Antara peramban Opera, Safari, Google Chrome, Flock, Firefox
April 25, 2009 – 13:32 by Dani Iswara. Words count: 693.Last updated: Saturday, May 2, 2009 at 16:38.
Mengapa saya bukan pengguna rutin peramban desktop Opera, Safari, Google Chrome, Flock, Maxthon, Midori, Konqueror, Kazehakase, atau yang lainnya? Maaf, Internet Explorer kita lupakan saja dulu.
Tulisan ini sebenarnya ‘draft’ lama yang dipermak lagi sedemikian rupa.
Ya, sampai saat ini saya masih lebih sering menggunakan peramban Mozilla Firefox (fx) di mesin Linux. Tapi (berusaha) tidak fanatik!
Beberapa varian Firefox khusus Linux yang bisa dicoba diantaranya SwiftWeasel, IceWeasel, Swiftfox. Peramban turunan Fx, Camino, ada di MacOS.
Fitur dan kemampuan menawan peramban
Tiap peramban versi terbaru memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Selain tampilan antarmukanya, fitur-fitur yang ditawarkan pun terus berkembang. Di satu sisi, para pengembangnya berupaya menjaga faktor keamanan dan kemudahan pakai. Di sisi lain, rencana-rencana pengembangan untuk mendukung teknologi web terbaru terus diujicobakan.
Hampir ideal
Peramban berbasis antarmuka grafis (GUI) yang:
- memiliki ukuran berkas ‘installer’ paling ringan (sekitar 5-6MB untuk versi Windows; 7-8MB untuk versi Linux),
- komplit ‘by default’ (‘browser’ dan ‘mail client’ terintegrasi)–’browser suites’,
- tetap cepat dan gegas,
- memiliki versi ‘portable’,
- memiliki versi multi-sistem operasi (setidaknya bisa dipasang di Windows, Mac, Linux, FreeBSD, OpenSolaris, BeOS),
saat ini, pilihannya hanya satu, Opera! Hampir mendekati ideal.
Soal kecepatan membaca dan menampilkan halaman web dengan baik, Safari juga sangat layak direkomendasikan untuk pengguna Mac dan Windows.
Integrasi dengan ’social networking’
Berbagai fitur ’social networking’ ditanamkan pada peramban Flock (yang bermesin Gecko, serupa Firefox). Peramban ini cocok bagi pengguna Internet ber-’bandwidth’ lega. Tapi tidak bagi fakir seperti saya. ![]()
Apakah ada pesaing lainnya sekelas peramban ini?
Standar web dan aksesibilitas
Untuk kemampuan menerapkan standar web (X/HTML, CSS, JavaScript) dan aksesibilitas, saya mengunggulkan Opera yang bermesin Presto dan Safari yang bermesin WebKit (Google Chrome bermesin serupa dengan Safari). Coba uji peramban favorit anda di Acid3 Test. Uji seri-seri sebelumnya ada di Acid Tests (dari ‘The Web Standards Project’).
Kedua peramban juga sudah memiliki fitur aksesibilitas terintegrasi tanpa bantuan pengaya (‘add-on’).
Mendukung teknologi masa depan
Dukungan terhadap teknologi masa depan juga senantiasa diolah di dapur tiap pengembangnya. Sebagian masih berupa proposal dan rencana pengembangan/’draft’.
Untuk melihat kemampuan peramban membaca:
- ‘Accessible Rich Internet Applications’ (ARIA), coba buka halaman: contoh ARIA dari ‘Illinois Center for Information Technology Accessibility’ dan Set of ARIA Test Cases dari Code Talks.
- HTML 5, coba di: Test new elements oleh Bruce Lawson (liriknya Gita Gutawa kok jadi gitu..).
- Animasi SVG, tes di teks bergerak, rotasi, dan warna latar bergradasi dari W3Schools.com. Opera terbaru masih unggul.
Baca juga Inline SVG and Valid XHTML on WordPress.
Khusus Google Chrome, fitur pengontrol ‘crash’-nya unik. Karena tiap tab berdiri sendiri. Jika ada yang ‘crash’, tidak sampai menutup seluruh jendela peramban. Cek di Developers and webmasters: Task manager.
Masih dengan Fx
Selain bisa dipasang di sistem operasi Linux, hanya ada satu alasan lain mengapa saya masih rutin memakai peramban Mozilla Firefox. Kemudahan menambahkan fitur evaluasi dan pengecek web pada ekstensi ‘Web Developer’ seperti tampak pada Gambar 1 (di bawah):
belum saya temukan di peramban lain.
Kalau ada peramban dengan kemampuan sejenis, saya akan ikut berpaling seperti pengguna-pengguna yang lain.
[Updated 2 Mei 2009] Jika dr. Deddy Andaka Berpaling ke Google Chrome, saya sementara ini masih tetap memakai Firefox.
Pengaya Fx, keunggulan sekaligus kelemahan
Adanya pengaya (‘add-on’) pada Firefox merupakan nilai tambah sekaligus kelemahan. Karena pengaya berpotensi mengakibatkan ‘crash’ pada Fx.
Khusus untuk pengguna Firefox, seperti yang dialami Deddy Andaka dan mungkin pengguna lainnya, ‘crash’ pada peramban Fx (dan variannya) biasanya dikarenakan:
- Ketidakcocokan atau kompatibilitas ekstensi/’extension’).
Mungkin lebih terasa sesudah melakukan pemutakhiran versi peramban. Alternatif solusi:
- Mutakhirkan/perbarui ekstensi.
- Coba nonaktifkan semua ekstensi.
- Buat profil baru, atau
- Jalankan peramban dengan versi standar (’safe mode’) tanpa kustomisasi.
Lalu start ulang peramban.
- Konflik dengan pengaya lain (‘plugin’, ‘theme’). Solusi seperti di atas.
Telusuri juga solusi yang disarankan dari Mozilla di Standard Diagnostic (‘knowledge-base’-nya MozillaZine).
Jika ingin membandingkan antar peramban, ya sebaiknya ‘apple’ to ‘apple’. Sama-sama ‘fresh install’.
Fitur peramban selengkapnya bisa dibaca di situs ‘official’/resmi berikut:
- Fitur Opera dan Spesifikasi web yang didukung Opera Presto 2.1.1,
- Fitur Safari,
- Fitur Google Chrome,
- Fitur Flock,
- Fitur Firefox dan Firefox Brainstorming dari MozillaWiki.

Comment by d3ptzz on May 2, 2009 at 18:46:37
using Internet Explorer 6.0 on Windows 2000
saya pengguna firefox.. Walau ga fanatik juga.. Sering juga pake opera..
Pernah pake flock, pake chrome, pake seamonkey. Tapi entah belum cocok rasanya.haha..
Comment by Dani Iswara on May 2, 2009 at 19:25:51
using Mozilla Firefox 3.0.10 on Gentoo Linux
d3ptzz,
eh iya itu seamonkey, mestinya duelnya ama opera
lg jaga kandang ya, bos..
utk IE6 users, ‘legend’ di ‘fieldset’ comment form ini jd keliatan ter-indent ya..entah gemana ngakalinnya..maap aja buat IE
Comment by nomercy on May 2, 2009 at 20:24:08
using Mozilla Firefox 3.0.10 on Linux Mint 6
sama seperti mas dani .. (gak dianggap ikut2an kan?
)
saya lebih memilih fx untuk sehari-hari dikarenakan ada addon buat pengecekan web dev dan cukup lengkap, jadi sangat membantu kita kalau mau develop ..
pilihan kedua tetap opera karena yg paling bisa mengimplementasikan berbagai standar ..
terkadang memang adakalanya juga memakai google chrome dan safari, ini kalau pas pake komputer kantor ..
ya mudah2an ke depannya berbagai standar dapat diimplementasikan oleh setiap browser secara lebih baik lagi, jangan seperti sekarang ini yang satu poin didukung oleh satu browser dan selanjutnya poin berikutnya ..
internet explorer? lupakanlah …
Comment by Dani Iswara on May 2, 2009 at 23:01:27
using Mozilla Firefox 3.0.10 on Gentoo Linux
nomercy,
IE saya pake cuman untuk ngecek kompatibilitas sepintas..ngga mungkin mengharapkan tampilan web akan persis serupa di pelbagai peramban..mesti ada perbedaan minornya..
Comment by Cahya on May 4, 2009 at 16:51:16
using Mozilla Firefox 3.0.10 on Windows Vista
Kalau saya menggunakan menggunakan Firefox untuk semua “privat browsing” di mana semua cookies pribadi tersimpan, sedangkan untuk tamu yang mau akses dari komputer saya, saya persilakan menggunakan Chrome atau pun IE.
Comment by Dani Iswara on May 4, 2009 at 18:42:39
using Mozilla Firefox 3.0.10 on Gentoo Linux
Cahya,
terlanjur parno..
kalo yg minjem linux saya malah saya sediain login tersendiri sbg user biasa lainnya..abis itu bebas mau diapain tuh sistem..
di sistem sendiri pun, saya ngga biarin fx nyimpen segala macem password-nya
Comment by Cahya on May 4, 2009 at 23:36:13
using Opera 9.64 on Windows Vista
He he…, jalan-jalan naik opera nih ceritanya…
Kalau saya menggunakan berbagai kata kunci berbeda untuk masuk masing-masing situs, terdiri dari kombinasi fixed word dan catagorial number, karena sudah mulai pikun jadi ga bisa ingat semua password itu (walau saya sendiri punya rumus untuk mendeskripsinya) tapi itu pun kalau pas inget…, kalau pas lupa…, masa mau direset … bisa sih…, tapi rasanya kelamaan (untuk kepentingan urgent jika timbul)…
Kalau login sendiri misalnya pakai account guest di Windows…, hmm…, rasanya agak ribet juga, mutus sambungan internet baru login lagi. Namun itu sih kecenderungan masing-masing orang. Memang sweeping & cleaning password di browser diperlukan, saya lakukan berkala (bersih-bersih akhir tahun
)
Comment by Dani Iswara on May 5, 2009 at 08:49:23
using Mozilla Firefox 3.0.10 on Gentoo Linux
Cahya,
kalo ngga salah, di linux, jika koneksi Inet pake kuasa root, user lain bisa langsung koneksi jg di mesin/jaringan yg sama..cmiiw
Comment by Cahya on May 18, 2009 at 23:21:16
using Google Chrome 2.0.170.0 on Windows Vista
Saya hanya penasaran, saya yang salah lihat alias perasaan saja, atau memang font yang ada di Chromium lebih “clear” jelas terbaca dibandingkan di Firefox, saya selalu melihat kesan ini begitu jelas jika membuka halaman login situs game Travian Online (he he ketahuan sering nge-game)
Atau memang beda ya?
Comment by Dani Iswara on May 19, 2009 at 01:55:05
using Mozilla Firefox 3.0.10 on Windows XP
Cahya,
mesin rendering font WebKit (safari, chrome, midori) memang lbh halus
Comment by natalie on June 17, 2009 at 20:58:11
using Safari 530.17 on Windows XP
saya pakai safari, dan merasa nyaman, krn firefox yg akhir akhir ini menjadi agak ‘lemot’ ini sedang mencoba flock. semoga nyaman juga dengan flock. belum mencoba seamonkey. tapi safari bisa diandalkan
Comment by Dani Iswara on June 17, 2009 at 22:25:14
using Mozilla Firefox 3.0.11 on Gentoo Linux
natalie,
untuk browsing dan mailing, safari dan opera sepertinya sangat mumpuni. flock bukannya malah lebih berat dibanding firefox karena banyak fitur web 2.0+ related-nya?
sepertinya juga, firefox (fx) lebih disukai untuk pengembangan web oleh para web developer/designer karena banyak pengaya (plugin dan ekstensi) yang mendukung.
Comment by sany_1987 on July 4, 2009 at 23:43:33
using Opera 10.00 on Windows XP
Lok gue sih opera buangetzz
Comment by chan on July 24, 2009 at 09:21:02
using Mozilla Firefox 3.0.10 on Windows XP
sebagai orang awam,,,dah nyaman dengan Chrome,,soalnya ringan,,gak lemot
tapi skarang lagi mencoba flock..cuz naksir dengan tampilan dan fitur2nya..walaupun agak2 lemot seperti firefox.. hehe…
Comment by arif arka on December 11, 2009 at 19:44:58
using Mozilla Firefox 3.0.15 on Windows XP
bagus smua,trgntung internetnya….