Adakah Teknik Menulis di Weblog versi Jurnalis?
February 5, 2010 – 10:23 by Dani Iswara. Words count: 277.Last updated: Monday, February 8, 2010 at 11:04.
Saat membaca beberapa surat kabar nasional edisi cetak, saya berharap menemukan sesuatu yang bisa dijadikan panutan. Benar, siapa saja bisa menulis. Tapi media massa tertentu punya aturan tersendiri. Saringannya bisa meliputi kekhususan topik, aktualitas, orisinalitas, bahasa, ejaan, dan sebagainya.
Kemampuan (teknik) menulis bersumber dari latihan menulis. Sederhana memang. Bisa dimulai dengan belajar menulis, latihan membaca, membuka wawasan, melatih kepekaan sosial, mengasah naluri, menyalurkan inspirasi, hingga sekadar menemukan ide awal dan berikutnya. Menulis juga seni. Ada cita rasa di dalamnya. Normatif lainnya, ada etika blog. Minimal jujur dan menghargai (karya) orang lain.
Saya pernah bertanya ke rekan Anton Muhajir, seorang jurnalis. Jika di media massa versi cetak ada proses penyuntingan, apakah demikian juga dengan tulisan yang dipublikasikan di situs media massa versi daring? Apakah versi cetak itu disalin begitu saja tanpa penyuntingan ke versi daringnya? Ada beberapa sekolah dan kursus menulis daring. Apakah ada penekanan tertentu terkait media massa versi daring? Karena sifat dokumen Web yang berbeda dengan versi cetak.
Setidaknya saya melihat ada beberapa struktur dokumen Web yang nampaknya luput dari proses penyuntingan, misalnya penulisan/pemakaian:
- Struktur judul (h1), subjudul (h2), anak subjudul (h3).
- Teks dengan cetak miring (<em>), tebal (<strong>) yang lebih bermakna semantik.
- Urutan atau daftar (<ul>, <ol>, <li>).
- Tautan atau pranala yang deskriptif.
- Kuotasi (<blockquote>).
- Teks alternatif pada berkas multimedia (gambar, video, audio).
Benar, tidak semua penulis konten memiliki akses ke templat atau memahami penulisan kode X/HTML dan CSS. Selebihnya sempat tertulis di Aksesibilitas Web oleh Penulis Konten (Dani Iswara .Net).
Saya berharap situs media massa versi daring juga bisa dijadikan contoh yang baik. Bukan hanya versi cetaknya. Kuncinya pada aksesibilitas, kebergunaan/usability dan best practice.