Pemelajaran Rekam Medis Elektronik Open Source
Posted: June 7, 2009 at 23:36:33 by Dani Iswara. Words count: 509.
Last updated: June 11, 2009 at 15:11:00.
- pendaftaran pasien
- pembayaran
- laboratorium
- pemeriksaan penunjang
- farmasi, apotek
- gizi
- rehabilitasi
- kepegawaian
- rawat darurat
- rawat jalan
- rawat inap
- dan lain-lain.
Sistem informasi manajemen yang sudah eksis
Banyak sistem informasi manajemen (SIM) yang sudah siap pakai. Ada SIM Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) yang disebut Simpus. Sudah diaplikasikan di tingkat dinas kesehatan (dinkes) masing-masing. Beberapa yang fenomenal diantaranya Aplikasi SIMPUS Elektronik Dinkes Ngawi dan SIM di Dinkes Purworejo. Ada juga timnya Mas Raharjo (Jojok) dengan pelbagai Cerita Simpus-nya. RME berbasis kartu cerdas (smartcard) pun sudah pernah dikembangkan oleh peneliti Pusat Penelitian Informatika - LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Serta banyak lagi rumah produksi perangkat lunak sejenis, baik skala besar maupun kecil yang menawarkan RME secara komersil. Punya waktu? Ingin belajar RME open source?Pemelajaran open source
Sebagaimana sempat tertulis di Kontribusi Pengguna PLOS (perangkat lunak open source), kita bisa memilih beberapa peran. Sebagai pemakai biasa saja atau bahkan terlibat lebih dalam. Misalnya ikut mempromosikan, melaporkan 'bug', menambahkan fitur baru, atau bahkan ikut menambal celah keamanannya. Yang mungkin bermanfaat jika mempelajari open source:- Mengetahui kelemahan sistem. Kode sumber terbuka bisa diakses semua penggunanya. Penemuan dan penambalan 'bug' serta celah keamanan relatif lebih cepat dan mandiri. Pengguna biasa yang tidak mendalami kode sumber pun akan merasa diuntungkan oleh hal ini.
- Kustomisasi. Di dunia open source, batasnya adalah kemauan dan kemampuan pengguna. Tidak jarang kustomisasi RME dibutuhkan agar sesuai kebutuhan. Kustomisasi ini dapat menimbulkan keuntungan kompetitif dan meningkatkan efisiensi. Vendor proprietari umumnya mengharuskan membayar sejumah harga untuk suatu kustomisasi paket komersilnya.
- Translasi. Karena ketersediaan kode sumber, kelompok pengguna sekecil apapun berpeluang menerjemahkan bahasa pengantar antarmukanya. Tanpa tendensi profit. Adaptasi dengan bahasa lokal menjadi lebih mudah.
- Belajar bersama komunitas. Menyadari bahwa masih selalu ada langit di atas langit. Memahami semangat kebersamaan. Bagaimana kesulitan pengguna, penyampaian penyelesaian masalah, hingga rasa kebersamaan komunitas. Memerhatikan proses pengembangan perangkat lunak RME pun dapat membantu pemelajaran.
- Reputasi dan kemampuan programer/pengembang. Dengan diuji oleh banyak pengguna dan pengembang senior lain, reputasi dan kemampuan pemrogram/programer/pengembang dapat terasah.
- Menghemat biaya. Dengan upaya penanganan mandiri, relatif menghemat biaya pemakaian dan pemecahan masalah. Bisa juga menjadi poin yang malah menyulitkan (lihat tulisan di bawah).
- Kebutuhan akses Internet. Terutama untuk interaksi/diskusi dengan komunitas dan menelusuri alternatif solusi/'troubleshooting'.
- Biaya karena kelangkaan dukungan. Dukungan dan ketersediaan sumber daya open source relatif kurang. Biaya pelatihan, konsultan, pemeliharaan, solusi, mungkin menjadi relatif lebih mahal.
- Daftar perangkat lunak kesehatan open source di Wikipedia.
- Debian Med. Proyek perangkat lunak untuk penelitian dan praktik kedokteran berbasis distribusi GNU/Linux Debian.
- GPLMedicine. Situs ini nampaknya sedang dalam tahap perbaikan. Di situs tersebut terdapat beberapa review rekam medis elektronik open source.
Comment by Agus Mutamakin on June 11, 2009 at 23:26:59
using Firefox 3.0.10 on Windows XP
Topik tulisan yang menarik Pak Dani.
Sekedar sharing pendapat, menurut Pak Dani data "minimal" apa (e.g. diagnosa, obat, dll) yang diperlukan untuk Rekam Medis Elektronik di Indonesia ?
Comment by nomercy on June 11, 2009 at 23:55:41
using Firefox 3.0.10 on Linux Mint 7
yang pertama ... hidup open source! *dengan teriakan* :lol: hehehe
yang kedua ... biaya operasional dan perawatan (termasuk pelatihan, konsultasi dan lainnya) dapat ditekan kalau saja komunitas open source (terutama di Indonesia) dapat berbagi ilmu pengetahuannya tidak dengan memasang tarif ... dengan kata lain, memang tetap butuh biaya (mungkin untuk makan atau transportasi), tetapi langkah indahnya kalau lebih melihat dari sisi fungsi dan kegunaan open source sebagai pemicu untuk terlepas dari keterikatan pada perangkat lunak proprietary ...
Comment by Dani Iswara on June 12, 2009 at 02:54:55
using Firefox 3.0.10 on Gentoo
dr. Agus Mutamakin,
angel dok, pertanyaanne.. :)
menurut saya, data set minimal RME setidaknya ada: identitas unik pasien dan demografi, klinis (anamnesis, riwayat, pemeriksaan fisik, penunjang, diagnosis, terapi, rujukan, etc).
cmiiw lho, dok..
Comment by Dani Iswara on June 12, 2009 at 02:57:45
using Firefox 3.0.10 on Gentoo
nomercy,
tapi mereka kan tetep butuh makan, pak.. :)
kita memang mesti berterima kasih banyak ke komunitas yang mau berbagi. ♥
Comment by Cahya on June 12, 2009 at 07:58:21
using Google Chrome 3.0.182.3 on Windows Vista
Nanti kalau dah kerja saya pakai yang diaplikasikan Bli Dani saja, kan kalau ada trouble atau bug sudah pasti ke mana bertanya-nya :D
Comment by Jojok on June 12, 2009 at 13:28:40
using Firefox 3.0.10 on Windows XP
hehe...
ini saya dari pihak tukang ikut urun rembug.. emang selama ini anggapan yang berlaku sepertinya open source menawarkan barang yang gratis ya ?? saya sampai susah menjawab pertanyaan dari berbagai belahan dinas. Bli Dani bener tuh, mereka tetap butuh makan, kalau saya, tetep butuh jalan2 haha...
Mungkin perlu disampaikan dan ditekankan, open source baru sebagian kecil dari variabel pengembangan sistem. yang lebih penting lagi adalah profesionalisme dari para pengembang.
Jadi masalah juga kalau semua bahan mentah dari open source, tapi kemudian pihak pengembang juga tidak ada kejelasan lanjut. Berharap pada komunitas pun akhirnya jadi angan2 kalau kita sudah spesifik mau mengembangkan satu pekerjaan...
bener pa salah ya??
Comment by Dani Iswara on June 13, 2009 at 00:32:04
using Firefox 3.0.10 on Gentoo
Cahya,
tanya ke google, kan maksudnya :D
Comment by Dani Iswara on June 13, 2009 at 00:44:32
using Firefox 3.0.10 on Gentoo
Jojok,
kalau untuk konteks pemelajaran murah meriah, open source cukuplah. kalau untuk kelanjutannya di mesin produktif, benar, sustainability-nya membutuhkan komitmen pengembang dan organisasi pendukung.
sedikit menambahkan Mas Jojok, menurut saya yang cupu ini, bedanya, di dunia open source, komitmen tersebut tidak harus selalu bergantung pada pengembang awal seperti pada proprietari. karena kode sumber terbuka, pengembang lain pun silakan melanjutkan proses/pemutakhiran yang ada. :)
Comment by Agus Mutamakin on June 13, 2009 at 03:26:01
using Firefox 3.0.10 on Windows XP
Ha ha ..maksud saya sekedar minta opini dari dr. Dani. Thanks atas pendapatnya. Mirip dengan sebagian besar teman sejawat. Intinya ingin rekam medis yang lengkap. Tapi dari pengamatan di RS, banyak data RM yang tidak "sempat" dientri dokter/perawat. Saat ini di RS hanya diwajibkan entri diagnosa, obat, tindakan dan resume medis saja. Bagaimana dengan kondisi tersebut di Bali ? Mungkin RS2 di Bali lebih maju.
Comment by Agus Mutamakin on June 13, 2009 at 03:42:35
using Firefox 3.0.10 on Windows XP
Saya sering menemui pengalaman yang sama dengan Mas Jojok ..ditanya software open source = gratis ?
Penjelasannya susah :) Karena software tidak bisa digeneralisasi. Software yang sifatnya embedded atau personal mungkin gratis ..tapi software untuk enterprise kan perlu di"custumoze" sesuai dengan organisasinya. Belum lagi proses reengineer, pelatihan, pemeliharaan yang perlu sumberdaya tidak cuma2. Beberapa referensi bahkan menunjukkan biaya implementasi sistem enterprise bisa 5 - 10 x biaya softwarenya.
Mustinya komunitas open source lebih fair dalam menjelaskan masalah ini. Bukan gratisnya saja yang dipromosikan. Free = bebas, buka gratis :)
Comment by Cahya on June 13, 2009 at 05:39:35
using Firefox 3.0.11 on Windows Vista
Kenapa jarang ada yang menyarankan bertanya ke Yahoo
Comment by Dani Iswara on June 13, 2009 at 08:56:20
using Firefox 3.0.10 on Gentoo
Cahya,
salah satu alasannya, bisa dilihat di random content di Yahoo dan Google.
Comment by rismaka on June 14, 2009 at 06:24:31
using Firefox 3.0.10 on Windows XP
Yap, betul
Terima kasih juga buat mas Dani, uwiuw, mas Ardi atas sharingnya selama ini. Saya banyak belajar dari kalian :)
*/semoga ga OOT-OOT amat, ga ngerti soalnya yg beginian/*
Comment by Dani Iswara on June 14, 2009 at 09:37:50
using Opera 10.00 on GNU/Linux
Agus Mutamakin,
mungkin enaknya tergantung kebutuhan dan kemampuan aja ya. entahlah daleman RS-nya gemana. masi perlu belajar ama Mas Agus dulu nih. :)
Comment by Dani Iswara on June 14, 2009 at 09:40:30
using Opera 10.00 on GNU/Linux
rismaka,
kita kan sama-sama belajar, Mas Adi. :)
Comment by Dani Iswara on June 14, 2009 at 10:18:52
using Opera 10.00 on GNU/Linux
Agus Mutamakin,
yang free = gratis, edukasi free, libre, open source software (FLOSS) sepertinya memang salah kaprah. padahal tidak semuanya benar-benar gratis. kadang perlu berdarah-darah juga. :)
Comment by Jojok on June 24, 2009 at 08:25:52
using Firefox 3.0.11 on Windows XP
hehe.. betul itu, bener2 berdarah-darah... :D
Comment by naufal on October 12, 2009 at 07:10:19
using Safari 3.2.1 on Windows XP
mas kalau boleh saya minta open sourcenya buat pengembangan tugas akhir.tolong dikirim via email thanks....
Comment by Dani Iswara on October 12, 2009 at 09:17:39
using Firefox 3.5.3 on SuSE
naufal,
untuk yang open source, bisa telusuri pranala-pranala di atas.