Posted: October 8, 2009 at 03:21:46 by Dani Iswara. Words count: 508.
Last updated: October 19, 2009 at 11:32:46.
Nampaknya aksesibilitas konten Web situs kesehatan dan kedokteran di dunia belum banyak mendapat perhatian. Apalagi di Indonesia.
Pengguna informasi kesehatan makin banyak mengakses Internet sebagai salah satu sumbernya. Internet yang dimaksud di sini adalah
World Wide Web (WWW). Tidak menutup kemungkinan hal yang sama terjadi pada internet/intranet.
Disebutkan 73 juta warga Amerika Serikat menelusuri informasi kesehatan dalam jaringan (daring;
online) selama tahun 2002 (Horrigan dan Rainie, 2004). Di negara yang sama, menurut penelitian Susannah Fox, pengakses Internet sebanyak:
- 77% pada kelompok umur 18 - 29 tahun,
- 75% (30 - 49 tahun),
- 58% (50 - 64 tahun),
- 22% (65 tahun ke atas); 66% diantaranya sebagai pencari informasi kesehatan di Internet.
Fox dan Fallows (
Health searches; 2003;
pdf; 456
KB) menyebutkan lebih dari 80% (93 juta) orang dewasa menelusuri Internet untuk mencari informasi kesehatan.
Lihat juga
Aksesibilitas Web pada Lansia.
Web sebagai sumber informasi kesehatan
Internet dikatakan berpotensi untuk mengubah paradigma bahwa layanan kesehatan-kedokteran hanya berpusat pada dokter. Sebagian mungkin masih berpendapat, pemberi layanan akan mampu menjawab semua masalah kesehatan pasiennya. Ada juga yang beranggapan, dokterlah sepenuhnya yang menentukan kondisi kesehatan mereka. Pada beberapa hal, pengambilan keputusan selalu hanya dipegang dokter, bukan bersama dengan pasien atau keluarganya.
Padahal tiap orang berhak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang melibatkan dirinya. Termasuk hak dalam memperoleh informasi kesehatan.
Bagi pengguna
difable--
differently-abled people;
different ability, yang disederhanakan menjadi difabel, Web berpeluang menjadi salah satu sumber informasi. Terutama tanpa melibatkan bantuan fisik orang lain. Bahkan diperkirakan difabel lebih sering menelusuri informasi terkait kesehatan daring dibanding mereka yang bukan difabel. Apakah kesetaraan akses Internet itu sudah banyak terjadi?
Justru
inverse information law yang ada. Akses terhadap informasi yang tepat ternyata sulit bagi yang sangat membutuhkan! Banyak hambatan.
Sudahkah aksesibel?
Ada sebuah studi
cross sectional dari
Profesor Bambang Parmanto dan dokter Xiaoming Zeng berjudul
Web Content Accessibility of Consumer Health Information Web Sites untuk pengguna difabel. Dipublikasikan di
Journal of Medical Internet Research (JMIR) tahun 2004.
Mereka menyeleksi 108 situs Web di suatu direktori yang menyajikan informasi kesehatan. Tingkat aksesibilitas Webnya lalu dievaluasi. Saat itu, tidak ada satu situs pun yang aksesibel. Situs Web pemerintah dan institusi pendidikan memiliki tingkat aksesibilitas yang lebih baik.
Hal ini nampaknya wajar terjadi. Setidaknya beberapa perguruan tinggi di luar negeri telah memiliki
panduan web universitas. Beberapa situs Web pemerintah Amerika Serikat memang lolos uji
Section 508. Mereka juga sudah mencantumkan pernyataan aksesibilitas di salah satu halamannya.
Penelitian lainnya yang dipublikasikan di JMIR, berjudul
Where are They Now? Tentang
404 Not Found pada banyak situs Web kesehatan yang menjadikannya tidak aksesibel.
Aksesibilitas bagi pencari informasi
Di dunia kedokteran, pasien dan orang yang terkait dengannya adalah guru. Bukan sekadar target, konsumen, pengguna, tapi juga kolega. Berkedudukan seimbang. Mereka adalah juga sumber inovasi dan pengetahuan. Posisikan pasien, keluarganya, dan yang terkait dengannya dalam suatu tim. Tanyakan apa yang mereka butuhkan. Libatkan melalui partisipasi.
Situs Web dianjurkan menyediakan
informasi alamat kontak. Terutama terkait keterbatasan fitur aksesibilitas yang tersaji. Pengguna bisa melaporkan hambatan akses yang ada. Hal aksesibilitas ini sebaiknya dipasang di suatu halaman yang mudah dijangkau pengguna. Pengelola Web juga boleh berusaha menerapkan
Web Content Accessibility Guidelines 2.0 dari
World Wide Web Consortium (W3C).
Share on: Delicious™ | Digg™ | Facebook™ | Twitter™.
Just unessential weblog
Dani Iswara, mail me: [myfirstnamelastname]@gmail.com.
Comment by sawali tuhusetya on October 13, 2009 at 19:41:24
using Google Chrome 4.0.220.1 on GNU/Linux
memang benar, pak dani. seiring dengan kemajuan peradaban, kemudahan mengakses internet membuat banyak orang melirik dunia virtual sbg salah satu rujukan. semoga makin banyak web kesehatan yang gampang diakses pengunjung, pak.
Comment by Dani Iswara on October 13, 2009 at 21:35:53
using Firefox 3.5.3 on SuSE
sawali tuhusetya,
salah satu cara mandiri untuk memperoleh informasi seluas-luasnya.
Comment by afithk on October 14, 2009 at 11:24:31
using Firefox 3.5.3 on Mac OS X 10.4
yup, tp tetap harus ada 'trustable site', supaya orang awam seperti saya tidak dibodohi :)
Comment by Dani Iswara on October 15, 2009 at 03:23:26
using Firefox 3.5.3 on SuSE
afithk,
menarik itu, bagaimana pengguna merasa 'trust' dengan konten suatu situs.