:02
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Windows XP

    Dani Iswara :
    atau mungkin sekalian saja, ruang peracikan resep di apotek dibuat transparan kayak etalase, pak hadi

    Hade :
    Dalam situasi kepercayaan masyarakat yang sedang menurun spt sekarang ini ada baiknya ide Pak Dokter ini direalisir. Saya yakin yang bersedia respon spt yang Pak Dokter sampaikan hanya apotik yang mempunyai target service ecxellent.
    Ini strategy pemasaran Pak Dokter, sama spt penjual gorengan yang memajang minyak kemasa di dekat penggorengan karena untuk meyakinkan konsumen bahwa ybs tidak menggunakan minyak curah…

  12. Comment by Dani Iswara on February 19, 2009 at 12:30:14
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Gentoo Linux

    hade,
    Pak Hadi, masalahnya, peracikan obat (compounding puyer, kapsul, sirup) di apotek masih sulit memenuhi standar (yang mana[?]) seperti di pabrik obat :(

    entahlah, beban petugas farmasi yg meningkat mungkin juga malah membuat harga obat naik..

    atau pabrik farmasi mengeluarkan bbrp versi obat-2an yg memang boleh utk digerus :D

  13. Comment by hade on February 19, 2009 at 13:06:09
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Windows XP

    Rasanya ide terakhir cukup baik pak Dokter.
    Pagi tadi saya liat rcti yang melaporkan kondisi diMalaysia yang tidak mengenal puyer. Artinya, disana obat dalam bentuk puyer dihindari oleh dokter/apotiker.

    OK Pak Dokter, terima kasih atas diskusi ini.
    Kalau mau konsultasi lagi spt kemarin ihwal anak bolehkah?

  14. Comment by Dani Iswara on February 19, 2009 at 14:18:56
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Gentoo Linux

    hade,
    mungkin di sana kurang kreatif dari sisi medical art dan common sense, pak hadi :D atau kita di sini yg terpaksa me-legal-kannya kr keterbatasan yg ada… :(

    sila via mail aja, ya pak atau di milis dokter umum juga bole :)

  15. Comment by hade on February 19, 2009 at 17:17:14
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Windows XP

    Sepertinya yang no dua tuh…. :-)

    Terima kasih, saya akan konsultasi per email aja ya…, lebih leluasa heheh….
    Kebetulan dua anak saya sedang ada gejala penyakit yang rada bikin pusing nih….

  16. Comment by mashengky on February 20, 2009 at 07:29:20
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Windows XP

    saya lihat di seputar indonesia, memang mengerikan kalo bermain2 dengan obat2an, apalagi obat untuk anak kecil yang badannya masih belum kuat menghadapi radiasi obat..

  17. Comment by Dani Iswara on February 20, 2009 at 11:06:08
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Gentoo Linux

    mashengky,
    obat kadang terpaksa diberikan krn memang dibutuhkan pd situasi tertentu, mas hengky
    itu pun dipilih yg efek sampingnya tidak ada atau minimal

  18. Comment by Sugeng on February 21, 2009 at 20:58:11
    using Internet Explorer 6.0 on Windows XP

    Makasih pak atas infonya, memang saya sudah dengar infonya di tv. Padahal setiap anak saya sakit dan dibawa ke dokter anak selalu dikasi puyer. Kadang sih saya liat & dengar di apotik waktu nyampur pake blender. Jadi ngeri………….. :(

  19. Comment by Dani Iswara on February 21, 2009 at 21:38:32
    using Mozilla Firefox 3.0.6 on Gentoo Linux

    Sugeng,
    sama-sama maklum lah pak dengan kondisi nyata di lapangan..

Sorry, for some reasons (sometimes due to sp*ms attack), the comment form is closed at this time. If You have any suggestions, please contact me. Thank you.

Dani Iswara .Net

Return to TOP
›› Older entries: Make Subscribe to Comments more Usable
‹‹ Newer entries: Belajar Desain Web-Blog dari Situs Lokal