Mempertanyakan Web Usability dan SEO

May 21, 2009 – 10:01 by Dani Iswara. Words count: 530.
Last updated: Wednesday, May 27, 2009 at 10:54.

Kebergunaan (‘usability’) web dan pengoptimalan mesin pencari Internet/’Search Engine Optimization’ (SEO) kadang disalahgunakan. Di satu sisi, untuk apa menyajikan informasi di web tanpa melihat kebutuhan pengunjung dan pengguna? Tanpa manfaat? Hanya menguntungkan bagi pengelola situsnya saja? Di sisi lain, menulis di web/blog hanya sebagai media belajar tanpa terbebani permintaan dan kepuasan pengunjung.

Pengunjung menggunakan web untuk memperoleh sesuatu, bukan? Lebih menyempit lagi, bukankah pengguna yang datang dari mesin pencari Internet ingin menemukan/mengetahui hal tertentu? Walau pastinya ada juga yang tidak mempersalahkan dan mencerna begitu saja apa pun yang ditemuinya di web. :)

Saran penyajian konten yang berguna (‘usable’)

Writing for the Web – Design dari Usability.gov menyarankan 6 hal logis berikut:

  1. Bagi teks dalam kelompok kecil.
  2. Gunakan sub judul.
  3. Tulis judul/sub judul yang bermanfaat/bermakna.
  4. Buat judul/sub judul yang menggambarkan konten.
  5. Jika informasi berupa urutan peristiwa/topik, buat dengan runut.
  6. Jika bukan berupa urutan tertentu, sampaikan hal pentingnya di awal.

Manifestasi dari hal di atas, teknisnya, buatlah konten yang menyajikan:

  • Blok konten yang pendek.
  • Paragraf pendek.
  • Kalimat pendek.
  • Daftar (‘list’).
  • Tabel.
  • Gambar.
  • Contoh-contoh.

Sehingga dianggap akan lebih berguna bagi pengunjung.
Beralasan, karena pengunjung web:

  • membaca menggunakan mata — yang berhadapan dengan layar monitor (layar memancarkan sejumlah cahaya) menyebabkan ketahanan mata terbatas dan mudah lelah,
  • ingin memperoleh informasi secepatnya,
  • tidak punya banyak waktu di depan Internet, apalagi jika biaya akses dihitung per waktu,
  • merasa masih banyak halaman web lain yang harus ditelusuri,

akan menggunakan cara membaca cepat semacam ’skimming’ (menemukan ide utama konten dengan teknik tertentu) dan ’scanning’ (menelusuri kata-kata spesial/kunci).
Daftar di atas berdasar ‘usability’. Dari sudut pandang aksesibilitas web, ada rekomendasi menulis konten menurut WCAG (‘Web Content Accessibility Guidelines’).

‘Usability’, SEO, dan bahasa

Saya pribadi melihat ada ‘penyalahgunaan’ pemanfaatan hal-hal teknis tersebut di atas. ‘Usability’ menganjurkan kemudahan pakai/baca dengan menyesuaikan pada bahasa pengguna. SEO pun prinsipnya demikian. Bahasa Indonesia dan prinsip jurnalisme mungkin memiliki acuan tersendiri. Berikut ini beberapa rinciannya dalam contoh kalimat tanya:

  • Apakah satu blok paragraf yang memiliki judul <h2> atau <h3> cukup menyajikan 1-2 kalimat saja?
  • Demi paparan di mesin pencari Internet (’searchability’; ‘findability’), apakah penggunaan ejaan yang salah masih harus disertakan? Karena nyatanya kata-kata tersebut salah kaprah, tapi masih sering muncul dalam kueri (‘query’) hasil pencarian. Misalnya kata: praktek vs praktik, apotik vs apotek, malpraktik vs malapraktik (kata kedua dianggap baku/dianjurkan untuk dipakai). Lihat juga Istilah Kesehatan-Kedokteran di KBBI Daring.
  • Apakah setiap istilah asing harus ditulis tercetak miring? Walau tidak langsung terkait dengan kata kunci pada konten? Apakah mesin pencari Internet akan menganggapnya sebagai teks spesial dan memberi bobot tertentu (karena dianggap sebagai kata kunci/’keyword’)?

Jika ada yang lain, silakan ditambahkan di bagian komentar.
Semantik dan aksesibilitas web terkait penulisan kode (X)HTML (‘Extensible HyperText Markup Language’) memang sengaja tidak dibahas di tulisan ini.

Melihat asas manfaat, wajar jika tulisan di web/blog serentak menyajikan peristiwa terkini. Karena memang kata kunci tersebut sedang populer. Tapi bukan berarti harus senada dengan media lain. Tiap blog bahkan bisa memberi sudut pandang yang unik. :)

Simpulan

Menulis di web/blog sedikit banyak menuntut pemahaman teknis. Karena media web berbeda dengan media cetak biasa. Kebergunaan (‘usability’) blog bisa mengandung unsur subjektif. Tapi subjektif yang diterima banyak orang (mungkin saja ‘orang’ itu belum termasuk anda dan saya). :) Bagi pengguna tertentu, aksesibilitas adalah kata yang tepat. Kepentingan ‘usability’ dan SEO mungkin berbeda dengan anjuran berbahasa yang baik (walau tidak harus baku).

Just unessential weblog
Dani Iswara, mail me: [myfirstnamelastname]@gmail.com or use contact form.

You are free to share (copy, distribute, transmit) & adapt this blog post under the similar license (Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported; CCA-NC-SA 3.0 Unported). Please put these links on your copy:
Taken from: Mempertanyakan Web Usability dan SEO by Dani Iswara.

Unimportant Related/Random Posts

You may also read list of most popular posts and most popular tags of Dani Iswara .Net.

20 Responses to post titled: Mempertanyakan Web Usability dan SEO

  1. Comment by Arie Putranto on May 27, 2009 at 15:23:37
    using Google Chrome 0.2.149.29 on Windows XP

    Well .. kalo menurut saya sih, tata bahasa dan tipografi tulisan pada konten website tidak harus terpaku pada kaidah tertentu, apalagi hanya website/blog yang dibuat just for fun serta meramaikan dunia blog.

    Meski efeknya berimbas pada website yang serius yang kadang-kadang tertatih-tatih mendapatkan pengunjung, kaitannya dengan SEO.

    Dan ketika SEO dan kunjungan ke blog menjadi ukuran suksesnya blog, semua menjadi kacau, imbasnya website yang dibuat sebagai referensi atau profil bisnis malah tenggelam oleh kesemrawuta dunia blog, apalgi tiba-tiba semua blog membicarakan SEO dan mempraktekkan SEO secara asal tanpa mempedulikan bahwa pembaca tentu menggunakan Search Engine untuk mendapatkan informasi, dan biasanya mereka nyasar ke blog tertentu yang sengaja menembak keyword dengan kata kunci tertentu untuk mencuri traffic.

    Pencuri, uang, barang atau traffic tetap saja pencuri.

  2. Comment by rismaka on May 27, 2009 at 16:19:58
    using Mozilla Firefox 3.0.10 on Windows XP

    Yup betul sekali. Senada dg apa yg diutarakan mas Putranto, saya pribadi sebenarnya agak protes dengan “malpraktik” yg dilakukan oleh banyak blogger, yakni menembak keyword yang tidak semestinya. Mereka seakan seperti oknum pedagang yang hanya ingin barang dagangannya dibeli tanpa memperhatikan kualitas barang yg dijual (walau saya juga pernah siy…)

    Tapi repot juga seandainya search engine menerapkan kaidah-kaidah tertentu seperti di atas sebagai acuan kesuksesan suatu artikel menempati SERP teratas, karena banyak orang indonesia yg tidak paham juga kaidah berbahasa dan menulis yg baik (contohnya saya). Jika hal tsb diterapkan oleh search engine dalam menganalisis setiap web yg diindexnya, walhasil hanya guru/dosen/ahli bahasa indonesia saja yang akan memenangkan pertarungan SEO ini.

    Itu mengenai usability, seo, dan bahasa. kalau mengenai penyajian konten yang berguna, mungkin search engine harus mempunyai algoritma tertentu deh, dan rasanya akan sangat sulit dilakukan oleh MESIN pencari, kecuali jika mesin pencari itu jenius seperti manusia. Dan hal tersebut tampaknya mustahil.

    Mungkin memang kita harus berkompetisi secara sehat saja di dunia maya ini dengan para “pencuri trafik” tersebut, tapi tentunya hanya waktu lah yang akan membuktikan siapa yg terbaik. Biarlah proses “screening” / seleksi alam (oleh pembaca) yang akan menentukan website mana yg pantas dikunjungi lagi dan pantas dikasih aplaus hehe…

  3. Comment by Cahya on May 27, 2009 at 17:32:19
    using Mozilla Firefox 3.0.10 on Windows Vista

    Kalau tulisannya informatif memang sesuai Bli, namun juga terkadang kita menemukan blog yang bersifat personal, dan tentunya sebuah kaidah “resmi” yang implisit tidak akan berlaku.

    Saya sering mengunjungi beberapa blog temen-temen, yang sudah tatanannya amburadul (ga tahu mana yang bisa diklik mana yang tidak), udah gitu tulisannya ga penting-penting banget (kaya saya sedang bercermin saja), namun tetap saja menarik sebagai sebuah blog.

    Saya juga pernah menemukan sebuah blog yang memuat artikel kedokteran (dan juga tentang linux) begitu apik dan rapi, plus ada catatan kakinya segala, eh…, baru dirunut ke bawah, catatan kakinya tidak mengarah ke manapun, bahkan tidak ada sumber penjelasannya atau kepustakaannya.

    Jadi memang penting menulis seperti yang Bli Dani sarankan untuk sebuah tulisan yang formal atau pun semi formal, namun … aspek legalitas dan nilai tulisan pun mesti dijadikan pertimbangan :D

  4. Comment by d3ptzz on May 27, 2009 at 18:33:06
    using Mozilla Firefox 3.0.10 on openSUSE Linux

    wah. kalau saya malah tidak paham dengan SEO.. Kalau mau nulis ya nulis.. tidak berpikir tentang trafik dan sebagainya. Biarkan trafik datang dengan sendirinya…hehe

  5. Comment by Dani Iswara on May 27, 2009 at 20:54:27
    using Mozilla Firefox 3.0.10 on Gentoo Linux

    Mas Arie sebagai praktisi SEO pasti lebih paham..
    kondisi ini saya balik/pertegas dengan bahasa: berarti web/blog yang bahasanya baku dan benar seperti yang dimiliki para jurnalis itu jadinya kurang akrab mesin pencari kan? :)

    kalo itu sih saya melihatnya sebagai usaha dan latihan..walau sebagai pengguna sering merasa tertipu juga.. :D

  6. Comment by Dani Iswara on May 27, 2009 at 21:13:55
    using Mozilla Firefox 3.0.10 on Gentoo Linux

    jika latihan menembak itu dianggap cara instan, mungkin masih bakal laris dipakai :)

    walau Google sepertinya tidak seketat itu, tapi Google dan mesin pencari Internet lain kan sudah bisa menyarankan pranala/keyword tertentu jika penggunanya salah ketik. apalagi Google sudah ada versi bahasa Indonesia.

    bisa dilihat di Google, coba telusuri kata-kata baku, masih sedikit yang mengisi halaman 1-2 SERPs.

    entah jika disebut kompetisi. tapi situs web/blog pemakai bahasa baku seperti milik para jurnalis, mungkin tidak akan pernah menerima pengunjung tersasar yang memakai keywords kata-2 non baku . :)

  7. Comment by Dani Iswara on May 27, 2009 at 21:33:37
    using Mozilla Firefox 3.0.10 on Gentoo Linux

    kalo tulisan non-baku, mungkin merasa tidak perlu nembak keywords, kecuali memang lagi latihan nembak tren berita terkini..yang terakhir ini bahkan jeli memasukkan kata kunci baku dan non baku secara sengaja. :)

    penting gak penting, yang penting unik kan..

    jika memang ada unsur objektif, lebih baik mencantumkan pranala yang valid. lepas dari semua itu, blog sebaiknya memang punya ciri khas personal (termasuk subjektivitas) dibanding web biasa.

  8. Comment by Dani Iswara on May 27, 2009 at 21:46:19
    using Mozilla Firefox 3.0.10 on Gentoo Linux

    menurut pakarnya, kan tidak ada hasil tanpa usaha.. :) apalagi untuk yang butuh konversi dari trafik itu.
    mungkin juga tidak akan ada yang menolak jika konversi positif terwujud.

  9. Comment by nomercy on May 29, 2009 at 15:54:28
    using Mozilla Firefox 3.0.10 on Ubuntu Linux 9.04

    ada beberapa pendapat dari saya (maaf kepanjangan dan jangan
    ditertawakan) :D

    1. Sudah sejauh itukah pengaruh blog terhadap dunia web secara
      keseluruhan, sehingga sepertinya kalau orang mencari suatu
      informasi melalui search engine lalu identik dia akan masuk ke
      sebuah blog. Saya sendiri memang seringkali menggunakan search
      engine untuk mencari informasi, tetapi kebanyakan (karena
      disesuaikan bidang saya) saya langsung menuju website yang
      meyediakan informasi terkait. Contoh, ketika saya mencari
      informasi mengenai tips seputar komputer maka saya pertama kali
      menuju ke halaman situs computer.howstuffworks.com. Bukan
      mencarinya melalui search engine.
    2. Walau memang harus menerapkan usability agar mengena secara
      umum, maka setiap pemilik situs juga memiliki hak untuk
      kreatifitasnya masing-masing. Memang ada standar baku yang telah
      ditetapkan, tetapi apakah karena itu jadinya harus kaku dalam
      menerapkannya.
    3. Saya sangat setuju kalau setiap penulisan artikel di jenis
      situs manapun (termasuk blog) lebih terstruktur dan secara
      hirarki lebih gampang dimengerti dan mudah dibaca. Tetapi kalau
      untuk blog sendiri, yang mana pemiliknya tidak semuanya memiliki
      kemampuan yang sama dalam hal tata cara penulisan yang baik dan
      benar, lalu apakah harus diabaikan begitu saja. Toh mereka juga
      harus melalui tahapan-tahapan pembelajaran juga.
    4. Mengenai SEO itu sendiri (berhubung saya bukan ahlinya) saya
      berpendapat bahwa hal itu sangatlah teknis yang tidak semua orang
      mau, mampu, dan mengerti dalam penerapannya. Sehingga terkadang
      mereka yang mau belajar mungkin harus mencoba bereksperimen
      dengan situs onlinenya masing-masing. Kalau mencoba menerapkan
      pada situs offline bagaimana mungkin mereka akan mengetahui
      pengaruh suatu perubahan yang mereka buat terhadap pencarian di
      search engine.
    5. Saya sering test di situs seo analyzer, beberapa situs dengan
      pagerank dan trafik tinggi tidak semuanya memiliki kandungan seo
      yang baik (menurut situs testing tersebut). Hal ini bukankah
      sedikit menggambarkan kalau sebenarnya seo itu bukanlah satu hal
      pokok tertinggi dalam membangun situs. Kekuatan fungsi, fitur,
      manfaat, konten/informasi di halaman terkait dan penerapan sistem
      marketing lebih berperan.
    6. Juga masalah seo, saya sampai bingung ketika ada situs
      analyzer yang menerangkan bahwa kalau menulis title h1, h2, dan
      seterusnya haruslah berurutan dan tidak boleh saling tumpang
      tindih, misalnya h1 > h5 >h2 >h3. Sedangkan hal ini
      tidak dipermasalahkan ketika kita merujuk pada standar baku
      pembuatan web.

    … hehehe … jadi panjang kan … lebih dari itu maaf kalau
    saya kebangetan oonnya … :D

  10. Comment by Dani Iswara on May 29, 2009 at 16:53:32
    using Mozilla Firefox 3.0.10 on Gentoo Linux

    jah panjang banget..lebih panjang komen dibanding posting :)

    1. tergantung pengalaman pengguna kan pak..toh di situs tujuan kadang perlu make fasilitas mesin pencarinya juga, dan banyak yang memakai google custom search..
    2. standar itu pun hanya rekomendasi defacto dari best practices yang ada, bukan dejure. jadi tidak mengikat siapa pun.
    3. IMO, itulah alasan mengapa google tidak seketat yang dibayangkan terhadap valid (x)html dan best practices defacto lainnya. karena masih banyak halaman web yang kontennya masih bermanfaat. walau strukturnya belum baik.
    4. latihan dan riset itu kadang membutuhkan orang coba kan, pak.. :D
    5. tapi cara singkat/pintas/tricky itu tetap dinamakan SEO..entah hitam atau putih.. :)
    6. IMO, itu lebih masuk ranah semantik, aksesibilitas dan usability, dibanding sekadar standar web. jika kita membaca buku ilmiah lalu babnya melompat dari h1 ke h4 kan bingung juga pak. apalagi pengguna screen reader yang ber-tabbing.

  11. Comment by jenggo on May 30, 2009 at 02:11:39
    using Midori 0.1.5 on Slackware Linux

    Adududu..
    Makin lama makin teknis nih kalo mo ngeblog.. Ehehehe..

    Tapi kalo menurut saya pribadi, blog personal (yang lebih banyak curhatnya) berpeluang lebih besar melanggar “kode etik” usability dan seo karena blogger jenis ini sering kali tidak mengerti standar-standar baku dalam menulis diinternet.

    Intinya, kalau mempertanyakan web usability dan seo kita juga ikut mempertanyakan kemampuan (teknis) blogger itu sendiri, lebih mudah jika kita mengarahkan pertanyaan itu kepada pengembang-pengembang aplikasi blog (pernah ga sih nyoba CMS yang error kalau H1 dipakai lebih dari sekali atau memberikan peringatan kalau ada kata yang seharusnya dicetak miring? Ahahaha..)

  12. Comment by uwiuw on May 30, 2009 at 03:54:43
    using Mozilla Firefox 3.0.10 on Windows XP

    @ke jenggo…hahaha kalau ada cms kayak gitu, 99 persen bakal ngak ada yg pake. Browser aja ngaka ada yg seketat itu sama HTML. Padahal kalau meu mengikuti kaidah, seharusnya kita kita ini udah make XHTML yg lebih strick. (dan tidak bersembunyi di balik doctype transitional mulu)

    iya sy sendiri, dan udah kepikiran untuk membuat 100 kata pertama itu penjelasn isi artikel aja daripada sibuk nembak keyword. oh iya, ukuran font kayaknya pengaruh sekali. Bila tulisan blog kita santai dan penuh opini pribadi, kayaknya, ukuran font besar itu ideal. Orang jadi gampang baca cepat. Plihan warna jg rasanya perlu dipikirkan untuk membedakan subheadline dengan headline. :D

  13. Comment by Dani Iswara on May 30, 2009 at 08:50:48
    using Mozilla Firefox 3.0.10 on Gentoo Linux

    anggap aja masalah teknis itu adalah opsi.. :) seperti orang grafis melihat visual adalah seni. ♥

    itu juga tidak masalah. toh blog ada untuk memudahkan menulis di Internet dibanding antarmuka web/CMS komplit umumnya.

    kan banyak juga yang menerapkan teknik web dibalik blog — walau bukan blogger yang bersentuhan dengan hal teknis, tapi mungkin berdasar best practice yang berbeda. :)

    kalo untuk semantik sepertinya tidak akan seketat itu. :D
    setidaknya html5 akan banyak memaklumi, jika ada kode yang salah, halaman web akan tampil serupa di pelbagai peramban.

  14. Comment by Dani Iswara on May 30, 2009 at 08:57:38
    using Mozilla Firefox 3.0.10 on Gentoo Linux

    peramban sepertinya masih ketat untuk berkas xml. :D

    ah ya, benar, font dan warna yang sesuai konteks juga bisa berpengaruh (apalagi jika pembacanya orang tua)..tapi saya tidak banyak paham tipografi dan sejenisnya.. :)

  15. Comment by nomercy on June 1, 2009 at 22:30:44
    using Mozilla Firefox 3.0.10 on Ubuntu Linux 9.04

    berpengaruh terhadapa pembacanya kan mas? :D
    … hehehe … waduh saya ini masih gatel pengen bicara …
    nah apa yang Uwiuw dan mas Dani bilang itu kan lebih berpengaruh terhadap manusianya … hal inilah yang sebenarnya membuat saya bingung … soalnya kalau sudah berurusan dengan manusia maka harus pula memperhatikan budaya, seni, kebiasaan suatu daerah … bayangkan kalau web kita hanya monoton, baik warna, huruf atau yang lainnya … orang-orang dari daerah yang memiliki jiwa seni mungkin bilang itu gak layak tayang … harus nyeni dikitlah, beda dengan yang lain, bila perlu obrak abrik kaidah baku … begitupun dengan ragam daerah lain …
    yang jadi pertanyaan saya … apakah tidak salah kalau selama ini kita hanya memperlakukan web seperti sebuah makanan bagi search engine? entahlah kalau memang dibuat tidak diperuntukkan manusia …

  16. Comment by Dani Iswara on June 1, 2009 at 23:33:56
    using Mozilla Firefox 3.0.10 on Gentoo Linux

    nomercy,
    IMO, siklus rantai makanannya: blogger → konten → (dicatat oleh) google → (ada yang langsung ke alamat situs tanpa via google) pengguna → (reaksi pengguna dicatat) google → (konversi ke) blog dan blogger.

    jadi memang tidak selamanya butuh google. :)

    jika ada yang katakanlah mengabaikan teori-2 klasik itu, maka katakanlah saya juga mengabaikan teori-2 grafis/visual. alangkah baiknya jika bisa seimbang.

    putih di satu sisi mungkin nampak hitam di sisi lain. ♥

  17. Comment by uwiuw on June 2, 2009 at 20:36:05
    using Mozilla Firefox 3.0.10 on Windows XP

    @nomercy : bang, mungkin aneh kalau bilang gini. tp mungkin itu the power of knowledge. kita tau soal seo dan mempraktekkannya. Sy rasa enggak ada kode etik yg dilanggar kecuali kita melakukannya untuk ngebom google.

    skenario : ada perusahaan a enggak suka artikel yg menjelek2kan produk dia dan ingin artikel itu enggak masuk top ten search engine. jadi dia menyewa konsultan untuk ngebom google agar posting itu jatuh posisinya. hal ini etik atau tidak tanpa memandang isi artikel tsb kebenaran atau cuma fitnah semata.

    soal web, design, dan keindahan. sy memandang engak selalu harus indah web itu. tp yg penting beguna baik bagi owner maupun pengunjung.

    orang kan datang via search engine itu mau melihat informasi. Cuma itu alasan orang karena SE ngak memasukkan keindahan layout sebagai patokan apakah posting itu berkualitas atau tidak.

    di internet, kualitas itu ditentukan seberapa banyak link dan seberapa gede pg link tsb. ini realita kita. ngak bisa apa apa. isi konten bisa jadi bukan patokan utama

    Tp beda orang beda pendekatan. Ambil contoh, dani dan analoginya. Dia lebih berharap traffik yg datang dari referal dan direct. pengunjung macam kita kita ini yg datang karena konten dan bukan seo. secara psikologis, pengunjung blog dani itu setia. ada kesetian yg terbangun antara pemilik bblog dgn komentator.

    hmm bagi media seperti portal bhineka yg niat jualan barang dan bukan jualan konten kan enggak mungkin juga membangun koneksi dan kesetian dgn cara ini. ini nambahin sih tp kayaknya udah kepanjangan.

  18. Comment by Dani Iswara on June 2, 2009 at 21:36:21
    using Mozilla Firefox 3.0.10 on Gentoo Linux

    uwiuw,
    tugas google memang berat sebagai wasitnya.. :)

    kalo diliat tidak langsungnya, keindahan layout bisa menentukan, misalnya layout yang mendapat backlink dari situs galeri CSS.. :)

    selebihnya backlink popularity :)

    entahlah kenapa kalian jadi rajin ke sini. saya tidak mengajinya dengan statistik apapun. :D yang penting rekan-2 berbagi di blog masing-2 pun sudah mampu memberi sesuatu pada saya pribadi.

    situs jualan bisa membangun konten lewat blog, forum, dan milis katanya. cmiiw :)

  19. Comment by uwiuw on June 2, 2009 at 22:01:55
    using Mozilla Firefox 3.0.10 on Windows XP

    soal css dari galeri backlink itu hmm manis kalau sampe dapat, dan. tp kan kita bicara dalam konteks usability dan SEO.

    Analogi paling brutal kalau didunia nyata mengenai apakah kualitas konten itu penting, mungkin, langsung dari pengalaman sy dan kawan2 sy di asas (asperiasi sastra), komunitas sastra kampus

    sy suka puisi temen2 sy. menurut sy berkualitas. rimenya enak, isinya kontemporer. secara poetika, sy suka banget sesuai dgn selera anak muda deh. Puisi2 itu pun dikirim ke redaktur koran lokal agar bisa dimuat di kolom sastra yg biasa terbit di edisi akhir pekan. Nah, setiap kali mengirim dan menunggu dan membeli koran minggu, kami akhirnya selalu kecewa. enggak satu pun puisi yg diterbitkan. Alasan yg diberikan itu ngak sesuai dgn selera koran berangkutan. iya, puisi itu keren bagi kami tp tidak menurut redaktur koran yg jadi editor kolom tsb. Ini realitas sastra koran.

    Dalam konteks search engine, juga sama. kita hrus idup dalam ironi yg serupa. Selera SE itu backlink, pagerank, keyword dencity dan seluruh tekek bengek SEO lainnya. Dalam hal ini layout, mudahnya konten dibaca, dan lain lain yg kita sukai enggak masuk hitungan mesin.

    Manusia pasti peduli apakah konten yg dia baca itu memang bisa dibaca dan berisi. Tapi sayangnya mesin enggak peduli apa yg dia index itu berkualitas atau tidak. alat ukur di internet itu kan bukan rasa tp backlink. so, yah harus kita taati kembali. Apalagi pengunjung itu paling banyak datang dari SE, kan ?

    memang portal e commerence bisa jualan melalui blog, forum, dll. Tapi traffik pengunjung terbaik itu dari SE. Sebelum pengunjung jadi pembeli, mereka harus datang dulu via se yg menghantarkan mereka ke salah satu halaman bhineka kan ?…iya kita kembali lagi harus taat dengan gravitasi.

    pemeo yg sy percayai blog / web yg sehat itu yg memiliki traffik yg berasal dari SE. artinya ada banyak orang baru yg belum pernah tau apa yg blog kita bicarakan. Sesudah mereka sampai ke blog kita maka baru mereka bisa menilai apakah layout kita bagus, konten kita berisi, dll.

    in my humble opinion deh. memang bener kita membicarakan hal yg sama. tp mungkin definisi kita ttg usable itu aja yg berbeda :D

  20. Comment by Dani Iswara on June 2, 2009 at 23:31:21
    using Mozilla Firefox 3.0.10 on Gentoo Linux

    uwiuw,
    ah ya bener itu..usable itu pun punya “penerimaan/selera umum” tersendiri.

    entah bagaimana algoritmanya, tapi mesin sepertinya juga menerjemahkan selera pembaca melalui (selain yang sudah disebutkan) variabel IP kunjungan, lama tinggal, kata kunci/link yang ditelusuri..

    entah seberapa mampu mesin mendeteksi selera manusia.. :) analoginya menarik, mas aulia..
    makasi diskusinya.

Sorry, for some reasons (sometimes due to sp*ms attack), the comment form is closed at this time. If You have any suggestions, please contact me. Thank you.

Dani Iswara .Net

Return to TOP
›› Older entries: Manual Accessibility Evaluation – Table and Checklist
‹‹ Newer entries: Songket WordPress Theme Review