Apa enaknya Twitter dari Ruang Operasi?

August 17, 2009 – 11:32 by Dani Iswara. Words count: 148.
Last updated: Friday, September 18, 2009 at 16:28.

Memanfaatkan Twitter untuk berbagi informasi sudah menjadi hal yang lumrah. Perusahaan besar tidak menutup diri untuk bergabung di dalamnya. Kehidupan pribadi menjadi konsumsi publik pun kerap terjadi.

Telemedisin dengan telekonsultasi, telekonferensi, atau videokonferensi waktu nyata (‘real time/synchronous’) dari ruang operasi (bedah) mungkin sudah biasa. Tapi Twitter dari ruang operasi? Entah jika sudah pernah dilakukan di Indonesia.

Faktor penunjang Twitter

Menurut saya, Twitter sebagai maksud untuk berbagi informasi, dalam hal ini memiliki faktor penunjang:

  • antarmuka sederhana,
  • berbasis pesan singkat,
  • dapat diakses dengan perangkat bergerak (‘mobile’),
  • biaya relatif murah,
  • tidak terlalu membutuhkan koneksi Internet yang kencang,
  • kecepatan pemutakhirannya.

Karena alasan-alasan di atas, Twitter jadi lebih mudah digunakan.

Twitter dari Ruang Operasi

Tujuannya tentu saja untuk menyampaikan informasi dalam waktu nyata. Kepada siapa?

  • Mahasiswa/sejawat dokter.
    Untuk kepentingan edukasi/pendidikan.
  • Keluarga/penunggu pasien.
    Perlukah? Mampu untuk mengurangi kecemasan?

Lalu muncul pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Jika terjadi kesulitan/kegawatan dalam operasi, haruskah juga disampaikan pada keluarga pasien?
  • Jika kemudian terjadi malapraktik, dapatkah log/catatan Twitter dijadikan barang bukti?

Baca juga Telemedisin bukan Khayalan (Dani Iswara .Net).

Just unessential weblog
Dani Iswara, mail me: [myfirstnamelastname]@gmail.com or use contact form.

You are free to share (copy, distribute, transmit) & adapt this blog post under the similar license (Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported; CCA-NC-SA 3.0 Unported). Please put these links on your copy:
Taken from: Apa enaknya Twitter dari Ruang Operasi? by Dani Iswara.

Unimportant Related/Random Posts

You may also read list of most popular posts and most popular tags of Dani Iswara .Net.

15 Responses to post titled: Apa enaknya Twitter dari Ruang Operasi?

  1. Comment by d3ptzz on September 18, 2009 at 18:30:49
    using Mozilla Firefox 3.5.2 on openSUSE Linux

    nah apa ndak mengganggu konsentrasi ketika malah asyik ber-twitter?:-)

  2. Comment by Dani Iswara on September 18, 2009 at 20:00:17
    using Mozilla Firefox 3.5.3 on openSUSE Linux

    d3ptzz,
    teknisnya siapa yang nge-tweet mungkin bisa diserahin ke asisten atau koas pendamping, tentu saja bukan operatornya. :)

  3. Comment by Cahya on September 18, 2009 at 20:00:34
    using Mozilla Firefox 3.5.3 on Windows Vista

    Nge-plurk saja beli, nanti karma baiknya dobel :D

    Btw, kan handphone sumber infeksi, walau dibawa ke ruang bedah, biasanya dipegang asisten. Ga mungkin kan dokter bedah yang udah steril nyentuh gadget yang tidak steril, apalagi mau ngetik.

    Tapi mungkin ada trik tertentu nanti untuk kendala ini.

  4. Comment by Shaquille on September 18, 2009 at 20:02:39
    using Mozilla Firefox 3.5.2 on Windows XP

    Setuju, sepertinya lucu banget, saat sedang melakukan operasi, masih sempet2nya ngetwit :D

    Atau malah diperlukan karyawan lagi khusus utk memberikan informasi yg sedang terjadi melalui twitter? Kalau ini terjadi, mungkin angka pengangguran di Indonesia akan berkurang (minimalnya) :)

  5. Comment by Shaquille on September 18, 2009 at 20:06:45
    using Mozilla Firefox 3.5.2 on Windows XP

    Kalau hanya utk memberikan informasi apa-apa yg terjadi di ruang operasi, kenapa tidak memakai teleconverence saja? Bukankah itu lebih praktis dan tidak dapat dikelabui?

  6. Comment by Dani Iswara on September 18, 2009 at 20:31:33
    using Mozilla Firefox 3.5.3 on openSUSE Linux

    Shaquille,
    lepas dari tren yang ada, toh maksudnya mulia, berbagi informasi. :)

  7. Comment by Dani Iswara on September 18, 2009 at 20:39:59
    using Mozilla Firefox 3.5.3 on openSUSE Linux

    Cahya,
    gemana kalo operator bedah atau asisten menyuarakan tindakan dan situasi yang terjadi (terganggu masker bedah ngga ya?), lalu koas atau asisten lain yang nge-tweet. :)

  8. Comment by Dani Iswara on September 18, 2009 at 20:46:06
    using Mozilla Firefox 3.5.3 on openSUSE Linux

    Shaquille,
    jika telekonferensi berbasis suara atau bahkan video/videokonferensi dianggap relatif mahal, maka Twitter berbasis Internet bisa jadi alternatif yang murah meriah. cmiiw

    Kalo ngga salah, di salah satu rumah sakit di barat sana, katanya, tiap sekian jam keluarga/penunggu pasien dikabarkan tentang perkembangan jalannya operasi dan kondisi pasien.

  9. Comment by Cahya on September 18, 2009 at 20:58:50
    using Mozilla Firefox 3.5.3 on Windows Vista

    He he, koassnya geleng-geleng ga mudeng, karena semalam sebelumnya bukannya baca buku panduan prosedur, malah facebook-an, sambil jaga bangsal ganti infus sama cek tanda vital per 15 menit :D

  10. Comment by Cahya on September 18, 2009 at 21:10:20
    using Mozilla Firefox 3.5.3 on Windows Vista

    Koas: Oke operasi bedah XYZ dimulai, ketik…

    Dokter: xjd./d/dlbb… (suara ga jelas)

    Koas: Oke pengirisan lapis demi lapis, ketik…

    Dokter: dhdfks/..dhs8tw… (lebih ga jelas)

    Koas: Apa Dok…? Ular salto?

    Dokter: khsghg0876/…

    Koas: Oh…, bukaan satu (sambil bengong, emang persalinan), tapi karena penurut saja, ketik…

    Kemudian si dokter tiba-tiba melepas maskernya, “ular salto…, bukaan satu…, yang saya bilang ‘bukan itu’…!”

    Si koas bengong, baru melihat ke papan, eh ternyata bukan operasi bedah XYZ tapi ABC, habis deh konten twitter udah keupload semua :D

  11. Comment by Dani Iswara on September 18, 2009 at 21:44:17
    using Mozilla Firefox 3.5.3 on openSUSE Linux

    Cahya,
    kayaknya bisa dijadiin satu posting sendiri nih..ala Cahya.. :D
    ada converter suara ke teks via twitter ngga ya..

  12. Comment by Cahya on September 18, 2009 at 21:54:33
    using Mozilla Firefox 3.5.3 on Windows Vista

    Aduh, kalau posting kaya gitu, Putri A., lebih ahli deh dibanding saya :D

    Sepertinya ada Bli, cuma saya tidak tahu apa bisa pakai bahasa Bali…, eh Indonesia :)

    Salah satunya: http://www.twitterfone.com

  13. Comment by Dani Iswara on September 19, 2009 at 00:38:01
    using Mozilla Firefox 3.5.3 on openSUSE Linux

    Cahya,
    makasi tambahan infonya.

  14. Comment by Dr Md Santo on September 30, 2009 at 12:48:26
    using Internet Explorer 8.0 on Windows XP

    Dear Dani,
    Anda adalah gambaran diri saya sewaktu muda 40 tahun yl (lih. resume saya di Linkedin). Omong-omong tentang issue Twitter berikut ini tulisan saya dalam bentuk Comment pada blog Majalah Teknopreneur yg mendiskusikan Twitter vs Facebook :
    KOMPLEKSITAS TWITTER vs KOMPLEKSITAS FACEBOOK
    Ada perbedaan yang sangat mendasar antara Facebook dengan Twitter. Twitter walaupun bentuknya lebih sederhana tapi dari segi ‘System Dynamic’ dia memiliki Kompleksitas yang lebih tinggi. Teknologi Facebook hakekatnya masih ditengah-tengah antara teknologi Web 1.0 dengan Web 2.0 Sedangkan Twitter sudah lebih dari itu malahan mungkin diantara Web 2.0 dengan Web 3.0 Facebook hanya memiliki kemampuan ‘Transfer of Information’ sedangkan Twitter lebih dari itu yakni ‘Transfer of Knowledge atau Knowledge Transfer’. Hakekat dari pada Knowledge Transfer adalah Contextual Learning yang mana pada era Web 2.0 ‘Context is the King’. Sehingga kita para users Twitter dituntut ‘user experience’nya lebih tinggi atau ‘experience rich’ atau ‘kasarnya disuruh lebih belajar’.

    Inilah masalahnya di Indonesia saat ini karena para ‘users’ terbuai oleh iklan-iklan ‘devices’ yang canggih-canggih maka dalam konteks penggunaan alat-alat ICT tidak lagi terjadi ‘digital gap atau digital divide’ tapi terjadi gap antara ‘e’ (aspek device) dengan ‘learning’ (aspek human learning) (silahkan mempelajari Link http://mobeeknowledge.ning.com/forum/topics/not-digital-divide-but-el – ‘NOT “DIGITAL DIVIDE”, BUT “E-L DIVIDE” IS OUR MAIN CONCERN’). Kita lihat saja untuk mempelajari Twitter, lebih banyak pedoman atau guides yang dikeluarkan dan tidak semudah Facebook untuk para usersnya. Sebagai tambahan, pada ‘System Dynamic’ dimana users plus Twitter sebagai Social Platform merupakan suatu entitas (kesatuan) ‘Complex Adaptive System’ (CAS). Ciri CAS ialah memiliki kemampuan ‘Emergent Properties’ yakni sifat atau perilaku yang mendadak muncul yang sebelumnya tidak terprediksikan. Dalam hal Twitter dibanding Facebook kemampuan ini akan menonjol, contohnya aplikasi-aplikasi yang ‘generated’ oleh Twitter lebih banyak dan ‘membikin ketagihan’ usernya.

    Sebagai contoh salah satunya adalah Tweetdeck yang saya pakai merupakan tool yang sangat komprehensif mengemban ’amanat’ Web 2.0 sehingga lebih memudahkan dampak ‘viral effect’ . Dibawah ini beberapa contoh dimana Tweeting saya di Re-Tweet dan di@kan oleh pihak lain secara beranting mengakibatkan ‘viral effect’ :
    • RT @toughloveforx @md_santo Road Mapping The Implications In Treating Knowledge as Subject http://tinyurl.com/ya6uswl #revolutionizescience
    • QB Youth Innovative & Creative Ideas. Next on the agenda: Citizen Journalism http://ilnk.me/aa via @md_santo
    • @Md_Santo Readings on HR+Business Process in KM – http://tinyurl.com/nx7r8e #HR + #KM to improve #education and #revolutionizescience

    Untuk menyaingi Twitter, maka Facebook Lite harus memiliki ‘output’ yang disebut ‘Maximum Effective Complexity’nya harus lebih tinggi daripada Twitter dan ‘outcome’ yang harus terbukti lebih ‘rich experience’ bagi ‘usernya’ dalam bentuk kemungkinan-kemungkinan lebih kaya akan “contextually-based interactions – personalised- user-driven social computing – social networking – active collaboration – dynamic participation – interaction online – low cost and open source – spontaneous and self-organizing”

    Sebagai tambahan (diluar Majalah Teknopreneur): Khusus untuk Medical atau Health Care Education, menurut hemat saya Twitter baik dipakai pada ‘learning process’ aras (domain)kombinasi cognitif + psikomotor + afektif yakni pada kepaniteraan/co-schaap/internship PPDS dengan learning experience yg ber’output’kan :’enable rich, social, personalised and contextually-based interactions to support learning’. Sudah barang tentu hal ini perlu dkombinasi atau mash-up dg Social Platform lainnya dg cara seapresiatif mungkin.

    Dr Md Santo
    • Knowledge Management konsultan & facilitator
    • URL http://mobeeknowledge.ning.com (saat kini 322 members dari 22 negara)
    • Follow me on Twitter : http://twitter.com/md_santo
    • Connect with me on Linkedin : http://www.linkedin.com/in/bluemoonmobee
    • Add me as a friend on Facebook : http://www.facebook.com/profile.php?id=566704069&ref=profile

  15. Comment by Dani Iswara on September 30, 2009 at 17:11:14
    using Mozilla Firefox 3.5.3 on openSUSE Linux

    Dr Md Santo,
    dear doc, saya malah berharap twitter mendapat pesaing serius dari plurk. saya belum main-main ke MK lagi, koneksi unlimited tapi terbatas. :)

Sorry, for some reasons (sometimes due to sp*ms attack), the comment form is closed at this time. If You have any suggestions, please contact me. Thank you.

Dani Iswara .Net

Return to TOP
›› Older entries: Distro Linux Versi Baru, Fresh Install atau Upgrade?
‹‹ Newer entries: Dimana Posisi OpenOffice.org?