Mengapa Validasi HTML?
June 20, 2009 – 14:15 by Dani Iswara. Words count: 985.Last updated: Wednesday, September 23, 2009 at 8:07.
Tulisan ini diterjemahkan bebas dari: Why Validate? Mengapa validasi X/HTML? Apa alasannya? Keuntungannya? Mitos-mitos apa saja di seputar validasi?
Mengapa validasi?
Dokumen ini mencoba menjawab pertanyaan banyak orang sehubungan dengan mengapa mereka mesti bersusah-payah melakukan validasi situs web mereka dan mencoba menjernihkan beberapa mitos.
Daftar Isi
- Riwayat dokumen ini
- Mengapa profesional web memilih melakukan validasi
- Pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan
Riwayat dokumen ini
Versi asli ditulis oleh Nick Kew dari WebPing Ltd. untuk layanan Site Vallet mereka dan dia mendonasikannya untuk kita pakai.
Dokumen telah diperbarui beberapa kali, terima kasih banyak pada para penulis web yang telah membagi motivasi dan rasionalnya dalam menggunakan perangkat pengujian Quality Web.
Mengapa profesional web memilih melakukan validasi
Di awal 2009 kami menanyakan komunitas Web apakah menurut mereka masih ada motivasi kuat untuk melakukan validasi. Berikut ini beberapa alasan yang mereka sebutkan:
-
Validasi sebagai perangkat debugging
Ketika peramban-peramban web kontemporer mampu meningkatkan kemampuan parsing sekalipun itu HTML terburuk “tag soup“, beberapa galat tidak selalu terbaca dengan baik. Seringkali, perangkat lunak berbeda di platform yang berlainan tidak menerjemahkan galat dalam gaya yang sama, membuatnya sangat sulit untuk mengaplikasikan style atau layout secara konsisten.
Menggunakan standar, penulisan kode/markup dan stylesheets, di sisi lain, menawarkan lebih banyak kesempatan untuk suatu halaman diterjemahkan secara konsisten antar user-agent dan platform. Tentu saja, kebanyakan pengembang yang membuat aplikasi web kaya konten mengetahui bahwa penulisan skrip yang reliabel dibutuhkan dokumen agar dibaca oleh user-agent tanpa kesalahan yang tak diduga, dan meyakinkan bahwa CSS dan markup mereka divalidasi sebelum membuat layer interaktif kaya konten.
Ketika disurvei, mayoritas profesional web menyatakan bahwa melakukan validasi galat adalah hal pertama yang mereka cek ketika memasuki tahap web styling atau menemukan bug dalam skrip.
-
Validasi sebagai penguji kualitas future-proof
Menguji suatu halaman “tampil baik” di beberapa peramban kontemporer mungkin menjadi jaminan bahwa halaman tersebut akan “berfungsi” hari ini, tetapi tidak menjamin bahwa hal tersebut akan berfungsi besok.
Dahulu, banyak pengarang web yang mengacu pada Netscape 1.1 tiba-tiba menemukan halaman-halaman mereka tampil kosong di Netscape 2.0. Walau Internet Explorer (IE) memiliki bug yang serupa dengan Netscape, IE belakangan mulai mengacu ke standar yang lebih baik pada rilis mereka berikutnya.
Validasi adalah salah satu cara sederhana untuk mengecek apakah suatu halaman dibangun berdasar standar web, dan menyediakan satu dari garansi paling reliabel bahwa platform web masa depan akan mendukungnya.
-
Validasi memudahkan pemeliharaan
Cukup beralasan untuk mempertimbangkan bahwa standar seperti HTML dan CSS adalah suatu bentuk dari coding style yang disetujui secara global. Membuat halaman web atau aplikasi yang mengacu pada coding style membuatnya lebih mudah dipelihara, meskipun pemeliharaan dan evolusi ditangani oleh orang lain.
-
Validasi membantu mengajarkan praktik yang baik
Banyak profesional mengarang web dengan HTML dan CSS bertahun-tahun dan mengenali teknologi tersebut secara mendalam. Para pemula dan pelajar, di sisi lain, akan menemukan perangkat pengecekan otomatis sebagai suatu yang tidak berharga dalam menemukan kesalahan. Beberapa guru juga menekankan bahwa tes validasi otomatis adalah suatu pendahuluan untuk tahap yang lebih luas, konsep kualitas yang lebih kompleks seperti aksesibilitas.
-
Validasi adalah tanda profesionalisme
Hingga hari ini, tidak ada atau sedikit sertifikasi bagi profesional web, dan hanya sedikit universitas mengajarkan teknologi web, meninggalkan kebanyakan web-smiths belajar sendiri, dengan keberhasilan yang berbeda. Profesional yang berpengalaman akan memperoleh kebanggaan dalam membuat konten web menggunakan kode yang terstruktur dan semantik, memisahkan konten dengan presentasi, dan lain-lain. Validasi dapat digunakan sebagai tes cepat untuk menentukan apakah kode yang dibuat adalah kerja yang bersih dari pengarang HTML berpengalaman, atau hacked-together tag soup.
Pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan
Validasi, seperti semua proses penelusuran bug pada kode, kadang sulit, dan kemajuan yang sangat cepat dalam koreksi galat otomatis telah membuat peramban modern mampu mengatasi galat HTML dan CSS dengan baik. Hal ini membuat validasi nampak tidak berguna atau tidak berharga bagi banyak orang, dan pertanyaan-pertanyaan berikut mengemuka:
-
“Situs saya berfungsi dan terlihat baik-baik saja–tidakkah itu cukup?”
Jawaban pertanyaan ini adalah bahwa bahasa markup tidak lebih dari format data. Jadi suatu situs web tidak nampak seperti apapun sama sekali! Akan tampak visualisasinya dengan bantuan peramban anda.
Praktiknya, peramban yang berbeda bisa saja menampilkan halaman yang sama dengan sangat berbeda. Hal ini disengaja, bukan karena bug pada peramban. Istilah yang kadang digunakan untuk hal ini adalah WYSINWOG – What You See Is Not What Others Get (meskipun terjadi secara kebetulan). Salah satu prinsip kuat dari web, bahwa (umpamanya) seorang pengguna dengan gangguan penglihatan dapat memilih modus text-to-speech atau tampilan yang diperbesar tanpa penerbit kerepotan menyediakan edisi khusus yang berbeda.
-
“Banyak situs-situs web di luar sana yang tidak lolos validasi–termasuk perusahaan-perusahaan ternama”
Ingatlah: perusahaan-perusahaan ternama berharap masyarakat akan mengunjunginya karena nama besar mereka meskipun situs webnya mengerikan. Dapatkah anda memberi kemewahan tersebut?
Meskipun anda bisa, apakah anda akan mengambil risiko berhadapan dengan hukum jika situs anda terbukti tidak aksesibel terhadap–misalnya–pengguna difabel yang tidak mampu menggunakan peramban konvensional? Aksesibilitas adalah hukum di banyak negara. Ketika validasi tidak menjamin aksesibilitas (common sense tidak tergantikan), hal itu seharusnya menjadi suatu komponen penting dari latihan “ketekunan”. Kini hanya setahun sejak sidang memberikan kemenangan pertama pada kasus pengguna tunanetra melawan pemilik situs web yang ditemukannya tidak aksesibel (Maguire vs SOCOG, Agustus 2000).
-
“Validasi berarti situs web yang membosankan dan kurang kreativitas”
Hal ini mungkin kasus satu dekade yang lalu, ketika validasi adalah perangkat pilihan orang yang lebih tertarik pada kekuatan bahasa markup dibanding membuat desain yang indah bagi kontennya; ketika banyak desainer tidak berpikir dasar teknologi web dan ingin membuat situs web yang indah tetapi gampang dan tidak reliabel.
Argumen ini yang banyak diperdebatkan hari ini. Pada dekade terdahulu, kebanyakan situs web yang menarik perhatian, kaya konten dan desain, dibangun dengan standar XHTML, CSS dan scripting.
Baca juga:
- Help for The W3C Markup Validation Service
- Validasi HTML (Kurikulum Standar Web dari Opera; terjemahan resmi).
Comment by riesurya on October 4, 2009 at 02:11:39
using Mozilla Firefox 3.0.14 on Windows XP
Kenapa harus divalidasi?
kalo saya sendiri (alasannya) mungkin karena kebiasaan purifikasi dan validasi saat praktikum kualitatif,kuantitatif dan sintesis (alasannya maksa banget …:D).
alasan yang gak maksa-2 amat:
)
kalo bisa rapi dan bersih kenapa tidak (gak harus sih, namanya juga belajar. setuju kan mas Dani ?
Comment by Dani Iswara on October 4, 2009 at 07:39:35
using Mozilla Firefox 3.5.3 on openSUSE Linux
riesurya,
yak setuju. kalo ngga dievaluasi, divalidasi, gemana tau kebenarannya atau galatnya dimana. apalagi dengan semakin baiknya standar web di sisi peramban. peramban yang ngga standar, ke laut aja.
Comment by Cahya on December 14, 2009 at 22:19:41
using Mozilla Firefox 3.5.5 on Windows Vista
Ga valid-valid, ternyata memang tidak berbakat dalam desain web, hiks
Comment by Dani Iswara on December 15, 2009 at 02:21:28
using IceWeasel 3.5.5 on Debian GNU/Linux
Cahya,
sudahlah, ngga usah dipaksa. Lagian, siapa juga yang memaksa.
Comment by Cahya on December 15, 2009 at 05:36:37
using Mozilla Firefox 3.5.5 on Windows Vista
Ha ha, tapi memperbaiki script itu mendebarkan, seperti menyusun puzzle – kemudian boom! – akhirnya rusak semua, sepertinya:
“Kami terima bongkar script tapi tidak terima pasang” Jadinya seperti anak kecil yang belajar membongkar mainannya (he he, merasa muda lagi, padahal sudah banyak beruban)
Comment by Dani Iswara on December 15, 2009 at 06:42:50
using IceWeasel 3.5.5 on Debian GNU/Linux
Cahya,
kalo males masang Windows+Apache+MySQL+PHP (WAMP), pake web developer itu aja.