Kamera Digital Saku untuk Dokter Kulit dan Estetika

Posted: May 20, 2010 at 01:59:39 by Dani Iswara. Words count: 856.
Last updated: July 15, 2010 at 09:31:03.

Dokter spesialis kulit-kelamin dan estetika umumnya rutin memakai citra digital dalam praktiknya. Baik dengan bantuan kamera saku digital atau sistem pencitraan elektronik yang lebih canggih lagi. Fotografi digital tentu akan banyak membantu dalam pencitraan di bidang kedokteran atau 'medical imaging'. Di mana peran teknologi pencitraan dalam kedokteran kulit (dermatologi) dan estetika?
  1. Dokumentasi kelainan kulit. Untuk ditampilkan di layar komputer dengan pembesaran/'zoom' tertentu atau sekadar pelengkap berkas presentasi.
  2. Membandingkan perkembangan perawatan kulit (sebelum dan sesudah terapi).
  3. Edukasi pasien.
  4. Telemedisin atau konsultasi medis jarak jauh (Dani Iswara .Net).
Untuk kebutuhan tertentu, kamera digital jenis seperti apa yang berpeluang memberi hasil gambar/foto lebih maksimal?

Kebutuhan penggunaan

Seperti apa kebutuhan pemakaiannya? Berikut ini beberapa pertanyaan yang terkait:
  1. Berapa dana yang dianggarkan?
  2. Hanya untuk praktik, bukan hobi?
  3. Mudah dibawa saat beraktivitas mobil?
  4. Lebih diutamakan untuk memotret objek diam dan jarak dekat?
  5. Tidak perlu banyak olah digital?
  6. Lebih banyak dipakai di dalam ruangan?
  7. Perlu fitur setelan manual?
  8. Punya pengalaman dengan merek favorit?
Saya bukan fotografer. Pun bukan pengguna aktif kamera digital. Saya pun bertanya. Untuk memenuhi kebutuhan di atas, haruskah memilih kamera digital 'single-lens reflex' (D-SLR)? Jika mempertimbangkan kualitas foto hingga yang lebih detail, apalagi objek bergerak, mungkin kamera digital SLR dengan pelbagai aksesorisnya layak jadi pilihan. Jika pertimbangan biaya dan kepraktisan pemakaian, kamera saku digital pun sudah lebih dari cukup. Tujuan utamanya hanya untuk menangkap gambaran terkait kelainan/lesi kulit sejelas-jelasnya. Di luar kemampuan kamera mikroskopik.

Teknik dasar fotografi digital tetap dibutuhkan

Kebanyakan fotografer mungkin akan menjawab semua kebutuhan di atas dengan kalimat: tergantung the man behind the camera. Tidak cukup hanya dengan kamera digital yang canggih. Teknik dasar fotografi digital tetap dibutuhkan. Untuk kebutuhan dermatologi, teknik fotografi digital makro--moda macro ditandai dengan simbol universal bunga tulip--menjadi lebih banyak diperlukan. Apalagi posisi kamera dan objek/kulit pasien akan menjadi sangat dekat. Hingga sekitar 0-5cm. Itu pun jika fasilitas pembesaran/'zoom' optikal dianggap belum cukup. Pencahayaan alami yang adekuat pun relatif berkurang. Pemakaian 'flash' bawaan kadang menyebabkan hasil foto terlalu terang. Sehingga malah mengaburkan detail penting yang ditargetkan. Sumber cahaya eksternal lain mungkin dibutuhkan. Hingga pengambilan sudut tertentu/obliq jika jaraknya sangat dekat. Untuk mengatasi kualitas foto yang kurang fokus akibat goyang, ada baiknya posisi objek dan kamera dalam kondisi statis, diam, atau tersangga. Misalnya dengan bantuan penyangga dagu (untuk foto wajah) dan tripod. Disarankan juga untuk memakai alas atau latar warna biru atau hijau agar hasil foto tampak tidak banyak distraksi. Khusus dermatologi, sudut pandang foto biasanya diambil dari pelbagai sisi.
  1. Pengambilan vertikal yang menggambarkan distribusi lesi.
  2. Pengambilan jarak menengah yang menunjukkan susunan dan konfigurasi lesi secara lokal. Bila perlu, sertakan tanda khas lokal bagian tubuh. Misalnya untuk objek lesi di pipi, tampakkan sebagian telinga atau mata kanan/kiri. Objek kelainan kulit di perut, tampakkan pula pusar.
  3. Pengambilan jarak dekat/'close-up' atau moda 'macro'.

Subjektivitas, merek dan 'tone' hasil foto

Mungkin ada pengguna yang beranggapan beberapa kamera digital merek Canon, umumnya memiliki 'tone' yang relatif lebih halus ('digitalize') dibanding Nikon yang lebih 'mentah', atau malah beranggapan sebaliknya. Ada juga yang menyebut kualitas foto kamera digital Fuji belum tertandingi. Tapi itu mungkin hanya persepsi pribadi, subjektif sekali. Lalu, apakah kualitas lensa tertentu, misal Leica, relatif lumayan lebih baik dibanding Carl-Zeiss, Schneider, atau lainnya?

Bacaan tambahan

Situs seputar tinjauan/'review' kamera digital yang terpercaya di dunia internasional:
  1. Digital Photography Review.
  2. The Imaging Resource.
Beberapa situs komunitas dan blog berbahasa Indonesia yang mengulas teknik dan bahasan fotografi:
  1. Fotografer .Net.
  2. Enche Zein Tjin.
  3. Anak Agung Putra Munchana (BliGungTra).
  4. Dunia Digital.
Beberapa pengguna mungkin menganggap kemampuan macro 5-10cm yang umumnya tersedia di kebanyakan kamera saku digital saat ini sudah cukup. Kembali pada kebutuhan dan kemampuan sumber daya manusianya mengoptimalkan kinerja alat bantu/kamera digital. Contoh kali ini hanya menyajikan kamera saku digital-kompak, bukan 'bridge'/'hybrid'/'prosumer', dengan rentang macro/super macro 0-3cm. Resolusi 10 Megapixel ke atas yang makin umum saat ini. Dan harga di bawah 4 juta rupiah. Di atas harga itu, sayang, sekalian saja yang D-SLR. Untuk harga, tanyakan garansi distributor resmi atau hanya garansi toko. Harga tercantum adalah hasil penelusuran di beberapa toko kamera digital di Denpasar dan situs dalam jaringan/daring/'online' (di bawah) per bulan Mei 2010.
  1. Canon Ixus 100 IS/PowerShot SD780 IS (nama lainnya) di kisaran harga 1,7 juta.
  2. Canon Ixus 105/PowerShot SD1300 IS (1,8 juta).
  3. Canon Ixus 130/PowerShot SD1400 IS (2,7 juta).
  4. Canon PowerShot D10 (2,9 juta).
  5. Canon PowerShot SX120 IS (2,5 juta).
  6. Nikon Coolpix S620 (1,9 juta).
  7. Nikon Coolpix S630 (2,1 juta).
  8. Nikon Coolpix S640 (1,9 juta).
  9. Nikon Coolpix S6000 (2,5-2,7 juta).
  10. Nikon Coolpix S8000 (2,7-2,8 juta).
  11. Nikon Coolpix S1000pj (3,4-3,6 juta).
  12. Nikon Coolpix S70 (3 juta).
  13. Olympus FE-46 (1 juta).
  14. Olympus FE-5020 (1,4 juta).
  15. Seri-seri Olympus μ-3000 hingga μ-9010 (sekitar 2,1-3,4 juta).
  16. Panasonic Lumix DMC-ZR1/ZX1 (2,3-2,75 juta).
  17. Panasonic Lumix DMC-ZR3/ZX3 (2,75-3,3 juta).
  18. Panasonic Lumix DMC-ZS3/TZ7 (2,9-3,4 juta).
  19. Panasonic Lumix DMC-ZS7/TZ10 (3,75-3,95 juta).
  20. Panasonic Lumix DMC-LX3 (3,8-3,9 juta).
Bandingkan tiap kamera digital dengan fasilitas Compare Side by Side - DPreview.com. Periksa kembali spesifikasi macro yang ada. Bila perlu/boleh, coba langsung di tempat/toko. Toko kamera digital daring di Indonesia yang menarik ditelusuri (harga di atas dikutip dari situs berikut):
  1. Jakarta Photography Centre (JPCKemang).
  2. Toko CamZone.
Telusuri juga spesifikasi tiap kamera digital di situs resmi masing-masing. Beberapa toko daring biasanya tidak jujur mencantumkan sumber valid spesifikasi yang dicantumkan. Tulisan ini tidak mengandung unsur afiliasi dengan pihak manapun. Referensi:
  1. Kaliyadan F, Manoj J, Venkitakrishnan S, Dharmaratnam AD. Basic digital photography in dermatology. Indian J Dermatol Venereol Leprol [serial daring] 2008 [disitasi 2010 May 20];74:532-6. Tersedia di: http://www.ijdvl.com/text.asp?2008/74/5/532/44334.
  2. Ashish CB, Robert TB, Mikhenan MH. Digital Photography. EMedicine Dermatology [serial daring] 2008 [disitasi 2010 May 20]. Tersedia di: http://emedicine.medscape.com/article/1131303-overview.
Just unessential weblog
Dani Iswara, mail me: [myfirstnamelastname]@gmail.com.

You are free to share (copy, distribute, transmit) & adapt this blog post under the similar license (Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported; CCA-NC-SA 3.0 Unported). Please put these links on your copy:
Taken from: Kamera Digital Saku untuk Dokter Kulit dan Estetika by Dani Iswara.

Unimportant Related/Random Posts

You may also read list of most popular posts and most popular tags of Dani Iswara .Net.

Sorry, for some reasons (sometimes due to sp*ms attack), the comment form is closed at this time. If You have any suggestions, please contact me. Thank you.

Dani Iswara .Net

Return to TOP
›› Older entries: Membuat Web Lebih Sehat, Membuat Sehat Via Web
‹‹ Newer entries: Konferensi - Forum Informatika Kesehatan Indonesia 2010