Pemula Mencoba Arch Linux

Posted: December 20, 2009 at 09:08:19 by Dani Iswara. Words count: 873.
Last updated: July 9, 2010 at 16:04:24.

Distribusi atau distro Arch Linux ini menyerupai perpaduan Gentoo dan Slackware. Ringan dan cepat, karena pengguna bisa memilih paket mana saja pada suatu grup aplikasi yang akan dipasang. Berbasis paket binari. Ketergantungan paket atau 'dependency' diatasi otomatis. Sederhana, Keep it Simple Stupid (KISS), dalam arti--sudut pandang teknis--tanpa perlu komplikasi, modifikasi, atau tambahan paket yang tidak perlu. Pengembang menyebutnya sebagai pendekatan yang elegan dan minimalis. Distro Linux ini tidak mengenal versi rilis. Dapat dimutakhirkan dengan paket terbaru sewaktu-waktu secara bertahap, rolling release. Tanpa harus 'install' ulang sekian bukan sekali. Masih dengan mesin komputer jinjing yang sama saat meng-install Gentoo 2008.0-r1 dan Slackware 12, HP Compaq nx6120. Berikut ini sedikit catatan saya saat mengonfigurasi Linux Arch untuk fungsi desktop. Saya memakai media 'installer' archlinux-2009.08-core-i686.iso, sekitar 360MB, yang tersedia di halaman unduh Arch Linux. Untuk instalasi awal, silakan mengikuti Panduan Pemula Linux Arch di ArchWiki. Semua paket base, base-devel, dan paket tambahan lain (misalnya ipw2200, wireless-tools, wpa_supplicant) di media CD, saya centang/tandai untuk dipasang. Instalasi selesai. Memang hanya base system tanpa antarmuka grafis yang akan kita peroleh. Manfaatkan layar 'virtual console' dengan menekan tombol alt+F1 hingga F6 dengan bantuan editor teks nano. Ctrl+o ('overwrite') untuk menyimpan. Ctrl+x untuk keluar dari nano. Target berikutnya, dengan alokasi 'harddisk' 5GB, saya memilih memasang paket minimalis dengan lingkungan desktop berbasis GTK. Pilihan jatuh ke LXDE plus beberapa fitur GNOME. Sebagai 'root', edit dan sesuaikan nama 'host' di berkas /etc/hosts dan /etc/rc.conf:
nano /etc/hosts
nano /etc/rc.conf
Tambahkan akun 'user' dani (nama saya; sesuaikan) dan kata sandinya:
useradd -m -G audio,disk,lp,network,optical,power,storage,users,video,wheel -s /bin/bash dani
passwd dani
Agar modem Huawei e220 bisa dipakai, saya butuh paket tambahan xplc, wvstreams, wvdial, dan ppp. Skrip untuk modem tersebut juga ternyata sudah ada. Jika tidak sabar, cari koneksi Internet kabel atau WiFi. :) Rujukan: Huawei e220 di ArchWiki. Ingin memasang paket-paket lain, dependensi teratasi otomatis, tapi tidak terkoneksi Internet langsung? Bisa, ikuti petunjuk di WikiArch tentang Instalasi Paket Cara 'Offline'.

Koneksi WiFi

Belum masuk antarmuka grafis. Untuk mengaktifkan tombol WiFi dan LED, sebagai 'root', saya melakukan:
rmmod ipw2200
modprobe ipw2200 rtap_iface=1
echo "options ipw2200 led=1" >> /etc/modprobe.d/ipw2200.conf
Start ulang komputer. Cek deteksi semua perangkat Internet:
ifconfig -a
Perangkat WiFi terdeteksi di eth0. Untuk terkoneksi, saya memakai perintah standar Linux di bawah.
  • Untuk mendeteksi keberadaan sinyal WiFi: iwlist eth0 scan
  • Untuk terkoneksi ke 'access-point' tanpa proteksi: iwconfig eth0 essid "nama-Access-Point"
  • Terkoneksi melalui (proteksi/enkripsi) WEP dan heksadesimal: iwconfig eth0 essid "nama-Access-Point" key 1234567890
  • Terkoneksi melalui proteksi karakter ASCII: iwconfig eth0 essid "nama-Access-Point" key s:asciikey
Untuk WiFi yang terproteksi dengan WPA/WPA2, saya memakai wpa_supplicant. Cara klasiknya:
wpa_passphrase nama-Access-Point "katasandi" > /etc/wpa_supplicant.conf
Jika perlu, konfigurasi asli wpa_supplicant.conf dibuat salinannya/'backup' dulu.
iwconfig eth0 essid nama-Access-Point
wpa_supplicant -B -Dwext -i eth00 -c /etc/wpa_supplicant.conf
Wext untuk 'driver' WiFi berbasis Intel. Tunggu sesaat, lalu ketikkan
dhcpcd eth0
untuk menerima 'IP address'. Selengkapnya, silakan menuju halaman WPA Supplicant di ArchWiki.

Memutakhirkan Arch Linux

Repositori 'mirror' tercepat, terbaru, dan 'delay' minimal menurut statistik Mirror status dan pengalaman saya:
Server = http://unix.net.pl/archlinux.org/$repo/os/i686
Server = ftp://ftp.iinet.net.au/pub/archlinux/$repo/os/i686
Server = ftp://ftp5.gwdg.de/pub/linux/archlinux/$repo/os/i686
Server = ftp://mirror.aarnet.edu.au/pub/archlinux/$repo/os/i686
Server = ftp://ftp.tku.edu.tw/Linux/ArchLinux/$repo/os/i686
Server = ftp://mirror.optus.net/archlinux/$repo/os/i686
Server = ftp://mirror.unej.ac.id/archlinux/$repo/os/i686
Daftar itu saya tempatkan di berkas /etc/pacman.d/mirrorlist. Atau gunakan perintah rankmirrors. Salin dulu berkas 'mirror' menjadi /etc/pacman.d/mirrorlist.salinan. Kumpulkan 6 'mirror' terdekat, dari direktori /etc/pacman.d/:
rankmirrors -n 6 mirrorlist.salinan > mirrorlist
Daftar seperti di atas akan tersusun otomatis di baris paling bawah berkas tersebut. Di /etc/pacman.conf, saya mengaktifkan repositori standar core, extra, dan community. Yang custom hanya aktif sewaktu-waktu saat instalasi 'offline'. Untuk unduh paralel via aria2c, pasang powerpill, plugin pacman:
pacman -S powerpill
Perhatikan kondisi jaringan Internet. Jika perlu, mutakhirkan seluruh sistem:
pacman -Syu
yang artinya 'sync', 'refresh', 'sysupgrade'. 'Reboot' jika kernel ikut diperbarui.

Memasang Antarmuka X-Server dan LXDE

Instalasi paket di bawah membutuhkan dependensi yang cukup banyak:
pacman -S libgl xorg xf86-input-evdev mesa xf86-video-intel
Lalu lakukan konfigurasi otomatis:
Xorg -configure
Salin/kopi berkas /root/xorg.conf.new ke /etc/X11/xorg.conf. Jika perlu, tambahkan fitur berikut di xorg.conf tersebut:
Section "Extensions"
Option "Composite" "Enable"
EndSection
Masukkan hal dan fam ke DAEMONS di berkas /etc/rc.conf. Untuk mengaktifkannya sekarang, ketikkan:
/etc/rc.d/hal start
/etc/rc.d/fam start
Untuk memasang LXDE:
pacman -S ttf-ms-fonts ttf-bitstream-vera ttf-dejavu lxde
Tiba saatnya memasang paket-paket hemat. Dengan pertimbangan tertentu, paket-paket berikut saya pilih:
pacman -S slim slim-themes archlinux-themes-slim xarchiver firefox flashplugin pidgin leafpad parcellite openoffice-base xpdf dia gimp gthumb inkscape xsane audacious brasero totem cups-pdf hplip gnome-bluetooth audacity gnome-system-tools gnome-power-manager networkmanager gconf-editor alacarte
Ada sesi tanya jawab apakah akan memasang semua paket dalam grup tertentu atau tidak. Jadi, sesuaikan dengan kebutuhan. Tidak penuh sesak atau 'bloated' dengan perangkat lunak yang kurang dibutuhkan. :) Lebih bijak jika memasang paket bertahap. Gunakan skala prioritas. Karena ukurannya cukup besar. Rujukan: LXDE di ArchWiki. Konfigurasi suara, pasang paket alsa-utils:
pacman -S alsa-utils alsa-lib
alsaconf
alsamixer
Tekan tombol Esc untuk keluar dan kembali ke 'console'.
alsactl store
Sebelum masuk ke sistem X atau tampilan grafis, edit 'login manager' sebagai 'root':
nano /etc/slim.conf
lalu tambahkan baris berikut:
current_theme archlinux-simplyblack
Edit konfigurasi /etc/inittab:
nano /etc/inittab
menjadi
...
#Boot to X11
id:5:initdefault:
...

# Example lines for starting a login manager
...
x:5:respawn:/usr/bin/slim >& /dev/null
...
Edit sesi LXDE dengan hak 'user' biasa. Keluar dari 'root':
exit
edit berkas seperti berikut
nano ~/.xinitrc
tambahkan baris di bawah
exec ck-launch-session startlxde
Setelan DAEMONS selengkapnya yang saya pakai:
DAEMONS=(!network ifplugd @syslog-ng netfs @crond alsa hal networkmanager fam)
Coba masuk ke tampilan grafis plus LXDE:
startx
atau restart komputer/'notebook'. Jika ada pesan kesalahan atau tidak berhasil masuk ke X, edit kembali konfigurasi yang bermasalah dengan masuk ke 'console'. Tekan tombol alt+F1 seperti di awal tulisan ini. Selamat mencoba. Risiko ditanggung sendiri. No pain, no gain. :) Referensi, tempat mengadu, dan bertanya: Majalah Linux Arch berbentuk pdf dapat dipilih dan diunduh di: Linux Arch Magazine & Newsletter. Kuotasi dari pengembang Linux Arch:
" 'Simple' is defined from a technical standpoint, not a usability standpoint. It is better to be technically elegant with a higher learning curve, than to be easy to use and technically [inferior]." -Aaron Griffin.
Just unessential weblog
Dani Iswara, mail me: [myfirstnamelastname]@gmail.com.

You are free to share (copy, distribute, transmit) & adapt this blog post under the similar license (Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported; CCA-NC-SA 3.0 Unported). Please put these links on your copy:
Taken from: Pemula Mencoba Arch Linux by Dani Iswara.

Unimportant Related/Random Posts

You may also read list of most popular posts and most popular tags of Dani Iswara .Net.

20 Responses to post titled: Pemula Mencoba Arch Linux

  1. Comment by Cahya on December 29, 2009 at 16:23:38
    using Firefox 3.5.6 on SuSE

    Tulisan ini tetap mengerikan...

    Sometimes..., keep it simple in Linux means so much complexities for others :D

    Btw, Bli Dani memakai komputer jinjing buat latop, terus desktop =...?

  2. Comment by zam.web.id on December 29, 2009 at 21:32:57
    using Internet Explorer 6.0 on Windows XP

    meski saya kurang faham tentang tulisan di atas, tapi saya cukup senang dengan keyword: "Keep it Simple Stupid!"

  3. Comment by Dani Iswara on December 30, 2009 at 01:16:06
    using Shiretoko 3.5.6 on GNU/Linux

    Cahya,
    kalo dilihat, basic-nya ya gitu aja kok. Kalo pake Slackware, Gentoo, beberapa langkah serupa. :)

    Ngga mungkin saya mengikuti kecanggihan tiap distro Linux dengan mesin lawas ini.

    Sementara desktop tetap desktop. :)

  4. Comment by Dani Iswara on December 30, 2009 at 01:18:16
    using Shiretoko 3.5.6 on GNU/Linux

    zam,
    itu memang kata kunci di beberapa Linux dengan prinsip simpelnya, Pak Zam. :)

  5. Comment by jenggo on December 30, 2009 at 23:40:36
    using Nokia Series60 3.1 on Nokia E71

    Aseek,, sampe capek scrolling kebawah buat baca artikelnya.. Wahahha..
    Klo menurut saya, yang juga menarik dari Arch yaitu waktu bootingnya cukup gegas,, walaupun tidak segegas Zenwalk..

  6. Comment by Dani Iswara on December 31, 2009 at 00:59:45
    using Shiretoko 3.5.6 on GNU/Linux

    jenggo,
    siapa suruh make layar kecil. Lagi males bikin posting berseri. :)
    Bukannya bisa diakalin servis mana aja yang aktif on start-up?

  7. Comment by jenggo on December 31, 2009 at 07:01:04
    using IceWeasel 3.5.2 on Zenwalk GNU Linux

    oh, perbandingannya dengan servis yang sama-sama dibutuhkan saat booting..
    Si Zen lebih gegas, tentunya dengan trade-off waktu logout (reboot/poweroff) yang lama (skrip yang butuh waktu lama saat loading dipindah ke logout seperti caching fonts dan update library).

    btw, kalo saya biasanya menyerahkan urusan wifi pada WiCD.. Sering lupa perintah manual soalnya.. ehehe..

  8. Comment by gadgetboi on December 31, 2009 at 10:33:11
    using IceWeasel 3.5.6 on Debian GNU/Linux

    screenshotnya mana mas??? oiya ngemeng-ngemeng spek kompi mas itu apa yah?

  9. Comment by Dani Iswara on December 31, 2009 at 13:39:48
    using Shiretoko 3.5.6 on GNU/Linux

    jenggo,
    itu semacam prelink atau preload gitu ya?

    untuk wicd, kan ceritanya belum masuk X. :)

  10. Comment by Dani Iswara on December 31, 2009 at 14:13:49
    using Shiretoko 3.5.6 on GNU/Linux

    gadgetboi,
    screenshot-nya ngga tega ngelampirin di atas. :) ini tautannya aja, mas rangga: arch linux + gnome (png; 129KB). yang lxde lagi ditumpuk pake gnome karena jatah cuman 5GB.

    tambahan screenshot, firefox (fx) dengan arch search features: fx + arch linux searchplugins (png; 132KB).

    spesifikasi laptop dan lspci ada di tulisan tentang nginstall gentoo (dah ada tautannya juga di atas). :)

  11. Comment by jenggo on January 1, 2010 at 12:27:46
    using Nokia Series60 3.1 on Nokia E71

    nope.. cuma pindahin skrip yang biasanya dijalankan saat mode booting ke mode poweroff/reboot

  12. Comment by uname on January 16, 2010 at 14:41:15
    using Firefox 3.5.6 on Mandriva 2010.0

    Saya baru aja install arch tadi siang, triple booting bareng Mandriva 2010.0 & Debian 5.0.3..tapi sekarang masih hitam putih, belum ada X-nya..
    dimana saya bisa nyari tutorial arch Linux, terutama yang berbahasa indonesia..1 lagi wirelessk pake Broadcom BCM 4312 gak langsung bisa dipake ya?harap maklum, newbie.jadi kebanyakan tanya.hehe..

  13. Comment by Dani Iswara on January 16, 2010 at 15:11:06
    using Firefox 3.5.7 on Gentoo

    uname,
    di Arch Wiki lengkap banget. :) Memang belum semua di-bahasa-Indonesia-kan. Cek juga di Pendapat saya tentang Arch (ada pranala ke panduan pemula Arch-bahasa Indonesia dan milis Arch ID). :)

    Untuk wifi, cek di Broadcom BCM 4312 di Arch Wiki.

  14. Comment by uname on January 16, 2010 at 16:04:23
    using Firefox 3.5.6 on Mandriva 2010.0

    makasih mas, langsung ke TKP :ngacir
    besok kalo ada masalah mampir sini lagi.. :)

  15. Comment by uname on January 17, 2010 at 16:52:55
    using Firefox 3.5.6 on Mandriva 2010.0

    Tanya lagi mas..kalo mau bikin repo lokal, donlot paket2nya dimana ya?

  16. Comment by Dani Iswara on January 17, 2010 at 17:30:42
    using Firefox 3.5.7 on Gentoo

    uname,
    kalo di-googling dulu, biasanya pasti ada di ArchWiki: Local repository - HOW TO. :)

  17. Comment by uname on January 17, 2010 at 19:42:03
    using Firefox 3.5.6 on Mandriva 2010.0

    nemu di sini nih mas http://mirrors.kernel.org/archlinux/
    tapi belum nemu yang lokal :(

  18. Comment by Dani Iswara on January 17, 2010 at 20:25:26
    using Firefox 3.5.7 on Gentoo

    uname,
    maksudnya bikin repo lokal atau unduh dari mirror lokal? Kalo mirror lokal, kan ada di tulisan di atas. Di Univ. Jember ada mirror Arch yang lokal. Di kavalinux juga ada. Entah mana yang lebih terawat. Cek seperti cara di atas. Mana yang tercepat, terstabil, dan ter-update. :)

  19. Comment by uname on January 18, 2010 at 07:22:17
    using Opera Mini 4.2.13221 on J2ME/MIDP Device

    Bikin repo lokal.jd paketnya dDonlot dulu ke HD.installnya sewaktu waktu..kemarin bis update paket core,donlot dari kernel.org..unej masih main tenis mas :D ..kavalinux?ntar dicoba.nuwun..

  20. Comment by Dani Iswara on January 18, 2010 at 07:39:09
    using Firefox 3.5.7 on Gentoo

    uname,
    maaf, saya yang salah mengerti. :)
    Saya juga awalnya install offline. Mirip seperti Gentoo. Unduh dulu paketnya, install kemudian offline sesuai petunjuk. Di Arch jauh lebih sederhana dan cepat caranya.

    Enakan pingpong atau squash sekalian aja. :D

Sorry, for some reasons (sometimes due to sp*ms attack), the comment form is closed at this time. If You have any suggestions, please contact me. Thank you.

Dani Iswara .Net

Return to TOP
›› Older entries: Hendaya Kognitif Mengakses Web
‹‹ Newer entries: Electronic Health Records in Small Ambulatory Practices