Mendengar Pranala Halaman Web
May 16, 2009 – 05:03 by Dani Iswara. Words count: 530.Last updated: Monday, May 25, 2009 at 10:34.
Ini hanya khayalan saya saja. Biasanya pengguna mendengarkan berita atau cerita dari radio, ‘tape’, pemutar MP3. Bagaimana jika ada yang menganggap lebih menarik atau memang hanya mampu mendengarkan halaman web? Mereka memilih untuk menggunakan indera pendengarannya untuk menikmati fitur web.
Dengan teknologi ’screen reader’ (‘text-to-speech’, ‘voice browser’) yang ditanamkan pada suatu perangkat, pengguna bisa memahami isi halaman web. Layaknya menggunakan ‘walkman’ atau iPod saat mendengarkan musik. Jika di ‘desktop’ ada fasilitas ‘tabbing’–menekan tombol tab– untuk berpindah antar judul, pranala, dan kolom ‘input’, bayangkan di alat serupa iPod ada tombol navigasi untuk fungsi yang sama.
‘Screen reader’ bisa membaca h1, atribut title di abbr, acronym, dan pranala. Tulisan ini hanya berfokus pada pranala (‘link’) di suatu halaman web.
Dengan alasan tertentu, pengguna memilih sajian yang ada di blog, ‘podcast’, Twitter, Facebook, Plurk, Jaiku, Koprol, Politikana, Pesan Lewat, dan sebagainya untuk didengarkan. Bukan dibaca dengan mata seperti visualisasi umumnya.
Yang dibaca ’screen reader’
Apa yang terdengar jika teks pranala tidak cukup deskriptif? Hanya sekadar ‘read more’ dan sejenisnya? Saat ‘tabbing’, mungkin hanya akan terdengar kata berikut:
- link skip to content
- link skip to menu
- title [judul blog]
- [deskripsi blog]
- link beranda link tentang link arsip (akan terdengar sebagai satu kalimat jika tidak berbentuk ‘list’)
- link beranda vertical bar link tentang vertical bar link arsip vertical bar (jika memakai karakter pemisah ” | “)
- heading level one [judul tulisan]
- link di sini
- link di sana
- link read more
- link klik ini
- same page link (jika menuju halaman yang sedang dibaca)
- …
- link [nama] (pemberi komentar)
- link balas (formulir komentar)
- link [nama]
- link balas
- link [nama]
- link di sini
- link balas
- link [nama]
- link h t t p colon slash slash w w w dot example dot com slash (jika memakai ‘inline link’)
- link balas
- …
Beberapa pranala terkesan kurang jelas dan tidak deskriptif. Itu tadi hanya sedikit contoh. Tiap versi ’screen reader’ memiliki kelebihan dan kekurangan. Pun memiliki penyetelan berbeda di sisi penggunanya. Ada yang mampu menyebutkan jumlah semua pranala dalam halaman. Ada yang tidak menyuarakan semua tanda baca. Lainnya ada yang tidak dapat membaca atribut title.
Aksesibilitas pranala ‘Reply’
Tautan ‘Reply’ atau ‘Balas’ pada sistem komentar (‘threaded comment’) WordPress 2.7+ sepertinya dianggap tidak aksesibel pada WCAG (‘Web Content Accessibility Guidelines’) 1.0. Setidaknya pengecek Cynthia Says menyatakan demikian:
13.1 Clearly identify the target of each link.
- Rule: 13.1.1 – All Anchor elements are required not to use any of the defined link phrases in the link text.
- Rule: 13.1.2 – All Anchor elements are required not to use the same link text to refer to different resources.
Tapi dinyatakan lolos uji WCAG 2.0 oleh ATRC Web Accessibility Checker (‘Adaptive Technology Resource Center’ dari Universitas Toronto, Kanada).
Seandainya teks ‘Reply’ di baris #968 pada berkas /wp-includes/comment-template.php tema standar WordPress:
...
968 $defaults = array('add_below' => 'comment', 'respond_id' => 'respond', 'reply_text' => __('Reply'),
...
bisa diubah menjadi ‘Reply to comment on [comment permalink]‘. ![]()
Saya setuju jika fitur ‘Reply’ ini membuat sistem komentar menjadi lebih berguna/’usable’.
Simpulan
Penggunaan teks pranala halaman web bukan hanya sekadar aksesibilitas bagi yang tidak bisa melihat, tapi juga bagi pengguna perangkat lunak ‘text-to-speech’ umumnya.
Fitur semacam ‘Read Out Loud’ di Acrobat Reader dan pembaca format PDF (‘Portable Digital Format’) lainnya disebut bukan ’screen reader’. Tapi memang bisa menyuarakan/’membaca’ teks dan teks alternatif format tersebut.
Bacaan:
Dani Iswara, mail me: [myfirstnamelastname]@gmail.com or use contact form.
Comment by nomercy on May 26, 2009 at 00:43:06
using Mozilla Firefox 3.5b4 on GNU/Linux
sangat-sangat menarik mas … hmmmmm
saya jadi teringat sewaktu memakai fitur text to speech di hape saudara jadinya mau ketawa karena kesalahan membacakan tanda baca atau batas baca/jedah …
tetapi rasanya memang perlu juga memikirkan untuk memuat berbagai isi web agar dapat dibacakan secara benar … terlepas dari apakah aksesibel atau tidak, kita juga harus berbagi ke setiap orang tanpa harus diskriminatif kan?
oya, beberapa hari lalu saya sempat nemuin satu situs web yang unik, karena isi web tidak disajikan dengan text saja melainkan diubah ke dalam bentuk multimedia … kita tinggal masukkan alamat url situs kemudian akan tampil versi multimedianya … kalau tidak salah ada di salah satu halaman dari universitas hagen … nanti saya coba cari lagi …
Comment by Dani Iswara on May 26, 2009 at 01:41:00
using Mozilla Firefox 3.0.10 on Gentoo Linux
ya, pak, memang kadang terdengar lucu. Glenda Watson pernah membuat presentasi untuk screen reader. beberapa kata-katanya dia sesuaikan agar tidak terlalu banyak yang tersenyum mendengarnya.
sepertinya menarik konversi otomatis web itu…